Istidraj

04 Agustus 08:01 | Dilihat : 1089
Istidraj ilustrasi

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِى الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِى الآخِرَةِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِى الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا ».

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau telah mengatakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mendzalimi seorang mukmin terhadap kebaikan yang diperbuatnya. Sang mukmin akan diberikan balasan kebaikannya di dunia dan diberikan pula pahala kebaikannya di akhirat kelak. Sedangkan orang kafir maka ia diberikan rizki di dunia dengan sebab kebaikan-kebaikan yang dilakukannya karena Allah, hingga apabila kembali ke akhirat kelak maka ia tidak memiliki kebaikan yang diberikan ganjarannya.” [HR. Muslim no. 7267, Maktabah Syamilah]

Allah Azza Wa Jalla, berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتّٰىٓ إِذَا فَرِحُوا بِمَآ أُوتُوٓا أَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُّبْلِسُونَ

"Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (QS. Al-An'am 6: Ayat 44)

Menurut Imam Ibnu Katsir, "Maksudnya, Kami membukakan untuk mereka pintu-pintu rezeki dari segala hal (dalam semua aspek kehidupan) yang mereka pilih. Dan ini adalah istidraj (mengulur-ulur) dan imlaa' (penangguhan) dari Allah Ta'ala bagi mereka" (Tafsir Ibnu Katsir II/259).

Imam Malik menafsirkannya dengan kemakmuran dunia dan kemudahannya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/259).
Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya (IV/145) meriwayatkan hadits dari Uqbah bin 'Aamir ra dari Nabi saw, "Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang Ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidraj," kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut. Hadits ini oleh Imam As Suyuthi dinilai sebagai hadits hasan (Al Jaami' Ash Shaghir I/97 no. 629).

Begitulah sunnatullah dalam kehidupan pendosa dan pelaku maksiat. Kadang-kadang Allah Ta'ala membukakan beragam pintu rezeki dan pintu kesejahteraan hidup serta kemajuan dalam banyak aspek kehidupan seperti termaktub dalam redaksi ayatnya, "Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka"

Perhatikan Firman Allah Ta'ala ini,

وَإِذْ قَالَ إِبْرٰهِـۧمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ ۥ  مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَاخِرِ  ۖ  قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ ۥ  قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ ۥ ٓ إِلٰى عَذَابِ النَّارِ  ۖ  وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Dia (Allah) berfirman, Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 126)

Setiap orang, keluarga, komunitas, ormas, partai, bangsa atau negara yang dianugerahi rezeki, kesejahteraan hidup, kemajuan dan kemenangan, berarti Allah mencintainya dan mendukungnya. BELUM TENTU, karena Allah memberi rezeki orang yang mukmin dan kafir, yang baik dan jahat, bahkan bisa jadi Allah mengabulkan doa dan permintaaan mereka lalu memberi mereka apa yang mereka di dunia, namun di akhirat mereka tidak mendapatkan bagian (pahala) apa pun, bahkan nerakalah tempat mereka.

Menurut Sayyid Quthb, sesungguhnya kemakmuran dan kesejahteraan hidup merupakan ujian lain sebagaimana ujian kesulitan dan kesengsaraan hidup. Bahkan, posisi ujian kesejahteraan lebih tinggi daripada ujian kesengsaraan. Dan Allah menguji hamba-Nya dengan kesejahteraan dan kesengsaraan, dengan kemudahan dan kesulitan. Allah Ta'ala menguji hamba-hamba-Nya yang taat dan maksiat (Fii Zhilal Al Qur'an II/1090). 

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar