Mengukur Cinta Seorang Hamba kepada Allah dan RasulNya

03 Februari 08:25 | Dilihat : 987
Mengukur Cinta Seorang Hamba kepada Allah dan RasulNya Ilustrasi sujud

Definisi cinta bisa berarti adalah emosi yang berasal dari kasih sayang yang kuat dan rasa tertarik terhadap suatu objek, objek yang paling tertinggi adalah Allah Ta'ala, kemudian Rasulullah, kemudian para Sahabat, baru yang lainnya (dapat berupa apa saja seperti manusia, hewan, tumbuhan, alat-alat dan lain sebagainya) dengan cenderung ingin berkorban, memiliki rasa empati, perhatian, kasih sayang, ingin membantu dan mau mengikuti apapun yang di inginkan oleh objek yang di cintainya.

Secara umun sebenarnya cinta itu sulit untuk di definisikan karena sifatnya subjektif jadi setiap individu dapat memiliki pemahaman yang berbeda mengenai cinta, tergantung bagaimana ia menghayati dan pengalaman yang di alaminya. Bisa saja berlaku atau tidak untuk orang orang yang ber iman. Seorang Muslim memiliki identitas khusus tentang Cinta, yang bisa saja keluar dari makna umum.

Untuk dapat menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah Ta'ala dan RasulNya, maka kita harus mengenal dulu tentang cinta Allah kepada kita sebagai hamba-Nya. Begitu juga cinta Rasulullah kepada ummatnya.

Allah Ta'ala, berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِينَ يُجٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ  ۚ  ذٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَآءُ  ۚ  وَاللَّهُ وٰسِعٌ عَلِيمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, DIA mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 54)

Dalam ayat diatas kita lihat Allah mendahulukan cinta-Nya kepada hambanya daripada cinta hamba-Nya terhadap-Nya. Padahal Allah Ta'ala sendiri tidak memerlukan untuk mencintai hambaNya atau dicintai.

Didalam Alquran dan Hadits banyak sekali cerita Cinta Allah kepada hambanya, sampai sampai Cinta dan Kasih Sayang Allah kepada hambanya mendahului murkanya. Walau Dicaci, dihina, dituduh punya anak, disekutukan dan banyak yang lainnya, namun Allah dengan Maha Rahman dan Rahimnya tetap memberi rejeki bukti kasih sayang dan cintaNya.

Dalam Hadith Qudsi Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa Allah Ta'ala berkata: “Kalau Allah Ta'ala mencintai seorang hamba, maka DIA memanggil Jibril. “Ya Jibril! Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia. Lalu Jibril memanggil penghuni langit. “Wahai penghuni langit! Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia. Lalu penghuni bumipun mencintainya”

Lalu bagaimana cinta Rasulullah kepada ummatnya. Kasih sayang Nabi Muhammad kepada umat Islam tiada taranya. Banyak fenomena yang dapat dijadikan bukti betapa Nabi Muhammad ﷺ teramat menyayangi umatnya. Tentunya kita semua masih ingat bagaimana keadaan bangsa Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad ﷺ yang membawa dan menyebarkan ajaran Islam. Mereka adalah umat yang bejat akhlaknya, rusak moral nya. Bangsa Arab pada masa jahiliah terbiasa mengubur bayi-bayi perempuan mereka hidup-hidup tanpa belas kasihan karena dianggap sebagai aib. Perjudian, mabuk mabukan, buka-bukaan aurat, dan segala bentuk kemaksiatan menjadi santapan sehari-hari bangsa Arab pada masa jahiliah.

Lalu ketika Rasulullah Muhammad ﷺ datang dengan membawa ajaran Islam, bangsa Arab pun berangsur-angsur berubah menjadi bangsa yang berakhlak mulia. Wanita yang dulu senantiasa dianggap rendah, kini menjadi makhluk yang dimuliakan.

Kasih sayang Rasulullah kepada umatnya tidak dapat diukur dengan harta ataupun tahta. Kasih sayang Rasulullah sepanjang zaman, hingga pada detik-detik akhir dari kehidupannya pun Nabi Muhammad ﷺ senantiasa memikirkan dan menyebut-nyebut umatnya, Ummati … Ummati … 

Kemudian beliau mengangkat tangan seraya berdoa, “Ya Allah , umatku, umatku”, sambil menangis. Maka Allah Ta'ala berfirman, “Hai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan Tuhanmu lebih mengetahui serta tanyakan apa yang membuatnya menangis?” Jibril mendatangi Muhammad, lalu ia bertanya kepada beliau. Rasulullah  ﷺ memberitahukan tentang hal yang beliau katakan dan Dia lebih mengetahui Maka Allah Ta'ala, berfirman, ‘Hai Jibril, pergilah kepada Muhammad, lalu katakan, ‘Sesungguhnya Kami akan meridhoimu tentang urusan umatmu dan Kami tidak akan memusnahkan Mu.” [HR. Muslim ]

Sekarang Masihkah kita sebagai hamba tidak membalas cinta dari Zat Yang Maha Mencintai, kemudian kepada Rasulullah yang begitu sangat cinta kepada ummatnya...Coba apa yang sudah kita lakukan untuk membalas cinta itu. Justru balasannya yang didapat hanyalah kedurhakaan dan lebih memilih dunia dan hawa nafsu untuk dituruti dan dicintai.Semoga Allah Ta'ala memberi hidayah kepada kita semua dalam urusan Cinta yang utama ini.

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar