Istiqomah dalam Ketaatan

04 Oktober 09:52 | Dilihat : 661
Istiqomah dalam Ketaatan Ilustrasi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…يَاأَيُّهَا النَّاسُ، خُذُوْا مِنَ الْأَعْمَالِ مَاتُطِيْقُوْنَ، فَإِنَّ اللهَ لَايَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوْا، وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَادَامَ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan-amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit. (HR al-Bukhari no. 5861dan Muslim no. 782 )

Allah Ta'ala, berfirman:

رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبٰدَتِهِۦ  ۚ  هَلْ تَعْلَمُ لَهُ ۥ  سَمِيًّا

"(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?" (QS. Maryam 19: Ayat 65)

Ayat diatas mengingatkan kepada kita semua, bahwa pentingnya sikap Sabar, teguh, istiqomah jangan merasa bosan dalam beribadah kepada Allah, memang jalan menuju ketaatan itu penuh dengan ujian dan cobaan, baik dari dalam hati maupun dari luar.

Setiap manusia suatu saat akan merasakan perasaan ini, yaitu Bosan, kita merasa bosan dan jenuh saat berusaha memelihara amal-amal ketaatan? Merasa berat dan tidak bersemangat lagi untuk meneruskan amal sholeh yang sudah pernah kita pahat dalam hidup ini? Padahal amal sholeh itu seharusnya menambah kuat energi pelakunya, untuk terus melakukan lebih banyak lagi kesholehan. Amal-amal ketaatan itu sejatinya membuat hidup kita lebih indah dan kita lebih bersemangat.

Hasan Al Bashri rahimahullah memberi nasehat tentang kenapa amal-amal sholeh dan ketaatan itu suatu saat bisa tidak memberi pengaruh dan menambah semangat pelakunya. Ujarnya, “carilah kemanisan hidup ini dalam tiga perkara: Dalam Sholat, dalam dzikir dan dalam membaca Alquran. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa pintunya dalam keadaan tertutup. Ia mengerti bahwa ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan amal-amal yang seharusnya memberi kenikmatan menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Pintu tertutup itu adalah pintu hati yang ditutup oleh pemiliknya sendiri. Al Bashri mengibaratkan dzikir kepada Allah adalah pintu yang lebar dan besar, yang selalu terbuka dan menghubungkan antara Allah dan hamba-Nya. Pintu itu akan terbuka selama tidak ditutup sendiri oleh hamba-Nya dengan kelalaiannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati kita “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya. (HR. Tirmidzi).

Malu, karena banyak mengenal petunjuk Alah, tapi banyak petunjuk-Nya yang tidak kita gunakan. Malu karena kita berulang kali lalai dari Allah, berulangkali mendahulukan nafsu daripada petunjuk, berulangkali mengutamakan dunia daripada akhirat, berulangkali mementingkan makhluk dari pada Al Kholiq.”

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar