Musibah Meninggalkan Ketaatan 

22 September 05:53 | Dilihat : 355
Musibah Meninggalkan Ketaatan  Ilustrasi

Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim rahimallahu,

 كُلَّ مُصِيبَةٍ دُونَ مُصِيبَةِ الدِّينِ فَهَيِّنَةٌ ، وَأَنَّهَا فِي الْحَقِيقَةِ نِعْمَةٌ ، وَالْمُصِيبَةُ الْحَقِيقِيَّةُ مُصِيبَةُ الدِّينِ .

"Setiap musibah selain musibah agama merupakan hal yang ringan, dan pada hakekatnya itu sebuah kenikmatan (ujian). Musibah yang sebenarnya adalah musibah yang menimpa agamanya." (Madarij as-salikin:1/ 306)

Nabi shallallahu alaihi wasallam selalu berdoa kepada Allah agar Allah tidak menimpakan musibah atau ujian kepada beliau dalam urusan agama, yaitu doa beliau berikut ini:

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan (harta dan kemewahan) dunia sebagai cita-cita kami yang paling besar, dan tujuan utama dari ilmu yang kami miliki.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi V/528 no.3502, An-Nasa’I dalam As-Sunan Al-Kubro VI/106, Al-Hakim I/528, dan Ibnu As-Sunny dalam Amalul Yaum wa Al-Lailah no.445).

Maksud Doa tersebut adalah : “Jangan Engkau Jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami” maksudnya ialah janganlah Engkau menimpakan kepada kami suatu musibah yang menyebabkan berkurang atau hilangnya agama dan keimanan kami, seperti musibah berbuat kemurtadan, kemusyrikan dan kekufuran, atau memiliki keyakinan yang sesat dan batil, atau melalaikan kewajiban dan bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, melakukan hal-hal yang haram, atau berkuasanya orang-orang kafir dan munafik atas kaum muslimin, dsb. demikianlah maksud doa Nabi di atas.

Karena sesungguhnya musibah terbesar yang menimpa hamba adalah musibah yang  menimpa agamanya, musibah meninggalkan ketaatan, musibah terjerumus ke dalam kemaksiatan, musibah kerasnya hati, dan putus hubungan dengan Allah. Dan musibah ini jauh lebih dahsyat daripada musibah kehilangan istri, harta, dan anak. Bahkan hilangnya seluruh dunianya dirasa lebih ringan daripada yang menimpa agamanya. Kenapa bisa seperti itu? Karena agama adalah kekayaan yang paling mahal dan berharga bagi seorang mukmin. Karena dengan agama, dia akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan menjadi sebab keselamatan pada hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak.

Bahkan hilangnya seluruh dunianya dirasa lebih ringan daripada yang menimpa agamanya. Karena dengan agama, dia akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan menjadi sebab keselamatan pada hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak.

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar