Cinta Perlu Bukti Bukan Sekedar Lisan

16 November 07:24 | Dilihat : 392
Cinta Perlu Bukti Bukan Sekedar Lisan Ilustrasi aksi cinta ulama

Allah Ta'ala, berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ  ۗ  وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 31)

Al-Mahabbah (cinta) berarti kecenderungan jiwa pada sesuatu. Cinta itu muncul pada diri manusia karena ia meyakini kesempurnaan sesuatu yang dia cintai. Kesempurnaan hakiki hanya milik Allah Azza Wa Jalla dan semua kesempurnaan yang ada pada makhluk juga berasal dari Allah. Ketika seorang hamba meyakini hal itu, maka tiada rasa cinta pada dirinya kecuali kepada Allah dan karena Allah. Keyakinan itu akan menuntunnya untuk mentaati-Nya dan senang melakukan apa saja yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, para ulama menafsirkan al-mahabbah li Allah (cinta kepada Allah) sebagai kesediaan untuk mentaati-Nya.

Ungkapan ayat ini bersifat umum mencakup siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah. Siapa yang mengaku mencintai Allah harus membuktikannya dengan mengikuti Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam. Tugas beliau adalah menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh manusia. Melalui beliau, manusia dapat beribadah kepada Allah Ta'ala secara benar, membedakan yang haq dan yang batil, yang diridhai dan yang dimurkai Allah, yang diperintahkan dan yang dilarang-Nya. Semua yang beliau sampaikan adalah wahyu . Jadi, mentaati Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pada hakikatnya adalah mentaati Allah Azza Wa Jalla.

Cinta merupakan kalimat yang indah baik dari segi kata juga perbuatan, tidak satupun makhluk dimuka bumi ini yang tidak ingin memperolehnya. Baik dari sesama makhluk terlebih dari Zat Yang Maha Mencintai Allah Azza Wa Jalla, Bahkan mereka saling berlomba mengorbankan segalanya demi untuk mendapatkannya. Namun tidak sedikit juga yang menghianatinya alias berani mengorbankan cinta demi mendapatkan murkanNya.

Sungguh mengherankan tabiat manusia itu, mereka jadikan musuh orang orang yang mencintai dan dicintai Allah Ta'ala, Karena cuma persoalan secuil urusan dunia. Bagaimana mungkin seseorang mencintai Allah tapi sekaligus mencintai musuh musuh Allah.
Sesuatu yang mustahil Allah meletakan kecintaan kepada hamba hambanya yang mencintai musuh Allah sementara dengan wali wali Allah para pembela tauhid dan syariat Allah, mereka menyimpan kebencian bahkan memusuhinya.

Allah Ta'ala menyatakan perang bagi siapa yang memusuhi wali-Nya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman: ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (perbuatan) yang Aku sukai seperti bila ia melakukan yang fardhu yang Aku perintahkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memegang, sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti akan Aku berikan kepadanya." [HR. Bukhari]

Begitulah karakter mulia yang Allah berikan kepada para hambanya yang saling mencintai, baik secara hati, lisan maupun perbuatan. Sesuatu yang menjadi ukuran ke imanan seseorang tentang urusan cinta dan mencintai.
Maka bukalah hati kita tentang urusan ini karena tidak dikatakan kalian ber iman sebelum kalian saling mencintai. Terlebih kepada hamba hamba yang sholih, cintailah mereka sebagaimana merekapun cinta kepada kita.
Semoga Allah Ta'ala selalu memberikan hidayah dan rasa cinta dan saling mencintai sesama muslim demi meraih kecintaan dari Zat Yang Maha Mencintai.

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar