Menjaga Lisan

01 Oktober 08:20 | Dilihat : 462
Menjaga Lisan Ilustrasi diam

Sungguh mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang. Bahkan seseorang yang zohirnya ta’at, berwibawa, sopan tetapi dia membiarkan lidahnya mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu kalimat itu saja cukup untuk mencampakkannya ke dalam neraka. Ya , dengan Lisan dan kalimat yang tajam itu, mereka menyakiti saudara muslim mereka.

Allah Azza Wa Jalla, berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 58)

Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «التَّقْوَى، وَحُسْنُ الْخُلُقِ» ، وَسُئِلَ مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّارَ؟ قَالَ: ” الْأَجْوَفَانِ: الْفَمُ، وَالْفَرْجُ “

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, pernah ditanya tentang perbuatan yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga. Beliau menjawab “Ketakwaan dan perangai yang baik.” Beliau juga ditanya mengenai perbuatan yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka. beliau menjawab “Dua lubang; Mulut (yakni lisan) dan kemaluan.” (HR. Ibnu Majah)

Di hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pernah bersabda ketika ditanya oleh Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu;

يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ»

“Wahai Nabi Allah, apakah akan dipertanggung jawabkan dengan apa-apa yang kita ucapkan? Beliau bersabda: “Alangkah sedihnya ibumu kehilanganmu wahai Muadz, bukankah dijerumuskannya manusia kedalam neraka  dengan wajah tersungkur tidak lain dikarenakan hasil dari lidah-lidah mereka?” (HR. at-Tirmidzi)

Lidah juga bisa berobah menjadi binatang buas yang bahkan memangsa tuannya sendiri. Makanya mulutmu harimaumu...

عن أبي هريرة ، أنه سمع النبي (صلى الله عليه وسلم) يقول : “إن العبد يتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها إلى النار أبعد مما بين المشرق والمغرب”

Dari ia Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”. (HR.Bukhari)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap mukallaf hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya”. (Al-Adzkar Imam An-Nawawi 1/332)

Sekali lagi, mari menjaga lisan dari segala macam perkataan karena mungkin ketika kita berbicara kepada orang lain tanpa sengaja kita melukai hatinya. Jikalau begitu pantaslah kita mengatur tutur kata kita, tidak meninggikan suara kita, dan lebih baik diam daripada khawatir tidak bisa menjaga lisan yang tak bertulang ini. Bukankah lebih baik menjaga daripada mencoba asap panasnya api neraka karena lisan yang tak terjaga.

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari keburukan yang ada di antara kedua rahangnya (mulut) dan keburukan yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), maka ia masuk surga,” (HR. At-Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa in adalah hadits hasan shahih)

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar