Perbaiki Diri Sesuai Kehendak Allah

Jumat, 15 Desember 2017 - 07:35 WIB | Dilihat : 382
Perbaiki Diri Sesuai Kehendak Allah Ilustrasi

Terjatuh pada kesalahan dan kealpaan adalah hal yang lazim pada diri manusia. Hawa nafsu dalam jiwa manusia sangat kuat memerintahkan perbuatan jelek, kecuali jiwa yang dirahmati oleh Rabbnya. Selain itu, pengaruh luar dari para setan baik jenis jin maupun manusia begitu kuat. Mereka senantiasa melancarkan bujuk rayu dengan segala tipu daya untuk menyesatkan bani Adam. Hal ini ditambah dengan kenyataan bahwa surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai oleh jiwa, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat (kesenangan). Itulah beberapa faktor yang mendorong seorang hamba terjatuh dalam kemaksiatan, dosa dan kesalahan kepada Allah Ta'ala.

Dosa dan kemaksiatan itu pasti membinasakan seseorang dan menjauhkannya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, setiap hamba harus segera lari darinya tanpa menunda waktu. Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintah kita semua untuk bersegera mengerjakan amalan saleh secara umum, dan segera bertobat secara khusus, sebelum Dia mencabut kesempatan yang telah diberikan oleh Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala, berfirman:

وَسَارِعُوٓا إِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa," (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 133)

Hanya dengan tobat, seseorang akan mendapati kembali kebaikan yang telah ia lewatkan di masa lampau. Apabila hari-harinya yang telah lalu dipenuhi berbagai tindakan maksiat, bahkan kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sekalipun, jika dia segera bertobat ketika masih ada kesempatan, sungguh dosanya akan diampuni. Hal ini sebagaimana dijanjikan oleh Allah sendiri.

Memperbaiki diri dalam rangka lebih baik dari masa lalu, kemudian meningkatkan kualitas dan kuantitas iman wajib sesuai dengan apa yang sudah Allah tentukan. Artinya wajib ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Barang siapa menyelisihinya maka tidak akan diterima segala amal perbuatannya. Bahkan bisa jadi tertolak segala bentuk ampunannya justru sebaliknya akan menambah dosa.

Baik dosa besar maupun dosa kecil yang dilakukan di masa lampau akan terhapus dengan amalan kebaikan, yaitu tobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan senantiasa menjaga dan mengiringinya dengan amalan ketaatan kepada-Nya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di mana saja dan dalam keadaan apa pun juga; senantiasa iringilah perbuatan kejelekan dengan perbuatan kebaikan, niscaya perbuatan kebaikan itu akan menghapusnya; dan perlakukanlah sesama manusia dengan perangai mulia.” (HR. at-Tirmidzi dengan derajat hasan shahih, dari Abu Dzar )

Jadi perbaikan diri sesuai kehendak Allah Ta'ala adalah menjadikan orang orang yang beriman menjadi orang orang yang bertakwa. Karena tiada sebaik baik bekal kecuali ketakwaan, dengan takwa seseorang dapat meraih surganya Allah yang telah Allah Ta'ala janjikan. Karena hakekat takwa adalah bentuk amal perbuatan agar manusia terhindar dari siksa dan Azab Allah Ta'ala.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata dalam Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, “Asal makna ketakwaan adalah engkau menjadikan antara dirimu dengan siksaan Allah berupa penghalang yang akan melindungi kamu darinya.” Karenanya semua ucapan, amalan, dan keyakinan yang tujuannya melindungi kita dari siksaan Allah maka itu adalah ketakwaan.

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar