Syirik, Dosa tak Terampuni

Minggu, 20 Desember 2015 - 10:27 WIB | Dilihat : 6401
 Syirik, Dosa tak Terampuni Ilustrasi

 


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”(QS. An-Nisa: 48)
 
Mughirah bin Syu'bah adalah seorang sahabat dari Bani Tsaqif di Thaif. Tidak seperti kebanyakan kaumnya yang dengan gencar memusuhi Nabi Saw dan Islam, ketika Mekkah telah ditaklukkan, ia justru meninggalkan kota kelahirannya menuju Madinah untuk bergabung bersama Rasulullah, tidak lama setelah terjadinya Perang Uhud. 
 
Meski saat jahiliah ia memiliki sikap yang kurang terpuji, tetapi Islam berhasil membentuk dirinya menjadi sosok berkepribadian baik dan sangat mencintai Nabi Saw. Mughirah bahkan dipercaya Nabi Saw untuk menulis wahyu-wahyu yang turun. Ia juga pernah diperintahkan untuk menulis surat balasan yang dikirimkan beliau ke Uskup Najran, untuk mengajaknya untuk memeluk Islam.
 
Beberapa bulan berlalu setelah Perang Hunain dan perang Thaif, saat Mughirah sedang menggembalakan unta tunggangan Nabi Saw dan para sahabat lainnya di luar kota Madinah, tampak rombongan bani Tsaqif dari daerah Thaif, yang sebagian dari mereka adalah kerabatnya, berjalan menuju kota Madinah. Mughirah bergegas menuju masjid untuk memberitahukan Nabi Saw akan kedatangan mereka. Tetapi ia bertemu Abu Bakar, dan Abu Bakar memintanya untuk tidak mengatakan kepada Nabi Saw sebelum dirinya. Ia pun menerima saran Abu Bakar itu.
 
Kedatangan delegasi bani Tsaqif ini karena mereka dibayang-bayangi ketakutan akan diperangi Nabi Saw setelah mereka melakukan pembunuhan kepada Urwah bin Mas’ud, salah satu tokohnya yang telah memeluk Islam. Setelah diterima Nabi Saw, delegasi bani Tsaqif yang dipimpin oleh Abd Yalil ini menyatakan bersedia masuk Islam, namun dengan syarat. Mereka ingin tetap diperbolehkan berzina, minum khamr dan menarik/memakan riba, serta dibebaskan dari kewajiban shalat. Tentu saja semua persyaratan ditolak mentah-mentah oleh beliau.
 
Mereka juga sempat meminta agar diizinkan tetap menyembah berhala dalam beberapa tahun, tetapi sekali Nabi Saw menolaknya. Begitu juga ketika mereka memintanya hanya untuk beberapa bulan, minggu dan hari, Nabi Saw tetap menolaknya. Pada akhirnya mereka meminta agar tidak disuruh menghancurkan berhala-berhala sembahan mereka dengan tangan mereka sendiri. Nabi Saw pun menerima persyaratan itu hingga akhirnya beliau mengirimkan pasukan yang di dalamnya terdapat Mughirah dan Abu Sufyan, untuk menghancurkan patung-patung sembahan bani Tsaqif di Thaif.
 
Mughirah yang memang “putra daerah” dari Bani Tsaqif di Thaif itu, yang paling gencar dan bersemangat menghancurkan berhala-berhala tersebut. Ia berkata kepada sahabat lainnya, “Demi Allah, aku benar-benar akan membuat kalian tertawa karena sikap orang-orang Tsaqif..!!”
 
Setelah itu ia mengambil dua cangkul dan mendatangi berhala Lata yang selama ini menjadi sesembahan utama, sangat dihargai dan ditinggikan sekaligus ditakuti oleh Bani Tsaqif. Dengan dua cangkul tersebut, Mughirah merobohkan berhala Lata, dan tampak penduduk Thaif bergetar penuh ketakutan, seolah-olah dunia akan runtuh menimpa mereka. Bahkan ada yang berkata, “Semoga Allah mengutuk Al-Mughirah, dia tentu akan dicekik penjaga berhala…!!”
 
Mendengar perkataan tersebut, Mughirah melompat ke hadapan mereka dan berkata, “Semoga Allah memburukkan rupa-rupa kalian, berhala ini tidak lain hanyalah tumpukan batu dan lumpur yang hina…!!”
 
Kemudian Mughirah mengajak para sahabat untuk menghancurkan pintu penyimpanan barang dan merobohkan pagar-pagarnya. Tidak sekedar menghancurkan bangunan-bangunannya, bahkan ia menggali dan menghancurkan pondasinya, dan mengeluarkan harta dan barang simpanan di dalamnya, untuk diserahkan kepada Nabi Saw di Madinah. Orang-orang Tsaqif hanya terpaku tak percaya dengan apa yang dilihatnya tersebut. Dengan atribut dan “kebesaran” berhala Lata itulah selama ini mereka merasa bangga dan berkuasa. Begitu semua itu rata dengan tanah, seolah-olah segala kebesaran dan kebanggaan mereka selama ini ikut tercerabut dari akar-akarnya. Kemusyrikan pun sirna dari bani Tsaqif. 
 
Dosa Tak Terampuni
 
Kisah Mughirah bin Syau’bah dan kaumnya di atas, hanyalah contoh bagaimana Rasulullah Saw menghapuskan kemusyrikan yang dilakukan Bani Tsaqif. Mereka telah rela untuk masuk Islam, tetapi mereka masih berat hati untuk meninggalkan dan menghancurkan sesembahan berupa patung-patung yang mereka buat. 
 
Di era modern ini, yang dimaksud dengan musyrik bukanlah sekadar membangun atau menyembah patung belaka. Bisa jadi saat ini orang musyrik itu adalah orang yang sangat rajin beribadah. Mereka rajin shalat, puasa, membaca Alquran, gemar bersedekah dan membayar zakat, serta sering menunaikan umroh dan haji. Mereka beribadah pada Allah, namun juga di lain waktu beribadah kepada selain Allah. 
 
Jadi mereka menduakan Allah, menyekutukan Allah, itulah maksud syirik yang sebenarnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik adalah kufur atau satu jenis kekufuran. Syirik dikategorikan sebagai dosa paling besar yang tidak akan diampuni oleh Allah Swt.
 
Allah Swt berfirman,“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”(QS. An-Nisa: 48)
 
Imam Bukhari mengeluarkan sebuah hadits dari Anas r.a. Ketika Nabi Saw ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab: “Syirik (mempersekutukan Allah),  durhaka terhadap kedua ayah-bunda, membunuh jiwa manusia, dan saksi palsu.” (HR. Imam Bukhari). 
 
Alquran memberikan gambaran kepada umat Islam mengenai akibat perbuatan syirik dengan gambaran yang sangat mengerikan, “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Dia, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)

Pada ayat lain, dinyatakan bahwa perbuatan syirik adalah suatu kezaliman, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Lukman : 13)
 
Ganjaran Bagi Orang Musyrik
 
Tindakan syirik adalah pelanggaran terhadap akidah Islam. Alquran dalam sejumlah ayat memberikan gambaran yang sangat mengerikan mengenai orang-orang musyrik ini.
 
Pertama, sebagai perbuatan dosa besar yang palin besar dan tidak dapat diampuni oleh Allah Swt. Firman Allah Swt: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 48). 
 
Kedua, menetapkan bahwa segala amal perbuatan orang yang melakukan syirik dengan Allah, merupakan amal yang sia-sia dan tertolak sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-An'am ayat 88, “Dan jikalau mereka mempersekutukan Tuhan, sungguh menjadi sia-sialah apa yang mereka lakukan.”
 
Ketiga, orang yang menyekutukan Allah Swt dinilai sebagai orang kafir, haram masuk surga dan ditempatkan di nerakan jahanam. 

“Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam, sedang Al-Masih (sendiri) berkata wahai Bani Israil! Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang zhalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)
 
Keempat, orang musyrik adalah orang yang kotor (najis) dan dilarang mendekati Masjidil Haram di Mekkah. “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, sebab itu janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.“ (QS. At-Taubah: 28)
 
Oleh karena itu, orang-orang yang melakukan kesyirikan akan memperoleh hukuman dari Allah Swt dan merugi untuk selama-lamanya. Karena berhala-berhala yang mereka anggap sebagai Tuhan ternyata tidak mempunyai kekuatan apa-apa, tidak dapat memberikan petunjuk, tidak dapat mendengar dan tidak pula dapat melihat. Allah Swt berfirman: “Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu, sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.” (QS. Al-A’raaf: 193). 
 
Dalam surat Al-A’raf ayat 198, Allah berfirman: “Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat.” Wallahu a’lam bissawab. 

[shodiq ramadhan]
 
0 Komentar