Bahagia Saat Diuji

14 November 14:57 | Dilihat : 355
Bahagia Saat Diuji Ilustrasi

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،
فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396)

Sesuatu yang tidak akan dipungkiri siapa pun adalah kehidupan ini tidak hanya dalam satu keadaan. Ada senang, ada duka. Ada canda, begitu juga tawa. Ada sehat, namun juga adakalanya sakit. Dan semua ini adalah sunnatullah yang mesti dihadapi orang manapun. Itulah ujian yang pasti Allah berikan kepada setiap manusia selama didunia baik itu mukmin maupun kafir.

Tapi akan menjadi berbeda ketika semua bentuk ujian disikapi dengan ilmu dan iman. Karena hanya seorang hamba yang benar iman nya akan menerima semua bentuk ujian dengan sikap ikhlas dan tawakkal, karena dia tahu bahwa ini datang dari Allah meliputi kasih sayangNya.

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ
حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi)

Maka berbahagialah sekaligus bersyukur ketika ujian datang, tidak satupun seorang mukmin yang tidak bahagia ketika dosa dosanya Allah ampuni lantaran sebab itu.

Sikap berbaik sangka selalu meliputi pikiran dan hatinya, termasuk kepada setiap manusia lantaran ujian itu datang, tidak serta merta menebar permusuhan dan kebencian akibat dampak buruk yang diterima, karena sekali lagi seorang mukmin tau ujian itu datang dari Allah dan sudah menjadi ketetapanNya.

Allah Ta'ala,  berfirman:

مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ  ۗ  وَمَنْ يُؤْمِنۢ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۥ   ۚ  وَاللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun 64: Ayat 11)

Kualitas iman akan menjadi bertambah, Allah anugerahi hidayah dan keberkahan hidup atas sikap hamba dalam menghadapi ujian, terlebih lagi ketika proses itu semakin menambah kebaikan dalam beramal...kwalitas dan kwantitas amal meningkat bukan malah sebaliknya, apalagi kemudian sampai berputus asa karena merasa ujian tak kunjung selesai.

Maka ingat ingat lah selalu ayat ini, Allah Ta'ala, berfirman:

الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا  ۚ  وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun," (QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)

Allah Ta'ala yang menciptakan mati dan hidup hanya untuk menguji kita, siapa yang terbaik amalnya. Maksudnya adalah dalam mensikapi semua bentuk ujian, siapa yang terbaik. Terbaik sesuai perintah Allah dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam.

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar