Maksiat Mengundang Musibah

17 November 09:29 | Dilihat : 492
Maksiat Mengundang Musibah Ilustrasi

Allah Ta'ala, berfirman:

وَمَآ أَصٰبَكُمْ مِّنْ مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura 42: Ayat 30)

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.”

Untuk itu agar berbagai nikmat tidak lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang, hendaklah setiap hamba memperbanyak tobat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karena dengan beralih kepada ketaatan dan amal sholeh, musibah tersebut akan hilang dan berbagai nikmat dan keberkahan pun akan datang menghampiri.

Kalau kita telusuri kisah-kisah umat terdahulu yang jatuh ke dalam kehancuran, maka kita akan dapati mereka adalah orang-orang yang telah berbuat syirik yaitu dosa yang paling besar kepada Allah. Mereka menyekutukan Allah dengan selain-Nya dan mereka lebih mendahulukan hawa nafsu dari beriman kepada Allah Ta’ala. Demikian pula kondisi zaman sekarang, kesyirikan justru merajalela bahkan di legalisasi dikemas atas nama kebaikan, prostitusi, judi dan banyak lagi kemaksiatan yang lainnya. 

Semua itu adalah bentuk undangan bencana dan musibah yang tidak akan bisa dicegah kecuali dengan menghentikan perbuatan tersebut. Dan lebih miris lagi tidak hanya sipembuat ulah yang kena dampaknya, tetapi orang orang taat dan sholeh akan kena imbasnya juga.

Tidak luput juga dari penglihatan kita bersama, betapa kondisi ini diperparah oleh setiap individu dan keluarga. Karena para orang tua mereka memiliki pengetahuan agama yang minim kemudian pola hidup serba materialistis akhirnya kondisi tersebut ditularkan kepada anak anaknya. Tidak sedikit keluarga hidup asal bahagia dunia, kesyirikan dan dosa mereka lakukan tanpa sadar, maka terhimpunlah masyarakat dengan lingkungan yang jauh dari tuntunan. Maka wajar saja perilaku tersebut mengundang murka Allah, bencana demi bencana silih berganti menghampiri nya.

Allah Ta'ala, berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ  ۚ  وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرٰىٓ إِثْمًا عَظِيمًا

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 48)

Diayat yang lain Yang Maha Rahman akan mengampuni segala dosa jika kita mau bertobat. Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِىَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلٰىٓ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَّحْمَةِ اللَّهِ  ۚ  إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا  ۚ  إِنَّهُ ۥ  هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini : “Ayat yang mulia ini merupakan seruan kepada orang-orang yang bermaksiat, baik orang-orang kafir atau lainnya, untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah). Ayat ini juga memberitakan bahwa Allah Tabaraka Wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa semuanya bagi orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa tersebutan meninggalkannya, walaupun dosa apapun juga, walaupun dosanya sebanyak buih lautan. Dan tidak benar membawa arti pengampunan Allah (dalam ayat ini) dengan tanpa taubat, karena orang yang tidak bertaubat dari syirik tidak akan diampuni oleh Allah. [Tafsir Ibnu Katsir, surat Az-Zumar: 53]

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar