Membangun Kekuatan Iman kepada Allah, Rasul dan Al Qur'an

Senin, 13 Mei 2013 - 05:41 WIB | Dilihat : 15111
Membangun Kekuatan Iman kepada Allah, Rasul dan Al Qur'an

Bumi berputar pada porosnya sehari sekali sekaligus berjalan pada orbitnya mengelilingi matahari setahun sekali. Sedang Bulan mengelilingi bumi selama 29-30 hari. Makanya satu kali peredaran bulan terhadap bumi biasa disebut sebulan. Fenomena sistem benda angkasa atau yang lebih dikenal dengan sistem tata surya inilah yang menyebabkan ada malam dan siang, juga purnama dan bulan sabit, serta ada gerhana matahari dan bulan. Masih banyak fenomena lainnya yang belum diketahui manusia. Seharusnya fakta-fakta yang terjadi di alam semesta seperti ini menjadikan bahan perenungan bagi manusia di bumi ini. (lihat QS. Ali ‘Imron 190)

Tata surya yang ada mempunyai sistem yang sangat sempurna tersebut pastilah ada yang mengatur. Yaitu Allah SWT. Tuhan Maha Pencipta dan Maha Pengatur alam semesta ini. Oleh sebab bumi merupakan bagian dari alam semesta sudah tentu kehidupan manusia di bumi juga diatur oleh Allah SWT. Dia Tuhan Yang Mahatahu dengan segala sesuatu tentang makhlukNya. Termasuk segala permasalahan yang meliputi manusia. Karena memang manusia lemah dan terbatas pengetahuannya tentang kehidupannya sendiri. Dan ingat! Manusia memiliki naluri-naluri yang apabila diatur manusia sendiri dalam pemenuhannya, maka yang terjadi kerusakan dan kehancuran. Untuk itu Allah SWT menurunkan petunjuk atau peraturan hidup manusia di bumiNya. Bagaimana mengetahui dan meyakini aturan mana atau sistem hidup mana yang layak bagi manusia di bumi ini dan benar-benar dari Sang Pencipta?

Iman Kepada Kitabullah
Allah SWT menurunkan wahyu, berupa kitab dan apa yang difirmankan-Nya kepada beberapa Rasul berupa shuhuf (lembaran). Kitab-kitab besar berasal dari firman Allah SWT, seluruhnya berjumlah empat kitab suci, yakni Az-Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud AS; At-Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS; dan Injil diturunkan kepada hamba Allah dan Rasul-Nya, Isa AS. Dan yang terakhir Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir yaitu Muhammad SAW;

Sementara itu, firman Allah SWT dalam bentuk lain, yakni berupa lembaran-lembaran lain, misalnya apa yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim AS. Di antara kitab-kitab besar tersebut hanyalah Al-Qur’an yang dipelihara oleh Allah SWT dan sekaligus berfungsi sebagai penghapus syari’at-syari’at Nabi dan Rasul sebelumnya.

Allah SWT befirman:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an. Dan sesungguhnya, kami memeliharanya.” (QS. Al Hijr: 9)               

Dan dalam surat yang lain Allah SWT berfirman:
“(Dan) Kami telah turunkan Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang turun sebelumnya) dan sebagai standar terhadap kitab-kitab tersebut. Maka, putuskanlah perkara mereka menurut (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 48)   

Keyakinan terhadap kitab-kitab Allah harus mempunyai sandaran yang berasal dari pemahaman dalil aqli dan naqli. Al-Qur’an adalah suatu kenyataan yang bisa dijangkau oleh panca indera. Oleh sebab itu hal ini bisa ditelusuri serta dibuktikan sehingga memperkuat bangunan keimanan seseorang. Secara dalil aqli apabila terpuaskan, apalagi dengan dalil naqli tak akan lagi ada keraguan sedikitpun dan sangat kuat di dalam diri seseorang.

Al Qur’an sangat berbeda dengan kitab besar yang telah disebutkan sebelumnnya. Selain dipelihara dan dijaga oleh Allah SWT., kitab ini bisa dibuktikan secara aqli bahwa memang benar-benar wahyu dari Tuhan Semesta Alam. Tidak seperti kitab-kitab samawi lainnya yang tidak bisa dibuktikan secara aqli oleh pengikut Nabi yang membawanya. Dan tidak menjadikannya (At-Taurat atau Injil) sebagai bukti tentang kenabiannya. Meskipun demikian, kita wajib mengimaninya bahwa kitab-kitab tersebut memang pernah diwahyukan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul terdahulu, baik yang diberitakan dalam Al-Qur’an maupun yang tidak diberitakan.

Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab-kitab yang telah Allah turunkan sebelumnya. Siapa saja yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-KitabNya, Rasul-Rasul-Nya dan hari kiamat, maka sesungguh-nya orang tersebut telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 136)  

Al Qur’an Kalamullah
“Kitab (Al-Qur’an) ini, tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 2) 

Apabila kita bisa membuktikan bahwa Al Qur’an benar-benar wahyu Tuhan Sang Pencipta alam semesta secara aqli, maka kita akan dapatkan keyakinan yang sungguh sempurna. Bersatu dengan perasaan dan hati sehingga merasuk dalam diri kita. Maka ayat suci di atas tidak hanya dibaca tetapi benar-benar dan serius dijadikan pandangan hidup manusia yang berakal.

Al Qur’an diturunkan kepada hambaNya yang terpilih menjadi RasulNya Muhammad SAW. Kitab yang berbahasa Arab ini dipastikan dan benar-benar wahyu Allah SWT.  Ada tiga kemungkinan yang membuktikan hal tersebut. Pertama, Kitab Al Qur’an adalah karangan orang Arab. Yang kedua, Al Qur’an adalah karangan Muhammad SAW. Sedangkan yang ketiga, Al Qur’an benar-benar berasal dari Allah SWT. Dan tidak ada lagi kemunggkinan selain tiga kemungkinan tersebut. Sebab, Kitab Al Qur’an berciri khas Arab baik dari segi bahasa maupun gayanya.

Kemungkinan pertama bahwa Al Qur’an adalah karangan orang Arab merupakan hal yang sangat tidak mungkin. Sebab Al Qur’an telah menantang orang-orang Arab untuk membuat karya seperti Al Qur’an. Seluruh orang Arab berupaya sangat keras untuk membuatnya. Bahkan para ahli syair Arab mencoba semaksimal mungkin. Ternyata, mereka tidak mampu menandinginya bahkan satu surat saja mereka tidak bisa!. Fakta tantangan Allah SWT terhadap orang-orang Arab bisa kita lihat dalam firman-Nya:

“Katakanlah: Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya” (QS. Hud:13)

“Katakanlah: (Kalau benar apa yang kamu katakan), Maka cobalah datangkan sebuah surat yang (dapat) menyerupainya” (QS. Yunus:38)

Kesimpulannya orang-orang Arab tidak bisa menjawab tantangan tersebut berarti Al Qur’an memang bukanlah karangan orang Arab walaupun Al Qur’an berbahasa Arab.

Sementara kemungkinan yang kedua kalau Al-Qur’an karangan Muhammad SAW. juga merupakan hal yang tidak logis. Sebab Beliau saw. orang Arab juga. Betapapun jeniusnya Beliau saw. tetap seorang manusia yang menjadi salah satu anggota masyarakat dan bangsanya. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa seluruh bangsa Arab tidak mampu membuat surat yang menyamai Al Qur’an. Itu berarti pula Muhammad saw. juga tidak mampu karena Beliau saw. juga termasuk orang Arab. Artinya, jelas sudah bahwa Al Qur’an bukan karangan Muhammad saw. Fakta tersebut diperkuat dengan adanya hadits-hadits shahih yang terucap juga lewat mulut beliau saw. —malah sebagian diriwayatkan lewat cara tawatur— yang kebenarannya tidak disangsikan lagi. Dan jika dibandingkan setiap hadits tersebut dengan Al Qur’an, maka tidak didapati adanya kemiripan dari segi bahasanya. Padahal dalam waktu yang bersamaan Beliau saw membacakan ayat-ayat yang diterima sementara beliau saw. juga mengeluarkan hadits. Akan tetapi keduanya tetap berbeda dari segi gaya bahasanya.

Sehebat apapun seseorang membuat gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan ada kemiripan gaya bahasanya karena memang itu merupakan ciri khas bicara seseorang. Hanya orang Arab yang pastinya paling mengerti gaya dan sastra bahasa Arab. Perbedaan gaya bahasa Al Qur’an dengan hadits itulah bukti bahwa Al-Qur’an bukan perkataan atau karangan Muhammad. Dan tidak ada satupun dari mereka (orang-orang Arab) pernah menuduh bahwa Al Qur’an itu perkataan atau mirip gaya bicara Muhammad.

Justru tuduhan kepada beliau saw. ialah Al Qur’an adalah hasil saduran beliau saw. dari pemuda ajam (non Arab) yang beragama Nashrani bernama Jabr. Tuduhan tersebut ditolak olah Allah SWT dalam firmanNya:

“(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereke berkata; Bahwasanya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (ada-lah) bahasa ‘ajami (non Arab), sedangkan Al Qur’an itu dalam bahasa Arab yang jelas”.
(QS. An Nahl :103)

Terbukti sudah bahwa Al Qur’an bukan karangan orang Arab dan bukan pula karangan Muhammad saw. berarti Al Qur’an adalah kalamullah yang merupakan syari’at Allah SWT, yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya.

Oleh sebab Muhammad saw. adalah orang yang membawa Al Qur’an maka bisa diyakini secara pasti bahwa Mu-hammad saw. adalah seorang Nabi dan Rasul.

Muhammad SAW. Penutup Nabi dan Rasul

Beliau saw merupakan seorang Nabi dan Rasul yang terakhir, tidak diragukan lagi. Hal ini wajib diimani setiap muslim. Jika tidak, maka keliru dan sesatlah aqidahnya!. Allah SWT berfirman :

“Muhammad itu sekali-kali bu-kanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Mahatahu Segala Sesuatu”
(QS. Al Ahzab:40)

Ayat ini jelas bahwasanya Muhammad adalah penutup para nabi, dan itu berarti tidak akan ada nabi lagi setelah Beliau saw. Apalagi akan ada Rasul pembawa syari’at. Ini adalah kesesatan yang nyata!.

Menurut pemahaman kelompok sesat Ahmadiyah bahwa kata KHATAMU NABIYYIN pada ayat di atas diartikan cap (stempel) bagi nabi-nabi sebelumnya. Pemahaman ini sungguh keliru! Sebab menurut seorang ahli bahasa Arab Jamaluddin Muhammad Al An-shary mengatakan dalam kamusnya Lisanul Arab Juz XV hal 55 cet Mesir, bahwa kata khatam mempunyai arti yang sama dengan khatim dan khitam. Ia menulis sebagai berikut:

Khitam dari suatu kaum serta khatim dan khatamnya adalah penghabisan dari mereka. Dan Muhammad saw. adalah khitam (penghabisan/terakhir) dari segala nabi. Khatim dan Khatam adalah diantara nama (yang diberikan kepada) Nabi Muhammad saw. di dalam Al Qur’an bahwa Muhammad saw adalah “KHATIMAN-NABIYYIN” yakni penghabisan nabi (penutup) segala nabi.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Baginda Nabi saw. bersabda:
“Sesungguhnya risalah kenabian itu telah habis, maka tidak ada rasul sesudahku”. (HR. Ahmad)

Dan juga diriwayatkan oleh Bukhary, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. memberitakan:
“Tidak akan terjadi kiamat kecuali akan keluar (muncul) tukang-tukang bohong (para penipu) kira-kira 30 orang. Semuanya mengaku dirinya sebagai Rasul Allah.”

Sebenarnya apa yang ada di dalam benak mereka hingga memahami ada nabi lagi setelah Muhammad saw. Dengan dalil-dalil tersebut apakah tidak cukup mematahkan pemahaman tersebut. Bahkan mereka mengatakan ketika divonis sesat oleh kaum muslimin sampai tempatnya diserbu, “ini sudah sunnatullah, kebenaran pasti selalu ada cobaan dan ujian”. Kebenaran bukan didasarkan atas cobaan dan ujian. Memangnya kesesatan tidak mengalaminya? Kebenaran datanganya dari Allah SWT dan RasulNya. Jika tidak didasarkan pada Al Qur-’an dan As Sunnah maka kebenaran tersebut tertolak!. Meskipun demikian tidak dibenarkan memerangi mereka secara fisik. Seharusnya kita sadarkan mereka dengan cara dialog. Dalam hal ini pemerintahlah yang harus menyelesaikannya.

Oleh karena itu, dalam beragama jangan hanya menggunakan perasaan dan hati saja, tetapi lebih menggunakan akal sebagai potensi utama manusia dalam menjalani kehidupan. Berapa banyak Allah SWT menyinggung dalam firmanNya tentang penggunaan akal dalam memahami tanda-tanda kekuasaanNya hingga meyakini seratus persen adanya Allah SWT. Akan tetapi sesat kalau sampai menggunakan akal dengan berlebihan alias mengakal-akali hukum-hukum Allah SWT. Dan Janganlah akal digunakan untuk memikirkan hal-hal di luar jangkauan akal seperti, membayangkan Dzat Allah SWT, memikirkan surga dan neraka dan hal yang secara logika, akal sendiri tidak mampu. Semua itu adalah perbuatan bid’ah!. Cukup beriman saja bahwa itu memang ada.

Khatimah

Wahai kaum muslimin, keimanan tidak cukup hanya di mulut saja. Iman kepada Allah dan RasulNya serta Al Qur’an yang di dalamnya merupakan syari’at sebagai petunjuk kehidupan manusia harus diterapkan (lihat QS. Al-Baqarah: 2), maka kita menjadi orang-orang yang taqwa. 

Siapapun ia dan apapun jama’ah atau kelompok apa saja jika tidak sesuai dengan atau tidak menerapkan Al Qur’an dan As Sunnah dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini, maka ia tidak benar-benar beriman kepada Allah swt. dan RasulNya serta KitabNya Al Qur’anul Karim. Imannya hanya sampai dimulut saja, tidak menghunjam dalam hatinya.

Tidak ada penolong lagi selain Allah SWT sebagai penolong orang-orang yang beriman pada hari akhir.
Wallahu a’lam!


0 Komentar