Berlomba Menjemput Hidayah

21 Oktober 08:37 | Dilihat : 313
Berlomba Menjemput Hidayah Ilustrasi pemuda hijrah

Dalam hadits Qudsi yang shahih, Allah Ta’ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian. (HR Muslim no. 2577).

Allah Ta'ala, berfirman:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِى  ۖ  وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُونَ

"Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 178)

Allah memerintahkan kepada kita dalam setiap rakaat shalat untuk selalu memohon kepada-Nya hidayah ke jalan yang lurus di dalam surah al-Fatihah yang merupakan surah yang paling agung dalam al-Quran, karena sangat besar dan mendesaknya kebutuhan manusia terhadap hidayah Allah .

Allah  Ta'ala, berfirman:

{اهْدِنَاالصِّرَاطَالْمُسْتَقِيمَ}

“Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Seorang hamba senantiasa kebutuhannya sangat mendesak terhadap kandungan doa (dalam ayat) ini, karena sesungguhnya tidak ada keselamatan dari siksa (Neraka) dan pencapaian kebahagiaan (yang abadi di Surga) kecuali dengan hidayah (dari Allah ) ini. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan hidayah ini berarti dia termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah (seperti orang-orang Yahudi) atau orang-orang yang tersesat (seperti orang-orang Nashrani)”.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Seorang hamba sangat membutuhkan hidayah di setiap waktu dan tarikan nafasnya, dalam semua (perbuatan)yang dilakukan maupun yang ditinggalkannya. Karena hamba tersebut berada di dalam beberapa perkara yang dia tidak bisa lepas darinya.

Pelajaran penting buat kita bahwa Hidayah adalah hak Allah bahkan Rasulullah pun tidak mampu memberi hidayah kepada pamannya sendiri yaitu Abu Thalib.
Padahal kita ketahui bersama bahwa Paman Nabi begitu besar pembelaannya terhadap Islam, merawat dan melindungi Rasulullah dari usia 8 tahun sampai masa ke Nabian.
Sebagaimana ditunjukkan hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibnu Al Musayyab, bahwa bapaknya (Al Musayyab) berkata: ‘Tatkala Abu Thalib akan meninggal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas mendatanginya.

Dan saat itu, ‘Abdullah bin Abu Umayyah serta Abu Jahal berada di sisinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

“Wahai, pamanku. Ucapkanlah la ilaha illallah; suatu kalimat yang dapat aku jadikan pembelaan untukmu di hadapan Allah,’.

Akan tetapi, ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahal menimpali dengan ucapan :

‘Apakah engkau (Abu Thalib) membenci agama Abdul Muththalib?’.

Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi sabdanya lagi. Namun mereka berdua pun mengulang kata-katanya itu. Maka akhir kata yang diucapkannya, bahwa dia masih tetap di atas agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan La ilaha illallah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, akan aku mintakan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang”. Lalu Allah Ta'ala menurunkan firmanNya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ٩:١١٣

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam”. [At Taubah/9 : 113]

Untuk itu marilah kita senantiasa membaca doa agar Allah selalu melimpahkan hidayah kepada kita, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu. (HR. At-Tirmidzi no. 3522)

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنِيْ وَاْجَعْلِنْي هَادِيًا مَهْدِيًّا

Ya Allah, teguhkanlah diriku, jadikanlah diriku pemberi petunjuk dan diberi petunjuk (oleh-Mu). (HR. Al-Bukhari no. 6333)

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar