Jangan Abaikan Alquran

03 Oktober 08:28 | Dilihat : 512
Jangan Abaikan Alquran Membaca Alquran

Allah Azza wa Jalla, berfirman:

وَقَالَ الرَّسُولُ يٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوا هٰذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

"Dan rasul (Muhammad) berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran ini diabaikan." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 30)

Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid mengategorikannya menjadi empat macam sikap manusia dalam mengabaikan/tidak peduli lagi dengan Alquran, yaitu sebagai berikut:

Pertam, mengabaikan Alquran dalam hal beriman kepadanya dan mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Kedua, mengabaikan Alquran dalam hal berhukum kepadanya, baik pada pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya. Begitu juga, sikap meyakini bahwa isi kandungan Alquran tidak pasti, dalilnya adalah perkataan belaka, dan tidak ada ilmu yang bisa diambil darinya.

Ketiga, mengabaikan Alquran dalam hal menghayatinya, memahaminya dan mengetahui maksud ayat-ayatnya.

Keempat, mengabaikan Alquran dalam hal menjadikannya sarana mendapatkan kesembuhan dan obat dari segala macam penyakit hati namun justru mencari kesembuhan dan obat dari selain Alquran

Allah Ta'ala, berfirman:

قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايٰتُنَا فَنَسِيتَهَا  ۖ  وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى

"Dia (Allah) berfirman, Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan." (QS. Ta-Ha 20: Ayat 126)

Dari sahabat Hudzaifah ibnu Al-Yamani pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا ، فَقَالَ : هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا ، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا

“Wahai Rasulullah, apakah sesudah kebaikan ini akan ada masa keburukan?” Jawab Rasulullah:  “Ya, yaitu penyeru-penyeru (yang mengajak orang lain) ke pintu-pintu neraka jahannam. Barangsiapa memenuhi ajakan mereka kepadanya maka mereka melemparkannya ke dalam neraka.” Aku berkata: “Terangkanlah ciri-ciri mereka itu, wahai Rasulullah!” Jawab Rasul,  “Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka bicara dengan bahasa kita.” (HR Al-Bukhari,  Muslim, dan Abu Daud, shahih).

Hadits diatas menerangkan kepada kita bahwa tidak sedikit diantara yang mengaku muslim bersikap kebarat-baratan itu justru dari kalangan kita sendiri, warna kulitnya sejenis dengan kita, bahasanya sama dengan kita, bahkan semboyannya pun seperti semboyan kita. Namun mereka membelakangi sumber-sumber ajaran Islam berupa Alquran, Hadits, dan Sejarah Islam. Sebaliknya mereka hadapkan wajah dan hati mereka kepada sumber-sumber Barat. Kemudian mereka menuduh dan memutar balikan Islam seperti yang diperbuat orang Barat.

Akhirnya dari sikap mengabaikan tidak peduli dengan Alquran maka, putuslah tali tali ikatan ke imanan yang berakhir kepada kekufuran bahkan kekafiran dan bisa jadi murtad tanpa sadar, na'udzhubillah. Sebagaimana, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

  “لَيَنْتَقِضَنَّ عُرَى الإِسْلامِ عُرْوَةٌ عُرْوَةٌ، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، فَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ، وَآخِرُهُنَّ الصَّلاةُ”. (رواه أحمد).

“Tali-tali Islam pasti akan putus satu tali demi satu tali. Maka setiapkali putus satu tali (lalu) manusia bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertama kali putus adalah hukum(nya), sedang yang terakhir (putus) adalah shalat.” (Hadits riwayat Ahmad dari Abi Umamah, isnadnya jayyid menurut Syaikh syu’aib al-Arnauth)

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar