Beginilah Cara Masuk Surga Tanpa Hisab

Sabtu, 29 Oktober 2016 - 08:38 WIB | Dilihat : 4082
Beginilah Cara Masuk Surga Tanpa Hisab Ilustrasi pasukan Islam
Meraih mati syahid adalah dambaan setiap Muslim. Mati syahid atau masuk dalam golongan syuhada ialah puncaknya husnul khatimah, meninggal dunia dalam kebaikan. Tetapi dalam ajaran Islam, golongan syuhada sendiri memiliki banyak tingkatan, seperti halnya mati syahid, ada syahid akhirat dan ada syahid dunia-akhirat. 
 
Syahid akhirat misalnya orang-orang yang mati karena mempertahankan hartanya, keluarganya, wanita yang meninggal ketika melahirkan, orang beriman yang mati karena wabah, orang yang meninggal ketika menuntut ilmu, orang yang meninggal saat berhaji dan masih banyak yang lainnya. Orang yang syahid dunia-akhirat ialah orang yang meninggal ketika berjihad di jalan Allah, baik saat kecamuk perang, ekspedisi perang, ribath dan hal-hal yang terkait dengan jihad fii sabilillah. 
 
Puncak dari semua mati syahid ialah syahid dunia-akhirat sedangkan syahid dunia-akhirat tingkatan tertinggi ialah mereka yang diberikan hak khusus oleh Allah masuk surga tanpa hisab saat mati ketika berjihad. 
 
Beberapa hadits berstatus shahih dan hasan membahas hal ini. Dalam musnad Ahmad bin Hanbal, hadits ke 23.139: “Telah menceritakan pada kami Abdullah, telah menceritakan pada ku ayahku, telah menceritakan pada kami Hakam bin Nafi’, telah menceritakan pada kami Ismail bin Ayyasy dari Bahiri bin Sa’d dari Kholid bin Ma’daan dari Katsir bin Murroh dari Nu’aim bin Hammar bahwasannya ada seorang lelaki bertanya pada Rasulullah saw, “Siapakah syuhada yang paling utama?”, Rasulullah menjawab: “Yaitu orang-orang yang jika telah masuk dalam barisan perang, mereka tidak menolehkan wajah mereka hingga mereka terbunuh. Mereka itulah yang berada di tingkatan paling tinggi dalam surga. Dan Tuhanmu tersenyum pada mereka, apabila Tuhanmu tersenyum pada seorang hamba di dunia, maka tidak ada hisab (perhitungan di akhirat) baginya.” (HR Ahmad, No. 23123) 
 
Dalam musnad Abu Ya’la:
 
أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم وَجَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ أَيُّ الشُّهَدَاءِ أَفْضَلُ؟ قَالَ الَّذِينَ يُلْقَوْنَ فِي الصَّفِّفَ لايَقْلِبُونَ وُجُوهَهُمْ حَتَّى يُقْتَلُوا،أُولَئِكَ يَتَلَبَّطُونَ فِي الْغُرَفِ الْعُلْيَا مِن الْجَنَّةِ يَضْحَكُ إِلَيْهِمْ رَبُّكَ، وَإِذَا ضَحِكَ فِي مَوْطِنٍفَ لاحِسَابَ عَلَيْهِ
 
Hadits dari Na’im bin Hammar Al-Ghothfani. Telah menceritakan pada kami Daud bin Rusyaid, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayyas, dari Bahir bin Sa’d, dari Kholid bin Ma’daan, dari Katsir bin Murroh, dari Na’im bin Hammar, bahwasannya dia mendengar seorang lelaki mendatangi Nabi saw, dan bertanya “Siapakah syuhada yang paling utama?” Nabi saw menjawab: “Yaitu orang-orang yang jika telah masuk dalam barisan perang, mereka tidak membalikkan (mengalihkan) wajah mereka hingga mereka terbunuh. Mereka itulah orang-orang yang berlari ke tingkatan paling tinggi dalam surga, Tuhanmu tersenyum pada mereka, dan apabila Dia tersenyum dalam berkecamuknya perang maka tidak ada hisab padanya.” (HR Abu Ya’la, Hadits Na’im bin Hammar)
 
Masih diriwayatkan Abu Ya’la, dari Na’im bin Hammar, bahwasannya dia mendengar seorang lelaki mendatangi Nabi saw, dan bertanya “Siapakah syuhada yang paling utama?” Nabi saw menjawab: “Yaitu orang-orang yang jika telah masuk dalam barisan perang, mereka tidak membalikkan (mengalihkan) wajah mereka hingga mereka terbunuh. Mereka itulah orang-orang yang berlari ke tingkatan paling tinggi dalam surga, Tuhanmu tersenyum pada mereka, dan apabila Dia tersenyum dalam berkecamuknya perang maka tidak ada hisab padanya.” (HR Abu Yala, No. 6855) Husain Saliim Asd berkata: Isnadnya (sanadnya) baik.
 
Hadits ini shohih dari segi kualitas karena sanadnya jaid (baik) dan dari segi periwayatan hadits ini Al-Ghorib karena hanya Na’im bin Hammar yang meriwayatkan serta banyak rawi yang sama antara imam Ahmad dan Abu Yala.Begitu juga dalam kitabnya yang lain Abu Ya’la meriwayatkan hadits yang sama hanya bernomor hadits berbeda. Sekalipun demikian, haditsnya ini shahih dan bisa dijadikan hujjah, serta isinya pun tidak bertentangan dengan aqidah Islam karena syahid tingkatan tertinggi memang ketika berperang. Demikian yang dialami oleh para sahabat Rasulullah yang syahid di perang Uhud seperti Mushab bin Umair atau syuhada perang Mu’tah seperti Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah. Mereka adalah para syuhada di medan perang yang sebelum terbunuhnya berperang dengan gagah berani.
 
Dari sinilah kita dapat mengetahui bahwa yang menjadi syuhada saat berperang di jalan Allah pun memiliki tingkatnya sendiri-sendiri. Ada pun yang diriwayatkan hadits ini ialah syahid dalam tingkat tertinggi. Allah sampai tersenyum dan sangat mencintai syuhada yang masuk dalam barisan perang yang tidak menoleh serta tidak membalikan wajah mereka. Maksudnya dikarenakan sangat beriman dengan janji Allah, mereka berperang dengan berani tanpa terlihat takut sedikit pun, karena biasanya kalau orang takut saat sedang kecamuk perang, sekalipun secara psikis hal yang wajar, maka ia akan menolehkan wajahnya ke mana-mana baik mencari-cari temannya maupun mencari cara menjauhi musuh. Tetapi syuhada dalam tingkatan seperti ini benar-benar mencintai Allah dan sangat ingin mati syahid. 
 
Para mujahidin yang tidak menolehkan wajahnya, tidak ragu atau tidak gentar menghadapi musuh-musuh Islam di medan perang, bila ia sampai terbunuh akan mendapat senyum (tawa) dari Allah ‘azza wa jalla. Mujahid dan syuhada seperti ini masuk dalam tingkatan surga tertinggi sesuai janji dari Rasulullah saw.
 
Keistimewaan lain yang tiada taranya, mujahidin dan syuhada yang memiliki keimanan sekaligus keberanian seperti ini di akhirat kelak tidak akan dihisab, maka ia masuk surga tanpa hisab karena masuk dalam barisan orang-orang yang sangat bertawakkal kepada Allah. Keutamaan mujahid dan syuhada ini bahkan disetarakan dengan 70000 orang istimewa yang kelak akan diberi jaminan masuk surga tanpa hisab sesuai dengan hadits shahih perihal adanya 70000 orang bertawakkal dalam hidupnya, yang dijanjikan masuk surga tanpa hisab.
 
Selain manfaat di akhirat, manfaat di dunia bagi yang melakukan jihad semacam ini ialah, orang tersebut akan menjadi teladan berperang dan berjuang di jalan Allah untuk mujahidin-mujahidin generasi muda. Tidak boleh dilupakan, bahwa banyak hadits yang menyatakan surga memiliki tingkatan-tingkatan, sedangkan mujahidin dan syuhada termasuk berada di tingkatan paling tinggi. Oleh karena itu, bagi mereka yang ingin merealisasikan jihad hendaknya mentadaburi dan merenungi secara mendalam beberapa hadits ini. Wallahu’alam.
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
 
0 Komentar