Jangan Remehkan Nikmat Allah

23 Januari 05:38 | Dilihat : 513
Jangan Remehkan Nikmat Allah Ilustrasi

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ عَلَيْكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian, dan janganlah kalian melihat orang yang lebih tinggi dari kalian, sesungguhnya hal itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." Abu Mu'awiyah menyebutkan dengan redaksi, "(nikmat Allah) atas kalian." (HR Ibnu Majah 4132)

Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil. Jika sudah memiliki satu mobil, dia ingin mendapatkan beberapa mobil. Dan seterusnya sampai rumahpun tak cukup satu, kalaupun bisa seluruh isi dunia ingin dibelinya. Itulah watak manusia yang tidak pernah puas.

Seharusnya sikap seorang muslim yang benar, hendaklah dia selalu melihat orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Betapa banyak orang di bawah kita berada di bawah garis kemiskinan, untuk makan sehari-hari saja mesti meminta minta, mengais rejeki dari pagi hingga petang bersusah payah, terkadang mencari utang sana-sini, dan masih banyak cerita memilukan kehidupan di antara mereka karena keadaan ekonominya jauh di bawah kita.

Al Munawi rahimahullah  mengatakan, “Jika seseorang melihat orang di atasnya (dalam masalah harta dan dunia), dia akan menganggap kecil nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia selalu ingin mendapatkan yang lebih. Cara mengobati penyakit semacam ini, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya (dalam masalah harta dan dunia). Dengan melakukan semacam ini, seseorang akan ridho dan bersyukur, juga rasa tamaknya (terhadap harta dan dunia) akan berkurang. Jika seseorang sering memandang orang yang berada di atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah yang diberikan padanya. Namun, jika dia mengalihkan pandangannya kepada orang di bawahnya, hal ini akan membuatnya ridho dan bersyukur atas nikmat Allah padanya.”

Allah Ta'ala, berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ  ۖ  وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

Tidak ada yang mampu dan bisa membantah besarnya kenikmatan yang dikaruniakan Allah Ta'ala kepada manusia. Demikian besarnya hingga manusia mustahil bisa menghitungnya.

Allah Ta'ala, berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ  ۗ  إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nahl 16: Ayat 18)

Sudah selayaknya manusia bersyukur kepada Allah. Yang maha pemberi kenikmatan dan rejeki yang melimpah, bukan malah sebaliknya mengingkari berbagai kenikmatan tersebut. Amat banyak ayat dan hadist yang memerintahkan manusia untuk bersyukur. Pahala besar akan di janjikan akan di berikan pelakunya.sebaliknya melarang manusia bersikap ingkar sekaligus akan memberikan ancaman azab bagi pelakunya. 

Al Ghozali –rahimahullah- mengatakan, “Setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah[?]’ Namun dalam masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan Allah[?]” Si fulan itu masih lebih berilmu darimu’.” (Lihat Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, 1/573)

Semoga Allah jadikan kita hamba hamba yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita, maka sebagai balasan nya sudah sepantasnya kita mengabdi dan beribadah kepada Allah, dan semakin bertambah ketaatannya, jangan malah sebaliknya sibuk dengan melihat orang orang yang diatas kita untuk masalah dunia.

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia
 

0 Komentar