Balas Keburukan dengan Kebaikan

14 Februari 16:32 | Dilihat : 307
Balas Keburukan dengan Kebaikan Ilustrasi memberikan maaf

Didalam kehidupan bermasyarakat termasuk hubungan sosial didalamnya baik antara sesama muslim atau bukan muslim, sering sekali terjadi gesekan perselisihan yang terkadang bahkan bisa membawa maut.

Begitulah hakekat manusia selalu Allah timpakan ujian, agar mereka terlihat siapa yang terbaik amalnya. Diantara salah satu akhlak seorang muslim adalah senantiasa membalas keburukan dengan kebaikan, sebagaimana Allah Ta'ala, berfirman:

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ  ۚ  ادْفَعْ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

"Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia." (QS. Fussilat 41: Ayat 34)

Ayat diatas berbicara tentang kemulian akhlak seorang muslim. Jika seseorang melakukan keburukan terhadapmu, terlebih khusus lagi jika mereka adalah kerabat-kerabatmu, sahabat-sahabatmu, mereka berbuat buruk kepadamu, baik melalui lisan mereka maupun perbuatan mereka, maka balaslah mereka dengan kebaikan. Jika mereka memutus silaturahmi denganmu, maka sambunglah kembali silaturahmi tersebut. Jika mereka berbuat zholim kepadamu, maka maafkanlah.

Sahabat yang mulia, Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”

Praktik membalas kejahatan dengan kebaikan, antara lain pernah dilakukan oleh Imam Hasan Al-Bashri. Ketika suatu saat pembantunya menyampaikan bahwa seseorang telah menggunjing dan menjelek-jelekkan namanya. Mendengar hal tersebut, Hasan Al-Bashri kemudian meminta pembantunya tadi untuk menghadiahkan kurma kepada orang yang menjelek-jelekkannya tersebut.

Pembantu berkata, “Wahai Imaam, bukankah dia telah menjelekkan engkau di hadapan orang banyak. Tapi mengapa engkau malah menghadiahinya kurma?” Sang Imaam pun menjawab, “Bukankah sudah sepantasnya aku memberikan hadiah bagi orang yang telah memberikan kesempatan pahala dari Allah buatku?”.

Begitulah, Hasan Al-Bashri sedang memberikan pelajaran berharga bukan hanya buat pembantunya, tetapi kita semua. Agar tetap menjadi pribadi yang tenang dan menenangkan. Bukan pribadi yang gelisah dan penuh amarah. Tenang bukan berarti tidak mampu, tenang bukan berarti kalah, tenang bukan berarti lambat. Tenang adalah seni menyampaikan kritikan dengan bahasa yang lembut, tenang adalah penyampaian fakta keras dengan cara yang santun, tenang adalah penolakan berat dengan cara yang ringan.

Itu pulalah yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika penduduk Thaif melemparinya dengan batu. Beliau malah berdoa, “Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya’lamuun” (Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku ini, karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa).

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita hamba hamba yang senantiasa selalu berbuat baik kepada sesama tanpa melihat kondisi, artinya balaslah keburukan dengan kebaikan.

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar