Marhaban ya Ramadhan

27 Mei 06:59 | Dilihat : 826
Marhaban ya Ramadhan Ilustrasi

Sebagian para ulama mengatakan,

السنة مثل الشجرة و شهر رجب أيام توريقها و شعبان أيام تفريعها و رمضان أيام قطفها و المؤمنون قطافها جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر و بمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر

“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syaban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tersebut.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 130.)

Jangan lupa, selalu perbarui taubat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi: 2499)

Taubat menunjukkan tanda totalitas seorang dalam menghadapi Ramadhan. Dia ingin memasuki Ramadhan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang akan memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadhan.

Allah Ta'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat, karena taubat wajib dilakukan setiap saat.

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١)

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur: 31).

Ramadhan pintu gerbang para pendosa yang ingin bertaubat, jangan kehilangan kesempatan ini, wahai hamba Allah yang senantiasa berselimut dosa marilah bertaubat selagi nafas masih ada.

عنْ أبى هريْرة رضي اللّه عنْه قال: سمعْت النّبي صلّى اللّه عليْه وسلّم قال: إنّ عبدا أصاب ذنْبا – وربما قال: أذْنب ذنْبا – فقال: ربّى أذْنبْة – وربّما قال: أصبْة – فاغْفرْلى. فقال ربّه: أعلم عبدي أنّ له ربّا يغْفر الذّنْب، ويأْخذ به؟ غفرْت لعبْدي. ثمّ مكث ما شاء اللّه ثمّ أصاب ذنْبا – أوْ: أذْنبا ذنْبا-فاقل: ربّى، أذْنبْة – أوْ أصبْت آخر، فاغْفرْه. فاقل: أعلم عبْدي أنّ له ربّا يغْفر الذّنب، ويأْخذ به؟ غفرْت لعبْدي ثلاثا، فلْيعْمل ما شاء
(رواه البخري)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang terperosok suatu dosa (atau berkata: berbuat dosa) lalu ia berkata: ‘Wahai Rabbku, aku telah berbuat dosa (atau beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, ‘Aku telah terperosok ke dalam suatu dosa’), oleh karenanya ampunilah aku.’

Maka Rabb-nya berfirman: “Apakah hamba-Ku mengetahui kalau dia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa dan menghapuskannya? Aku telah mengampuni hamba-Ku. Lalu hamba tersebut berhenti (dari berbuat dosa) beberapa waktu, sekehendak Allah, kemudian dia melakukan dosa lagi (atau berbuat dosa lagi). Ia berkata lagi, ‘Wahai Rabbku, aku telah berbuat dosa (atau melakukan dosa lain), maka ampunilah dosaku.’
Maka Allah berfirman: “Apakah hamba-Ku mengetahui kalau dia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa atau mengadzabnya (karena dosanya)? Aku telah mengampuni hamba-Ku tiga kali, kemudian silahkan dia berbuat sesukanya.”
(HR. Bukhari)

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar