Saat Jiwa Berbisik untuk Berbuat Dosa

18 Juli 12:26 | Dilihat : 679
Saat Jiwa Berbisik untuk Berbuat Dosa Ilustrasi

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

كل من حدثته نفسُه بذنبٍ فكرهه ونفاه عن نفسه وتركه لله ؛ إزداد صلاحاً وبِراً وتقوى

"Setiap orang yang jiwanya membisikkan kepadanya untuk berbuat dosa namun kemudian dia membencinya dan berusaha membuang bisikan tersebut dari dirinya lantas meninggalkannya karena Allah, niscaya akan bertambah kebaikan dan ketakwaannya." (Majmu' Fatawa 10/767)

Dalam sebuah riwayat diceritakan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَأَلُوهُ إِنَّا نَجِدُ فِى أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ « وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada Nabi lalu bertanya, ‘Sesungguhnya kami merasakan sesuatu dalam hati kami yang masing-masing kami menganggap (dosanya) besar bila diucapkan’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah kalian merasakannya?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Beliau bersabda, ‘Itulah keimanan yang nyata’ [HR. Muslim]

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “ ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ (Itu keimanan yang nyata) maksudnya adalah rasa takut kalian untuk mengucapkannya adalah keimanan yang nyata. Karena perasaan ini, sangat takut pada sesuatu, takut mengucapkannya, apalagi meyakininya, hanya dimiliki oleh orang yang imannya benar-benar sempurna, bersih dari keragu-raguan ataupun kebimbangan … Ada juga yang mengatakan bahwa makna sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah setan itu hanya membisikkan suatu yang buruk kepada orang yang dirasa tidak mampu dia sesatkan. Sehingga dia mengganggunya dengan bisikan buruk karena merasa tidak mampu menyesatkannya. Sedangkan orang kafir, setan bisa mendatanginya semaunya, setan tidak sebatas membisikkan keburukan, bahkan dia bebas mempermainkannya semaunya. Berdasarkan (pendapat) ini (dapat diketahui) bahwa bisikan buruk disebabkan oleh keimanan yang murni atau bisikan buruk adalah pertanda keimanannya murni. Pendapat ini dipilih oleh al-Qadhi ‘Iyadh”. [Syarah Muslim].

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam didatangi seseorang, lalu dia berkata, 'Sungguh aku merasakan dalam jiwaku yang seandainya aku menjadi burung merpati lebih aku sukai daripada aku mengucapkannya.' Maka Nabi shallallahu alaihi wa slalam bersabda,

 الحمد لله الذي رد أمره إلى الوسوسة (رواه أبو داود)

"Segala puji bagi Allah yang hanya dapat menggoda orang mukmin berupa bisikan." (HR. Abu Daud)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata dalam Kitab Al-Iman. Seorang mukmin akan diuji dengan bisikan setan dan bisikan kekufuran yang akan membuat dadanya sempit. Sebagaimana perkataan seorang shahabat, "Ya Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapatkan dalam dirinya yang sekiranya langit runtuh menimpa bumi, lebih dia sukai daripada dia berbicara tentang hal tersebut." Maka beliau bersabda, "Itulah iman yang nyata."

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar