Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Iqra, Bacalah! - Iqra, Bacalah! Saturday, 15 October 2011 11:00... | Yang, Dan, Manusia, Allah, Dengan

Iqra, Bacalah!

altTafsir Surat  Al Alaq ayat 1-5

Firman Allah SWT:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[baca tulis], Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al Alaq: 1-5)

Tafsir

Ibnu Abbas dalam tafsirnya menerangkan bahwa Allah SWT berfirman : Wahai Muhammad, bacalah Al Quran. Bacalah dengan nama Tuhan-mu maknanya adalah bacalah dengan perintah Tuhan-mu. Tuhan yang telah menciptakan berbagai ciptaan. Dan yang telah menciptakan anak-anak Adam dari darah. Maka Nabi saw. berkata: wahai  Jibril, aku tidak bisa membaca. Lalu Jibril a.s. membacakan empat ayat pertama dari surat ini lalu berkata kepada Muhammad saw. : Wahai Muhammad, bacalah Al Quran. Dan Tuhan-mu sangat santun terhadap ketidaktahuan para hamba-Nya. Dialah yang mengajarkan tulisan dengan qalam, pena!  Yang mengajarkan manusia tulisan dengan qalam itu apa yang sebelumnya tidak diketahui manusia. Juga dikatakan bahwa tafsir ayat allamal insaana maa lam ya’lam adalah yang mengajarkan manusia, yakni Adam a.s., seluruh nama-nama benda-benda dan segala  sesuatu yang belum diketahuinya.  

Dalam Tafsir Al Wajiz diterangkan : bacalah Al Quran dengan nama Tuhamu. Dan ini atasnama Tuhanmu (Bismillahirrahmanirrahim) disebut setiap kali membaca awal tiap surat Al Quran. Tuhanmu yang telah menciptakan segala sesuatu dan berbagai makhluk yang ada. Dan Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah. Dan Tuhan-mu sangat santun terhadap kebodohan para hamba-Nya, Dia tidak tergesa-gesa menyiksa mereka. Dia mengajarkan dengan qalam  lalu menjelaskan apa yang Dia ajarkan.  Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui oelh manusia, yaitu khat dan tulisan. 

Dalam kita tafsir Fathul Qadir diterangkan bahwa perintah membaca dalam ayat tersebut maknanya bacalah apa yang diwahyukan kepadamu, atau apa yang diturunkan kepadamu, atau apa yang kamu diperintahkan membacanya. Bacalah dengan dan atas nama Tuhan-mu. Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan.    Disebutnya kata yang telah menciptakan untuk menyebut-nyebut nikmat, sebab penciptaan adalah nikmat yang paling besar. Allah menciptakan seluruh makhluk. Dia yang menciptakan seluruh anak Adam dari segumpal darah yang beku. Disebutnya manusia dalam ayat tersebut sebagai salah satu ciptaan, adalah untuk memuliakan manusia, karena dalam penciptaan  manusia ada kreasi dan keajaiban yang luar biasa. Lalu Allah SWT mengulang perintah iqra sebagai penegasan dan penetapan: kerjakanlah perintah membaca itu!  Sedangkan ayat iqra warabbukal akram maknanya adalah bacalah, dan Tuhanmu yang telah memerintahkan kamu membaca itu adalah Al Akram, yakni yang sangat penyantun terhadap ketidak tahuan para hamba-Nya, dan tidak tergesa-gesa memberikan sanksi kepada mereka.
  
Dialah yang mengajarkan tulisan kepada manusia dengan qalam.   Dengan sarana itu manusia mampu mengetahu segala hal yang tertulis.  Qatadah mengatakan, qalam merupakan nikmat yang besar dari Allah SWT. Kalau tidak ada qalam, agama tidak tegak dan kehidupan tidak layak. Ini menunjukkan kesempurnaan dari sifat pemurah-Nya dimana Dia tahu para hamba-Nya tidak berpengetahuan, maka dia pindahkan dari kegelapan kebodohan kepada cahaya ilmu. Dan Dia memberikan perhatian akan keutamaan ilmu penulisan yang mengandung manfaat yang besar yang tidak bisa diliput kecuali dengannya. Tidaklah disusun ilmu, tidaklah dibatasi hukum, tidaklah diingat kabar-kabar dan ucapan-ucapan orang-orang terdahulu, dan tidaklah dipelihara kitab-kitab Allah yang turun melainkan dengan tulisan. Kalau sekiranya tidak ada tulisan, maka urusan-urusan agama maupun urusan-urusan dunia tidak akan bisa ditegakkan. Dinamakan qalam karena dia artinya memutus. Dengan qalam Allah mengajarkan kepada manusia apa saja yang tidak diketahuinya, baik perkara-perkara kulliyyah (global) maupun juz’iyyah (perinciannya).

Riawayat Turunnya Ayat

Ibnu Katsir dalam tafsirnya   mengutip hadits riwayat Imam Ahmad bahwa di gua Hira’ rasulullah saw. didatangi malaikat Jibril yang berkata: Bacalah!  Rasulullah menjawab: Saya tidak bisa membaca!   Maka Rasulullah saw. menerangkan bahwa Jibril memeluknya erat-erat lalu melepaskan kembali dan berkata: bacalah!  Maka rasulullah saw. menjawab:  aya tidak bisa membaca!  Maka kejadian itu berulang hingga tiga kali dan setelah melepaskan diri rasulullah saw. dari pelukannya, jibril membacakan firman Allah SWT di atas dari ayat iqra sampai dengan maa lam ya’lam (Al Alaq 1-5). Maka rasulullah saw. bergegas kembali ke rumah istrinya, Khadijah, dan berkata: Selimutilah aku, selimutilah aku!  Beliau saw. mengabarkan hal yang dialaminya kepada istrinya sambil berkata: Aku takut akan diriku sendiri!

Khadijah berkata: “Tidak, bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Sebab engkau selalu menyambung silaturrahmi (tali kekeluargaan), selalu berkata benar, menanggung kehidupan orang yang sebatang kara, selalu memuliakan tamu, dan selalu membela kebenaran”. 

Lalu Khadijah membawa rasulullah Saw kepada sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah beragama Nasrani  dan menulis sebagian dari kitab Injil dalam bahasa Arab. Dia sudah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya: Wahai putra pamanku, dengarlah dari putra saudaramu. Waraqah berkata: Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?  Maka Rasulullah Saw, menceritakan apa yang beliau Saw lihat. Waraqah berkata: Itulah Namus yang telah datang kepada Musa a.s. Suatu hari di puncak gunung, Jibril berkata : Wahai Muhammad, engkau benar-benar utusan Allah!

Menyimpan Ilmu


Ibnu Katsir berkata hadits tersebut terdapat dalam kitab Shahihain (Bukhari Muslim). Ayat-ayat di atas merupakan ayat-ayat Al Quranul Karim yang pertama diturunkan. Ayat-ayat itu merupakan rahmat dan nikmat yang pertama kali dilimpahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya. Di dalamnya terdapat  perhatian tentang permulaan penciptaan manusia dari segumpal darah. Dan diantara sifat pemurah Allah adalah mengajarkan kepada manusa apa yang tidak diketahuinya, memuliakan manusia dengan ilmu. Inilah kemuliaan yang membuat Adam, bapak manusia, memiliki keistimewaan melebihi para malaikat. Ilmu terkadang di dalam benak, terkadang di lisan, dan terkadang di tulisan dengan jari-jari manusia. Tulisan mengikat apa yang di dalam benak maupun yang ada di lisan.  

Qurthuby dalam tafsirnya mengutip hadits dari sahabat Abdullah bin Umar yang berkata: Wahai Rasulullah, apaka harus kutulis apa saja yang aku dengar darimu? Rasulullah Saw menjawab: Ya, tulislah.  Sebab, sesungguhnya Allah telah mengajar dengan qalam. 

Al Qurtuby menerangkan ayat kelima dari Surat Al Alaq bahwa Allah SWT telah mengajarkan kepada Adam a.s. nama segala sesuatu (lihat QS. Al Baqarah 31),  tidaklah tersisa sesuatu kecuali Allah SWT ajarkan namanya dengan segala bahasa. Dan Adam menyebutkan nama-nama segala sesuatu itu kepada para malaikat sebagaimana yang Allah SWT ajarkan kepadanya. Dengan demikian tampaklah keutamaannya, jelaslah kemuliaannya, dan terbuktilah kenabiannya, dan tegaklah hujjah Allah dan hujjahnya kepada para malaikat. Lalu pengetahuan Adam itu diwarisi oleh anak cucunya, dan berpindahlah pengetahuan Adam dari satu kaum kepada kaum yang lain.   Dikatakan juga bahwa pengajaran Allah SWT kepada manusia itu bersifat umum kepada seluruh manusia berdasarkan ayat : dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahl 78).

Kesimpulan

Allah SWT memerintahkan Rasulullah Saw untuk membaca dan membaca Al Quran sambil memberikan informasi bahwa Allah SWT yang menciptakan manusia dan memuliakan manusia dengan memberikan ilmu pengetahuan dengan bacaan dan tulisan. Rasulullah Saw memerintahkan Abdullah bin Umar untuk menuliskan perkataan-perkataan (hadits) beliau saw. Jika umat ini mau meraih kembali kemuliaannya, maka umat ini harus melakukan gerakan cultural (harakah tsqafiyah) berupa memperbanyak membaca Al Quran dan As Sunnah serta ilmu-ilmu tsaqafah Islamiyyah yang terpancar dari keduanya dan menuliskan hasil bacaan mereka sehingga ilmu-ilmu itu bersemayam dalam diri mereka.
Wallahua’lam!

 

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
 
PENCARIAN
Advert