Urgensi Kesadaran Beragama
Tafsir Surat Ar Ruum ayat 30
Allah SWT berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum: 30)
Tafsir
Imam Jalalain dalam tafsirnya menerangkan bahwa dalam ayat tersebut Allah SWT meminta kepada Rasulullah saw. dan kita umat Islam sebagai pengikut beliau saw. untuk mengikhlaskan agama hanya untuk Allah SWT semata. Sedangkan Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah SWT meminta baginda Rasulullah saw. meluruskan wajah beliau saw. dan meneruskan berjalan di atas syariat Allah SWT yang telah diturunkan kepada beliau saw. dimana hal itu merupakan sesuatu yang diharuskan oleh fitrah beliau saw. yang benar.
Ibnu Abbas r.a. dalam tafsirnya mengatakan hadapkanlah dirimu dan amalmu untuk agama ini, dengan tunduk menyerahkan diri, yakni Allah SWT berfirman ikhlaskanlah agama dan amalmu untuk Allah dan istiqomahlah di dalam agama islam yang merupakan agama Allah. Atas dasar agama islam itulah manusia diciptakan di dalam perut ibu mereka dan dikatakan ikutilah hari perjanjian itu. Agama Allah tidak berubah. Itulah agama yang benar lagi lurus. Tapi kebanyakan penduduk Mekkah tidak tahu bahwa agama yang benar (dinul haq) itu adalah agama Islam.
Az Zuhaili dalam tafsir Al Waisth menerangkan bahwa dalam ayat di atas Allah SWT memerintah Nabiyullah Saw. Sebagai pimpinan umat (qudwatul ummah) untuk menegakkan wajahnya kearah dinul mustaqim (agama yang lurus), yaitu dinul Islam. Menghadapkan wajah maknanya adalah meluruskan aqidah, dan membawa manusia untuk bertekad dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan agama. Ungkapan dengan menggunakan menghadapkan wajah karena wajah mengumpulkan semua indera manusia. Maksud ayat di atas adalah : Wahai Nabi saw., hadapkan diri dan hatimu kepada aqidah Islam dan ikuti syariatnya secara lurus dan berpalinglah dari seluruh agama yang menyimpang dan telah habis masa berlakunya. Ikutilah fitrah Allah dan ubahlah seluruh ajaran dan agama yang batil kepada ajaran agama yang benar.
Dalam beberapa ayat selanjutnya Allah SWT berfirman :
"dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmatdaripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya, sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu)."
Ibn Abbas dalam tafsirnya menerangkan bahwa Alllah SWT berfirman jadilah kalian orang-orang mukmin yang menghadap kepada Allah dengan taat dan taatlah kepada Allah pada seluruh apa yang Dia perintahkan kepada kalian. Dan tegakkanlah sholat lima waktu. Dan janganlah kalian bersama orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang meninggalkan dinul Islam dan menjadi beberapa kelompok yaitu Yahudi, Nasrani, dan berbagai kelompok agama lainnya, dimana masing-masing kelompok agama lain itu mengagumi agama mereka masing-masing sebagai agama yang benar. Apabila kaum kafir Mekkah itu ditimpa bahaya yang sangat, maka mereka menyeru kepada Tuhan mereka agar bahaya yang sangat itu dihilangkan. Mereka menghadap Allah dengan doa-doa kepada-Nya. Namun manakala mereka merasakan nikmat Allah kepada mereka, tiba-tiba orang-orang kafir itu menyamakan Allah dengan patung-patung berhala itu sehingga mereka mengkufuri nikmat yang Kami berikan. Silakan kalian hidup wahai penduduk Mekkah di dunia, niscaya kalian akan mengetahui apa yang akan dilakukan kepada kalian pada hari akhirat nanti!
Fitrah Manusia adalah Tauhid
Allah SWT telah menciptakan manusia dalam kondisi fitrahnya bermakrifat kepada-Nya, bertauhid bahwa tiada Dzat yang layak disembah kecuali Allah. Fitrah ini merupakan naluri keberagamaan (gharizah tadayyun) dimana manusia pada saat di tulang sulbi orang tuanya sudah diseru oleh Allah SWT agar mentauhidkan-Nya. Allah SWT berfirman:
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS. Al A’raf 172).
Fitrah manusia beragama dengan agama tauhid itu juga ditegaskan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya:
Tidaklah seorang bayi dilahirkan melainkan di atas fitrahnya (bertauhid kepada Allah), maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya jadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi…(Sahih Bukhari Juz 2/118).
Naluri beragama itu bersifat fitrah dalam diri manusia yang memang diciptakan oleh Allah SWT atas dasar fitrah tersebut. Namun, tidak jarang manusia yang diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan lemah, mudah terpedaya sehingga melakukan penyimpangan-penyimpangan dari fitrahnya. Sehingga manusia melakukan peribadatan kepada sesama manusia atau kepada makhluk-makhluk yang lain. Allah SWT mengoreksi penyimpangan bangsa penyembah matahari dan bulan dalam firman-Nya:
dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah. (QS. Fushilat 37).
Kesadaran beragama, kesadaran bertauhid, kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah SWT, dan kesadaran bahwa tugas hidup kita adalah senantiasa beribadah kepada Allah SWT semata sesuai syariat-Nya, ini sangat urgen dibangun dalam diri kita agar kesadaran beragama itu senantiasa hidup dalam situasi dan kondisi apapun dan menjadi pengarah dalam kehidupan kita sehari-hari dimana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja. Inilah deklarasi yang kita baca dalam doa iftitah sholat kita:
Benar-benar kuhadapkan diriku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus hanya kepada-Nya, dan tidaklah aku termasuk orang yang musyrik, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah Rabbul Alamin, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang menyerahkan diri (muslimin)” (Sahih Muslim, Juz 2/185).
Jika setiap muslim yang melaksanakan sholat lima waktu dengan sepenuh kefahaman dan kesadaran membaca doa iftitah di atas, maka akan terbangkitkan kesadaran beragama Islam secara kaffah dalam dirinya, sehingga seluruh hidupnya, detak nadinya, hembusan nafasnya, lintasan hati dan pikirannya, ucapan-ucapannya, langkah kakinya, maupun seluruh tindakan tangan dan anggota badan lainnya akan dipersembahkan hanya dan hanya untuk Allah SWT, Rabbul Alamin, dengan cara-cara yang telah disyariatkan oleh Allah SWT. Sehingga siapapun, dimanapun, dan apapun profesi dan jabatannya, akan mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan Allah Yang Maha Esa dan Kuasa yang telah mengutus Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw dan menurunkan Al Quran sebagai pedoman hidup manusia. Wallahua’lam!









