Meninggalkan Jihad Sebabkan Kehinaan bagi Kaum Muslimin

Kamis, 27 Oktober 2016 - 21:32 WIB | Dilihat : 4447
Meninggalkan Jihad Sebabkan Kehinaan bagi Kaum Muslimin Ilustrasi jihad
 
ِاذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ ، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُم
 
Hadits dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam dan kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah akan kuasakan/timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut/dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Dawud no. 3003 dalam kitab Al Buyu’, bab An-Nahyu ‘anil ‘Inah;  Musnad Ahmad Jilid 2/28)
 
Sabda Nabi SAW: “Jika kalian telah sibuk memegang ekor-ekor sapi” merupakan kinayah atau kiasan, tersibukkannya seseorang dengan membajak ladang dan beternak (salah satu sarana penghidupan di masa beliau) sehingga lalai untuk berjihad di jalan Allah. “Telah senang dengan bercocok tanam” merupakan kinayah tentang keberadaan mereka yang menjadikan bercocok tanam sebagai ambisi dan perhatian utama, seolah-olah mencari nafkah, bertani dan berladang merupakan orientasi utama kehidupannya. “Dan kalian telah meninggalkan jihad” maksudnya enggan berperang di jalan Allah. Maka Allah pasti akan menguasakan orang-orang kafir atas kalian, menimpakan kaum Muslimin dengan kehinaan, izzah kaum Muslimin terlecehkan, karena tidak mau atau begitu enggan berperang di jalan Allah. 
 
Jihad yang dimaksud dalam Rasulullah SAW ini merupakan jihad dalam istilah syar’i bukan istilah bahasa. Adapun maksud ucapan Rasulullah, menurut Imam Shan’ani, “hingga kalian kembali kepada agama kalian” adalah kalian kembali menyibukkan diri dengan amalan-amalan agama  (Subulus Salam, 3/64), kehinaan kaum Muslimin sendiri berawal dari meninggalkan jihad fii sabilillah atau perang di jalan Allah. Seolah-olah simbol amalan-amalan agama Islam adalah jihad. Bahkan sudah maklum diketahui bahwa puncaknya amal Islam adalah jihad, jihad merupakan mahkota Islam.
 
Atsar terkenal dari sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, "Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fie sabilillah melainkan Allah hinakan mereka, dan tidaklah suatu kaum meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar melainkan Allah ratakan azab atas mereka.” (HR Said bin Mansur di dalam Syifaa’ ash Shuduur). “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fii sabilillah, kecuali Allah timpakan kefakiran kepada mereka” (HR Ibn Syakir)
 
Dahulu masa kejayaan Islam dari masa Rasulullah hingga Turki Utsmani, kegiatan umat selalu diisi dengan jihad dan futuhat, memang ada kalanya kaum Muslimin kalah ketika jihad tidak menemui kondisi keislamannya yang ideal, namun kemenangan demi kemenangannya jauh lebih banyak diraih kaum Muslimin dengan jihad. Singkatnya kaum Muslimin dipertuan agungkan di muka bumi oleh seluruh bangsa dan peradaban tidak lain dan tidak bukan karena jihad.
 
Bahkan jihad kaum Muslimin mendahului puncak-puncak keemasan intelektual dan penemuan sains Islam di masa Bani Abbas, Bani Mamluk dan Turki Utsmani. Jika tidak ada panglima-panglima semacam Abu Ubaidah, Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Yazid dan Muawiyah bin Abi Sufyan, Qa’qa bin Amr, maka tidak ada peradaban keilmuwan Islam di masa Bani Umayyah dan Bani Abbas di Syam maupun Iraq. Jika tidak ada Musa bin Nushair dan Tariq bin Ziyad maka tidak ada peradaban Andalusia yang gemilang itu.
 
Al-Qur’an menyebutkan:  “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan mengganti keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)
 
Beriman dan bertaqwa dengan sebenar-benarnya, serta mengerjakan amal shalih dalam komitmen Islam akan berkonsekuensi menegakan jihad fii sabilillah tanpa terkecuali, khususnya bagi laki-laki. Di sinilah jihad menemui momentumnya. Puncak keimanan dan ketaqwaan sendiri berkonsekuensi salah satunya pada pengamalan jihad, puncak keimanan dan ketaqwaan bisa diraih saat seorang hamba Allah berada di medan pertempuran meninggikan kalimatNya. Sedangkan amal shalih Islam sendiri berpuncak pada jihad. Oleh karena itu makin besar keimanan, ketaqwaan dan semangat beramal shalihnya pasti akan membuat seseorang berupaya merealisasikan jihadnya dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Umat Islam kini, jika ingin memuncaki peradaban dunia dan dipertuan di muka bumi lagi, kuncinya hanya dengan jihad.
 
Jihad merupakan penawar dan obat bagi penyakit Wahn yang melanda umat Islam, yang dikatakan dalam hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud: umat Islam dikerebuti orang kafir layaknya anjing berebut makanan serta lemahnya umat Islam bagaikan buih di lautan, banyak orang Islam tapi tak berdaya melawan orang kafir, sebabnya karena penyakit Wahn itu, Wahn sendiri dimaknai Nabi SAW sebagai “cinta dunia dan enggan berperang”, atau “cinta dunia dan takut mati syahid dalam membela agama.” Maka tinggal pilihan kita, akankah memilih ‘obatnya’ ataukah memilih terus-menerus dijangkiti Wahn.
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
 
0 Komentar