Welcome My Second Country’s President
Barack Obama sama saja dengan Presiden Amerika Serikat lainnya yang berkepentingan melestarikan hegemoni kapitalisme di dunia. Termasuk di dalamnya menghancurkan kekuatan Dunia Islam melalui operasi War on Terror. Presiden RI mau jadi bawahannya?.
Sampai naskah ini ditulis, Istana kabarnya deg-degan. Presiden Amerika Barack Hussein Obama, memang sudah dijadwalkan untuk ke Indonesia, Sabtu 20 Maret 2010. Tapi, bisa jadi jadwal itu berantakan lantaran dalam waktu berdekatan dia menghadapi agenda penting dalam negeri.
Bloomberg, dalam berita bertajuk Obama’s Health-Care Push May Collide With Trip to Indonesia, menyebut bahwa pembantu-pembantu utama Obama masih bimbang dengan rencana kunjungan AS-1 ke Indonesia. Pasalnya, Obama harus mengawal pemungutan suara di Kongres agar skema jaminan kesehatan disetujui.
Obama direncanakan meninggalkan Washington DC pada 18 Maret untuk keluar negeri selama sepekan. Sementara, pada 29 Maret mendatang, Kongres akan memasuki masa reses selama dua minggu. Memulai kembali pembicaraan mengenai UU Jaminan Kesehatan di paruh kedua bulan April dianggap terlalu lama, mengingat perdebatan tentang UU Jaminan Kesehatan telah menyita perhatian publik selama berbulan-bulan.
Sehari sebelumnya, Obama telah meminta agar Kongres yang dikuasai Partai Demokrat menyetujui UU Jaminan Kesehatan dalam beberapa minggu. Dia juga berjanji akan “doing everything in my power” untuk membela anggota Fraksi Partai Demokrat.
Nah, Bloomberg mengutip pendapat beberapa anggota Kongres seperti Elijah Cummings dari Demokrat, yang mengatakan akan lebih baik bila perjalanan Obama ditunda sampai urusan dengan UU Jaminan Kesehatan selesai.
“Saat seperti sekarang ini tidak sering. Kita berada di saat yang krusial,” ujar Cummings.
Mantan Kepala Staf Presiden Ronald Reagen, Ken Duberstein, juga senada. Menurutnya, di era modern seperti sekarang, Obama dapat saja dengan mudah berhubungan dengan Kongres walau sedang berada di luar negeri.
“Secara realistis, dia dapat melakukan hal itu melalui pembicaraan telepon dari tempat di manapun dia berada. Tetapi, simbolisasi dari kehadirannya di sini menambah derajat keseriusan menjelang perdebatan,” ujarnya.
Jakarta deg-degan bila Obama tak jadi datang, karena kehadiran Presiden Amerika Serikat sangat berarti bagi kekuasaan Presiden Susilo BambangYudhoyono.
Secara pribadi, Presiden SBY memiliki hubungan emosional dengan Negeri Paman Sam. Dia misalnya, banyak mengikuti pendidikan di AS. SBY meraih MA dari Webster University AS, mengikuti Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di Panama (1983), dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991).
"I love The United States, with all its faults. I consider it my second country," ikrar SBY sebelum menjadi Presiden RI, seperti dikutip The International Herald Tribune dan Aljazeera.
SBY pernah disambut hangat Persiden George W Bush tatkala sowan ke Amerika. Kala itu Bush, yang biasanya sering keseleo lidah dalam mengucapkan sesuatu yang baru secara berulang, hebatnya sangat fasih menyebut nama anak-anak SBY dan memperkenalkan kepada hadirin. Bahkan dia tahu pasti jadwal pernikahan putra SBY dengan Anissa Pohan.
Bagaimanapun, ‘’restu’’ Amerika berperan penting dalam menentukan puncak kekuasaan di Negeri Muslim Terbesar di Dunia. Presiden Soekarno dikerjain Amerika karena bersemboyan Inggris Kita Linggis Amerika Kita Seterika. Setelah bertahun-tahun didukung, Presiden Soeharto akhirnya dijatuhkan Amerika lewat operasi moneter dan keamanan. Krisis ekonomi-moneter dan kerusuhan massal, membuat Soeharto longsor pada Mei 1998. Presiden Habibie dijatuhkan lewat kasus pelepasan Timtim, padahal dulu Amerika yang getol mendukung Indonesia menganeksasi Timtim. Presiden Gus Dur yang susah diatur, tidak dibelanya dari gempuran DPR-MPR yang membuatnya jatuh. Presiden Megawati yang antara lain menolak mengerangkeng Abu Bakar Baasyir, juag bernasib sama.
Koran elite Singapura Business Times edisi 10 April 2004, menulis bahwa Presiden Amerika George W Bush mendukung pasangan SBY-Kalla sebagai Capres-Cawapres RI 2004-2009. Editorial Asian Wall Street Journal juga menyatakan serupa. Menurutnya, SBY didukung Bush karena segendang seirama dalam War on Terror.
Ketika Bush longsor dan Barack Obama jadi Presiden AS, SBY berusaha keras mendekatinya. Misalnya dengan segera memberi ucapan selamat begitu Obama memenangi pilpres Amerika. Istana juga berupaya agar SBY bisa memberi langsung foto Obama kecil sewaktu bersekolah di SDN Menteng 01 Jakarta Pusat kepada Presiden AS. Tapi, foto itu hanya diterima staf Obama, sedangkan Obama cuma menelepon.
Menurut Direktur Institute for Policy Studies, Amran Nasution, Obama menghindar karena tidak mau ‘’dimanfaatkan’’ oleh SBY yang dianggap sebagai anak emas Bush. Sebab, Obama dalam kampanyenya justru memposisikan diri sebagai antitesa Bush.
Pengamat politik Faizal Assegaf mengungkapkan, mantan Menkes Siti Fadillah pernah mengatakan kepadanya bahwa Obama tidak sepenuhnya mendukung rezim SBY. Menurutnya, Obama sangat tahu kalau SBY dan kubunya, adalah bagian dari jaringan Neolib yang loyal kepada kelompok Bush.
Siti Fadillah memberi contoh, begitu Obama terpilih menjadi presiden, sikap Dubes Amerika di Jakarta secara drastis berbalik mendukung kebijakannya untuk meninjau keberadaan Namru-2 di Indonesia. Pendekatan diplomatik Dubes Amerika itu, jelas memberikan pesan khusus bahwa, Gedung Putih hendak membuka diri dan menjalin kerjasama yang lebih transparan dengan Indonesia.
Namun, sinyal dari Dubes Amerika yang merupakan representasi political will Obama, justru dihadang oleh SBY. Yakni, SBY membalas dengan menunjuk Endang Rahayu Sedyaningsih, yang pernah berkarir di WHO, Jenewa, Swiss sebagai penganti Siti Fadillah. Dan terbukti, jebolan Harvard School of Public Health ini usai dilantik menjadi Menkes, ia langsung menyampaikan bahwa, kehadiran Namru-2 di Indonesia sangat dibutuhkan.
Kini, Barack Obama sangat berkepentingan ke Indonesia, terutama untuk membendung serbuan ekonomi China ke Asia dengan ditekennya perjanjian AFTA-C. Amerika juga punya kepentingan dengan penguasaan tambang Indonesia. Dia pun berkepentingan menjamin ‘’keselamatan’’ agen-agen Neolib-nya di pemerintahan, yang tengah terancam longsor akibat skandal Century.
So, bagi SBY, welcome my second country’s President. Karpet Merah pun digelar lebar-lebar guna menyambut kedatangan Obama. Pojok karikatur Koran Tempo menggambarkan, Jakarta telah menyetor gratis ‘’teroris’’ kepada Obama.
Seperti tonil Temanggung, modus penggerebekan Dulmatin cs di Pamulang beberapa waktu lalu juga tidak lucu. Sebagaimana Dr Azahari dan Noordin M Topp, Dulmatin juga langsung disikat habis. Dia dan dua rekannya memang diberi tembakan peringatan, yaitu peringatan untuk tidak usah buka mulut lagi karena langsung menuju alam kubur. Lagi-lagi kasus teroris menjadi X-File, kecuali berita sepihak dari aparat keamanan.
Kehadiran Obama juga bakal disambut dengan klangenan Menteng. Patung Obama sudah dibuat, dan serangkaian acara sudah dipersiapkan. Seolah-olah sejarah Obama kecil di Indonesia akan membuat Amerika ramah tamah pada negeri ini.
Faktanya, mantan Dubes AS di Jakarta Paul Wolwofitz yang istrinya fasih berbahasa Jawa dan lama mondok di sini mengikuti program AFS, tidak memberikan manfaat ke Indonesia kecuali kemudaratan besar. Dia ikut campur urusan Indonesia sejak kerusuhan massal, penguasaan tambang, sampai pemilihan presiden.
Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew yang kini Senior Citizen Negeri Singa, ternyata berasal dari Semarang. Tapi, lidahnya tajam memusuhi Muslim Indonesia. Dia misalnya, sengit pada Presiden Habibie dan berkoar-koar soal terorisme di Indonesia.
Lebih tragis lagi bila Presiden Amerika Serikat disambut dengan setoran operasi anti-terorisme. Seolah-olah dia adalah panglima pembebas dunia dari terorisme. Padahal, Human Right Report 2002 dan Human Right Watch di New York dalam laporannya 16 Januari 2002 menyimpulkan: "Amerika Serikat dan pemerintahan George Walker Bush adalah pelanggar Hak-hak Asasi Manusia berat terbanyak di dunia."
Robert Kagan, pakar hubungan internasional dari Amerika, dalam bukunya Of Paradise and Power (2003), menguraikan falsafah politik luar negeri Amerika yang menganut paham Hobbesian. Amerika memposisikan diri sebagai Polisi Dunia untuk mewujudkan ‘’The World Order’’.
Pada 1833, militer Amerika menyerbu Nicaragua. Agresi menandai ekspansi militer AS ke negara-negara sekitarnya bahkan juga China, Vietnam, dan Jepang.
Yang paling banyak diserbu Amerika adalah Dunia Islam (Arab, Timur Tengah, Afghanistan, Pakistan, Bosnia, Somalia, Dharfur, dll). Sehingga, seperti dikatakan Prof Richard Bulliet dari University of Columbia: ‘’Orang-orang Amerika Serikat suatu ketika akan meyakini tanpa perlu bukti apapun bahwa ancaman teroris selalu datang dari kaum Muslim fanatik.’’
Dari 44 organisasi di seluruh dunia yang didaftar US Depertement of State sebagai ‘’teroris’’, kebanyakan adalah kelompok Islam yang memusuhi Amerika dan Israel. Padahal, merujuk data FBI selama periode 1982-1992, ternyata operasi teror yang terjadi di Amerika dilakukan oleh orang atau golongan non-Muslim. Misalnya: 72 teror oleh orang Puerto Rico, 23 oleh kalangan kiri, 16 serangan oleh kelompok Yahudi, 12 serangan oleh orang-orang Cuba anti-Castro.
Demikian pula, serangan bersenjata anti-Amerika di luar negeri umumnya di luar Dunia Islam. Misalnya, selama 1994 sebanyak 44 serangan terjadi di Amerika Latin, 5 kali di Asia, 5 kali di Eropa Barat, dan 4 kali di Afrika, serta 8 kali di Timur Tengah.
Menurut Robert Bowman, bishop pada United Catholic Church di Florida, Amerika menjadi target terorisme karena di banyak negara pemerintahan AS mendukung kediktatoran, perbudakan, dan eksploitasi manusia.
Saat Amerika Serikat merayakan Hari Kemerdekaan 4 Juli 2002, koran terkemuka Inggris, Daily Mirror, memuat artikel John Pilger sebagai headline. Dalam tulisannya, Pilger menyebut Amerika sebagai ‘’Negara Bajingan’’ (Rogue State).
Di bawah judul Pagi Hari pada Empat Juli, Pilger menyatakan korban sipil Afghanistan yang tewas akibat bom-bom yang dijatuhkan AS, jauh lebih banyak daripada korban Serangan WTC 11 September 2001.
Lebih jauh, Pilger yang pernah memenangkan penghargaan di bidang dokumentasi jurnalistik, menyatakan Presiden George W Bush mengangkangi hukum internasional dengan kebijakan pre-emptif: ‘’tembak dan bom dulu, urusan belakangan’’. Salah satu akibatnya, kata Pilger, adalah serangan bom atas pesta pernikahan di Afghanistan yang menewaskan 40 warga sipil.
‘’Saat ini, AS adalah negara teroris yang menyebut dirinya sebagai pemimpin dunia. Memberi jalan bagi militernya untuk melakukan pembunuhan sistematis dalam operasi di Afghanistan,’’ tegas Pilger.
Obama, justru kini membuktikan janji dalam kampanyenya untuk memindahkan pasukan AS dari Irak ke Afghanistan.
Barack Obama juga naik jadi presiden AS dengan komitmen untuk mendukung sepenuhnya Negara Teroris Israel. Dalam kunjungannya ke Tembok Ratapan, Israel, 23 Juli 2007, Obama berjanji akan mendukung dan menjamin keamanan Israel. Janjinya dipertegas dengan mengenakan kopiah khas Yahudi, sambil meletakkan karangan bunga putih di museum peringatan Yad Vashes Holocaust.
“Saya memiliki komitmen yang jelas dan kuat atas keamanan Israel sekutu terkuat kita di wilayah itu dan satu-satunya wilayah itu negara dengan demokrasi yang mapan. Dan itu akan menjadi titik awal saya,” tutur Obama, sebagaimana dikutip New York Sun Editorial.
Pada Pebruari 2007, Capres Obama juga berjanji kepada Dewan Demokrasi Yahudi Nasional: “Jika saya menjadi presiden Amerika, maka negara ini harus bahu membahu dengan Israel. Mereka yang telah bekerja dengan saya di Chicago pada Dewan dan sekarang ada di Senat AS akan menyaksikan bahwa saya bukan cuma omong besar. Saya akan melakukan apapun jika menyangkut keamanan Israel.”
Ironisnya, dengan semua sepak terjangnya itu, Presiden Obama justru mendapat Nobel Perdamaian.
Jika SBY berusaha memiripkan partainya dengan Partai Demokrat Amerika, berarti dia memposisikan diri sebagai musuh dunia Islam. Sebab, Partai Demokrat AS tidak beda dengan Partai Republik di negeri itu.
Partai Republik mempunyai ideologi konservatif, lebih suka perang dalam menyelesaikan masalah dengan negara lain. Dalam sejarah negara ini, kelompok konservatif dulunya adalah pendukung perbudakan yang mempunyai basis di Amerika Serikat bagian Selatan.
Partai Demokrat mempunyai ideologi liberal yang tidak menyukai perang, pro perdagangan bebas, lebih suka menyukai pendekatan diplomasi dalam mengatasi masalah hubungan internasional.
Tapi, kedua partai sepakat untuk mempertahankan komitmen politik tertentu yang tak bisa ditawar-tawar. Eddy Maszudi, Pengamat Masalah Politik Internasional dan Ketua Umum Centre Strategic for Development and International Relations (CSDIR), menjelaskan, dalam budaya politik AS dikenal lima hal yang tabu dibicarakan, atau dibongkar. Yakni satu, tidak boleh mengotak-atik hak-hak istimewa bangsa Yahudi baik itu di bidang ekonomi dan lobi. Dua, presiden AS harus laki-laki. Tiga, presiden AS harus keturunan Inggris atau Anglo Saxon. Empat, presiden AS harus beragama Protestan/Anglikan. Lima, AS akan tetapi melindungi bangsa Israel, siapa pun yang berkuasa.
Seperti dikutip Paul Findley dalam buku ‘’Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship’’ (1993), prinsip dasar politik Demokrat memang mendukung Israel.
Michael Moore, sineas cerdas Amerika, dalam bukunya ‘’Stupid White Men’’, menguraikan bahwa Republik maupun Demokrat adalah hamba kapitalisme global.
Membandingkan Demokrat dan Republik, Moore menulis: “Demokrat mengatakan sesuatu dan melakukan hal yang lain. Mereka bermain di belakang tabir dan bekerjasama dengan para penjahat untuk membuat dunia semakin kotor dan rusak. Sedangkan, kelompok Republik melakukan kejahatan dengan terang-terangan. Inilah perbedaan dua partai besar di AS.”
Mengingat ikrar SBY yang menganggap Amerika sebagai Tanah Air keduanya, anggota Komisi I DPR, Ahmad Basarah, khawatir dengan niat mengundang Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia. "Justru saya khawatir dari pernyataan itu, SBY tetap menempatkan dirinya sebagai bawahan Barack Obama," ujar Ahmad Basarah seperti dikutip Rakyat Merdeka Online (21/2). [nurbowo]
Last Updated (Monday, 22 March 2010 15:40)









