Panggung Sandiwara Untuk Obama
Parodi operasi terorisme digelar di tanah air menjelang kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Benarkah hanya sekadar upaya mendongkrak simpati? Lalu apa tujuan Obama ke Indonesia?
Keributan tiba-tiba membuncah di warung kecil Mak Sipit di gang Asem, Pamulang, Tangerang, Banten, menjelang Dhuhur, Selasa, 9 Maret lalu. Sesosok tubuh berpenutup wajah menerjang masuk, menabrak meja dagangan, lalu tersuruk ke kolong.
Rupanya ia dikejar seorang lelaki berpistol. Orang itu langsung merangsek, memiting dan merenggut penutup wajahnya. Ternyata dia seorang lelaki. Setelah berkutat sebentar, orang berpistol itu menarik pelatuk senjata di tangannya. “Dor …” Lelaki berpenutup muka itu langsung terkulai. Ia tewas di tempat.
Lelaki berpenutup wajah itu sebenarnya baru saja terlempar dari punggung motor Suzuki Thunder warna biru yang diboncengnya. Motor yang dikendarai kawannya itu terpental setelah menghantam undakan jalan, saat mereka berupaya kabur. Ketika lelaki itu menghambur masuk ke warung, si pengendara motor langsung disergap lelaki lain yang juga bersenjata pistol. Pistol itu menempel di kepala si pengendara motor. Sedetik kemudian pistol itu menyalak. “Setelah ambruk, dia ditembak kakinya tiga kali,” kata seorang saksi mata. Nyawa lelaki itu melayang.
Adegan penyergapan di gang Asem itu adalah kelanjutan sebuah babak drama lainnya yang berlangsung di Warung Internet Multiplus, satu setengah kilometer dari gang Asem. Beberapa menit sebelum pencegatan di gang Asem, serombongan polisi rupanya telah mengepung warnet berlantai dua itu. “Beberapa orang polisi naik ke lantai dua, dan tak lama kemudian terdengar bunyi beberapa tembakan,” kata Sidiq, seorang petugas Warnet Multiplus. Seorang laki-laki tewas di salah satu bilik warnet dengan tujuh lubang peluru di tubuhnya.
Nun jauh di Nagroe Aceh Darussalam, drama lain berlangsung tak kalah seru. Cerita bermula sejak pertengahan Februari ketika polisi menyergap segerombolan orang yang konon sedang latihan militer di pedalaman hutan Jantho, Aceh Besar. Beberapa orang tertangkap, namun seorang warga sipil tewas kena pemuru aparat. Awal Maret, masyarakat dikejutkan dengan kisah tertembak matinya tiga polisi dan terlukanya beberapa orang lainnya. Polisi lalu menggelar operasi, berhasil menangkap dan menembak mati beberapa orang yang diduga teroris.
Tak pelak, setelah gempuran tayangan drama penyerbuan Pamulang dan Aceh usai, masyarakat mulai bertanya-tanya, mengapa setelah setengah tahun lebih berita tentang terorisme sepi karena tertimpa berita tentang kasus Cicak lawan Buaya dan Kasus Bank Century, kini hantu itu seolah bangkit kembali. Apalagi dalam kasus terakhir, muncul nama-nama yang (di)seram(-seramkan). Misalnya, lelaki yang ditembak mati polisi di warnet Multiplus ternyata bernama Yahya Ibrahim alias Dulmatin. Ia disebut-sebut sebagai perakit bom Bali I. Dua orang yang ditembak mati di gang Asem konon dua pengawalnya, Hassan Noor dan Ridwan.
Adapun segerombolan pemuda yang ditangkap di pedalaman Aceh, disebut sebagai sel baru Jamaah Islamiyah, yang dikendalikan Dulmatin bersama Pura Sudarma alias Jaja dan Enceng Kurnia. Dua orang ini tewas dalam penyergapan di Aceh. Sebutan aparat pun lengkap. Jika Jaja diterangkan sebagai guru terdakwa mati kasus Bom Bali I, almarhum Imam Samudera, Enceng yang belum lama keluar dari LP Cipinang dikatakan sebagai pelatih militer.
Hebatnya, kelompok Aceh sempat pula merilis video latihan mereka di situs video gratis Youtube. Sementara, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Bekas Panglima Gerakan Aceh Merdeka Muzakkir Manaf sampai menyempatkan diri datang ke Jakarta, bahkan menjenguk TKP di Warnet Multiplus. Saking semangatnya, Irwandi Yusuf keceplosan bicara. “Kasus ini membuktikan bahwa GAM bersama Polisi telah bahu-membahu untuk mengungkap adanya jaringan teroris di Aceh,” kata Gubernur yang pernah menjadi Tokoh Intelektual GAM ini.
Padahal, menurut sumber Suara Islam di Pejaten Selatan, adanya kelompok bersenjata di Aceh itu sudah cukup lama diketahui. Konon mereka bersaing dalam bisnis senjata yang dipasok ke perkebunan-perkebunan di Aceh dengan para bekas GAM. “Karena merasa tersaingi, eks GAM kemudian melaporkan saingannya kepada polisi,” kata sumber itu. Kebetulan, dalam pantauan polisi akhirnya diketahui ada orang-orang yang menjadi target operasi.
Mayoritas kaum muslimin Indonesia sebenarnya tidak menyetujui cara-cara terorisme untuk berjuang. Tapi setelah menyaksikan berbagai kejanggalan di tayangan media dalam kasus-kasus penanganan terorisme, masyarakat mulai bertanya-tanya: mengapa semua tersangka ditembak mati? Bukankah selama ini banyak tersangka yang berhasil diringkus hidup-hidup? Haruskah polisi membunuh mereka? Apa pula kaitannya dengan Aceh? Apa pula kaitannya dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack “Barry” Obama?
Cari Muka Kepada Amerika
Polisi selalu berdalih bahwa para tersangka melawan petugas dan membawa senjata, sehingga terpaksa ditembak mati. Namun, jika waktu diputar ke belakang, sebenarnya banyak tersangka teroris sejak bom Bali I yang ditangkap hidup-hidup. Misalnya Amrozi, Mukhlas, Imam Samudera, Musthafa, Nasir Abbas, Ali Imron dan sebagainya. Padahal, mereka melawan saat ditangkap. “Tangan seorang polisi yang menangkap Nasir Abbas patah ketika menangkap ketua Mantiqi III yang kini sudah insyaf itu,” kata seorang pensiunan pejabat polisi.
Bagi polisi, penangkapan mereka dalam kondisi hidup sebenarnya sangat mempermudah kerja mereka. Sebab, dari interograsi mereka, jaringan berhasil dikuak. Bahkan beberapa orang di antara mereka berhasil direkrut menjadi informan. Mereka pun mau menunjukkan keberadaan organisasi dan kawan-kawan mereka. Selain Nasir Abbas, Ali Imran, Ali Fauzi, dan Farikhin, kini justru menjadi narasumber-narasumber utama polisi untuk mengejar kelompok mereka.
Situasi saat penggerebegan Dulmatin dan dua pengawalnya menarik untuk dicermati. Sebab polisi berkali-kali menegaskan bahwa Hasan dan Ridwan pengawal Dulmatin. Sebagai pengawal, seharusnya mereka selalu bersama bosnya, serta ditangkap dan ditembak mati di sekitar warnet Multiplus. Tapi pada kenyataan, mereka didor di gang Asem, satu kilometer dari warnet. Lalu mengapa kedua orang itu membiarkan bosnya meregang nyawa sendiri?
Ditembakmatinya dua pengawal Dulmatin dikritik banyak pihak. Tak hanya tokoh Islam, kalangan LSM dan pengamat pun bersuara sama. Sebab, berdasarkan penjelasan saksi, kedua orang itu sudah berhasil diringkus. Jika akan dilumpuhkan, seharusnya kaki mereka sasarannya, bukan kepala. “Ini tidak sesuai falsafah polisi. Polisi tidak berhak mengadili sendiri,” kata bekas anggota Dewan Pertimbangan Presiden Adnan Buyung Nasution di kantornya, Jumat (12/3) lalu.
Buyung menilai tindakan polisi telah menyalahi prosedur hukum. Sebab secara doktrin, polisi tidak boleh mengadili penjahat. Tugas polisi hanya menangkap yang bersalah lalu menyerahkan ke pengadilan. Setelah itu biarlah pengadilan yang mengadili dalam persidangan. “Kalau menembak mati jadi kebiasaan polisi, hal itu justru menjadikan si teroris sebagai idola dan pahlawan karena mereka mati sebagai martir,” kata Buyung pula.
Imparsial juga menyesalkan langkah polisi. Menurut Direktur Pelaksana LSM Imparsial Poengky Indarti, seharusnya perlakuan polisi lebih manusiawi. “Walaupun teroris, dia memiliki hak asasi manusia. Dia memiliki hak membuktikan di depan pengadilan apakah salah atau tidak,” ujarnya. Eksekusi saat penyergapan DR Azahari, Noordin M Top, Ibrohim, Syaifudin Zuhri, hingga Dulmatin dinilainya melampaui batas. “Kontraterorisme penegak hukum sudah tidak proporsional, melampaui batas, dan menabrak norma HAM,” ujarnya.
Rumor liar justru muncul. Beberapa pengamat menduga, eksekusi saat penangkapan itu dimaksudkan untuk memotong jalur informasi. Sebab, di kalangan intelijen telah beredar rumor bahwa sebenarnya para informan polisi telah disebar dan bahkan mengawal target, sehingga polisi tinggal mencari waktu yang paling tepat untuk bergerak dan menangkap mereka. “Bukan tidak mungkin dua orang pengawal Dulmatin itu sebenarnya informan. Dia dilenyapkan supaya rahasia intersepsi tidak terbongkar,” kata seorang pengamat intelijen.
Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Amal Tamagola berpendapat lebih tegas. Selain menilai tembak mati atas tersangka teroris di Pamulang berlebihan, aksi Datasemen Khusus 88 itu sebenarnya ditujukan untuk menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. “Ini sekadar pengalihan isu dan cari muka pemerintah atas kedatangan Obama,” ujarnya di Mahkamah Konstitusi, Rabu (10/3) lalu.
Menurut Thamrin, dengan ditembaknya tiga tersangka teroris itu pemerintah Indonesia ingin menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa Indonesia gencar dalam memerangi teroris. Sementara itu, Adnan Buyung mengritik Presiden SBY yang mengumumkan terbunuhnya Dulmatin saat sedang berada di Parlemen Australia. “Seharusnya diumumkan di Indonesia dulu, baru di Australia,” ujarnya. Pengumuman di parlemen asing itu sangat terkesan mencari muka.
Tapi pemerintah tampaknya belum merasa puas dengan pertunjukan drama penangkapan teroris di Pamulang maupun di Aceh. Dalam seminggu terakhir, TNI dan Polisi terus menggelar latihan gabungan penanggulangan teror di Jakarta dan di beberapa wilayah yang akan dikunjungi Obama seperti Bali dan Yogyakarta. Di Jakarta, lima titik menjadi lokasi latihan gabungan penanggulangan teroris yakni di Hotel Borobudur, Hotel Gran Mercure Ancol, Bandara Soekarno-Hatta, Pengeboran Lepas Pantai Kepulauan Seribu dan Bursa Efek Indonesia.
Persiapan itu bukan tanpa sebab. Setelah sempat ditunda, pada 23 Maret nanti Obama dijadwalkan datang ke Indonesia. Lucunya Panglima TNI Djoko Santoso justru membantah jika latihan gabungan itu berkaitan dengan kedatangan Obama. “Yang melatari kegiatan rutin ini adalah serangan teroris di Bombay,” ujarnya di Silang Monas, Kamis (11/3). Padahal, setelah itu Djoko mengatakan bahwa pengamanan Obama saat datang ke Indonesia nanti berada di bawah koordinasi TNI, sementara polisi berada di ring II dan III.
Tiga minggu sebelum hari H kedatangan Obama, aparat Indonesia telah bekerja keras untuk mengamankannya. Karena Obama akan ke empat lokasi di Bali termasuk Ubud dan Uluwatu, Polda Bali menggelar rapat koordinasi dengan jajarannya, Kamis (11/3) lalu. “Kami sudah koordinasi dengan Secret Service Gedung Putih, terkait pengamanan sebelum kedatangan, tiba, hingga kembali ke negaranya,” kata Kapolda Bali Irjen Pol Sutisna.
Untuk mengamankan Obama, Polda Bali mengerahkan 2.432 personel. Lalu, sedikitnya tujuh Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dari Lantamal 5 Surabaya, telah merapat ke Bali sejak Jumat 12 Maret 2010. Persiapan sambut Obama ini untuk mengamankan jalur laut, dengan sandi operasi "Gugus Tempur Laut". “Tujuh kapal perang ini di bawah komando Lantamal TNI AL V Surabaya, dan tetap berkoordinasi dengan Kodam IX Udayana serta pihak Amerika Serikat,” kata Komandan Pangkalan Angkatan Laut, Kolonel Laut Wayan Suarjaya.
Tak urung, soal pengamanan Obama dikritik anggota Komisi I DPR dari PKS, Hidayat Nurwahid. Ia berharap pengamanan Obama tidak seperti saat kedatangan Presiden George W Bush. Sebab, kata Hidayat, dalam dua kali kunjungannya ke Indonesia kedaulatan Indonesia sebenarnya telah dilangkahi. Misalnya piranti pengamanan seperti metal detector, protokoler dan pengamanan semua dilakukan Amerika. “Kondisi ini membuat Indonesia menjadi negara yang tidak berdaulat,” ujarnya.
Pro Kontra Sambut Obama
Kedatangan Obama ditanggapi beragam. Para pemimpin dan komprador asing tentu saja senang dengan kedatangan Obama. Syafii Ma’arif misalnya. Pemimpin Maarif Centre itu menilai tak ada alasan bagi ummat Islam untuk menolak Obama. “Mengapa harus ditolak. Bila dibandingkan dengan Bush, Obama jauh lebih lunak, walaupun belum membuat puas,” ujarnya. Meski menyadari janji Obama untuk memperbaiki hubungan dengan dunia Islam belum sepenuhnya terbukti, ia memandang realistis bahwa Obama juga harus menghadapi dinamika politik dalam negeri.
Bekas Presiden PKS Tifatul Sembiring juga menyambut positif kedatangan orang nomor satu di Amerika itu. “Banyak hubungan kita dengan Amerika,” kata Tifatul yang kini menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi itu saat ditemui di Silang Monas, Kamis (11/3). Menurut dia, ada kepentingan kedua belah pihak, baik Indonesia maupun Amerika dalam pertemuan bilateral nanti. Saat ditanya kepentingan Obama ke Indonesia, sambil bergurau ia menjawab, “Mau jual Boeing mungkin."
Terkait sikap Tifatul Sembiring yang tampak sangat kooperatif dengan kehadiran Obama di Indonesia, pengamat politik Burhan Muhtadi menilai, sikap itu akan berdampak kepada pemilih PKS. “Pemilih PKS bisa mencurigai sikapnya sebagai upaya mendekat ke SBY, apalagi pasca memanasnya hubungan PKS dengan SBY pada sidang paripurna pekan lalu,” ujar Burhanuddin.
Sementara itu, penolakan kedatangan Presiden Obama ke Indonesia terus bermunculan. Di berbagai daerah, ribuan ulama menolak kedatangan Obama, seperti di Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta dan sebagainya. Unjuk rasa pun digelar di mana-mana. Kelompok-kelompok yang menolak antara lain dari Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI), Front Pembela Islam (FPI), Jamaah Anshorus-Sunnah, Hizbut Tahrir Indonesia, Forum Silaturahmi Ulama dan Habaib, Himpunan Mahasiswa Islam, BKLDK dan berbagai gerakan mahasiswa lainnya.
Menurut mereka, tak ada satu alasan apapun untuk menerima kedatangan Obama. Sebab, Amerika telah memerangi kaum muslim dan menjadi sekutu setia Israel. Di Afghanistan, Obama justru menambah pasukan penggempur Taliban. Soal Palestina, Obama mendukung Jerusalem menjadi ibu kota Israel dan hanya diam saja saat Gaza digempur Israel. Sementara di Irak, Amerika masih menguasai sebagian besar hajat hidup warga muslim Irak. Di negara-negara lain pun arogansi Amerika sangat terlihat nyata.
Karena itu, dari Jawa Tengah, Pimpinan Pesantren Al Mukmin Ngruki, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menolak keras kedatangan Obama. Ia menilai negara adikuasa itu sebagai musuh Islam. “Tapi penolakan saya hanya lewat lidah, tidak bisa dengan gerakan,” ujarnya, Jumat (12/3) lalu. Menurut Ustadz sepuh itu, Amerika Serikat dan sekutunya punya agenda tersembunyi dengan alasan perang melawan teroris. "Karena itu, mereka musuh,” ujarnya tegas.
Menurut Juru Bicara HTI Ismail Yusanto, penolakan mereka disebabkan karena Obama adalah kepala negara yang hingga kini masih menjajah negara-negara Muslim. “Kita memang harus menjadi tuan rumah yang baik, tapi untuk tamu yang baik. Sedangkan Obama telah membunuh banyak kaum Muslimin, tangannya berdarah,” ujarnya. Menurut dia, Obama tidak berbeda dengan pendahulunya, George Walker Bush, yang menghancurkan negara-negara Muslim seperti Afghanistan dan Irak.
Meski ketika di awal pemerintahannya Obama sempat berpidato di Mesir yang tampak memberikan harapan bagi ummat Islam, tapi semua janjinya ternyata tidak terbukti. “Semua janji itu ternyata hanya manuver untuk mencari simpati kaum muslimin. Kini Obama justru paling bertanggung jawab dalam pengerahan pasukan di Afghanistan,” kata Sekretaris Jenderal FUI KH Muhammad Al Khaththath.
Karena itu pula FUI mengajak semua khotib pada Jumat nanti untuk menyuarakan penolakan kepada Obama. “Hari Jumat nanti para khotib sebaiknya turut berkhotbah mengajak menolak Obama,” kata Ustadz Al Khaththat dalam diskusi Apa Kabar Indonesia Pagi di tvOne, Senin 15/3. Ia pun menyarankan agar setelah salat Jumat pada 19 Maret nanti massa sebaiknya ikut turun ke jalan dalam aksi penolakan Obama. Menurut dia, penolakan Obama ini juga sudah disebarkan ke seluruh cabang organisasi di Indonesia.
Mengapa Obama Datang?
Menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa, ada enam perjanjian kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat yang bakal ditandatangani selama kunjungan Obama ke Tanah Air. Keenam perjanjian itu melingkupi investasi di bidang pertanian, kehutanan, energi, sumber daya mineral, dan pertanian. Kerja sama sektor energi, pendidikan, dan industri. “Mereka sediakan dana untuk investasi cukup besar,” kata Hatta. Namun ia mengaku lupa besarnya dana yang akan ditanamkan ke Indonesia.
Melihat rancangan pemerintah ini Peneliti LIPI Ikrar Nusa Bhakti menilai, selain menjadi ajang pencitraan buat Obama, karena berhasil berkunjung ke negara muslim terbesar, kunjungan itu juga menjadi ajang pencitraan buat Presiden SBY. “Tahu sendiri, dia (SBY) suka banget mendapat penghargaan,” kata Ikrar seusai diskusi 'Hubungan Bilateral Indonesia - Amerika Serikat: Masalah dan Prospek' di gedung LIPI, Jakarta, Kamis (11/3).
Padahal, dalam kunjungannya kali ini, dalam masalah investasi Obama konon akan mendesakkan berbagai agenda yang bakal menguntungkan Amerika Serikat dan merugikan Indonesia. Misalnya permintaan agar ExxonMobil kembali menguasai Blok Natuna D-Alpha, yang memiliki kandungan gas terbesar di dunia. “Padahal selama ini status ExxonMobil sebenarnya sudah dihentikan kontraknya. Tapi pemerintah kita tak pernah tegas,” kata anggota DPD Marwan Batubara.
Karena alasan itu pula, Ikrar yakin, SBY nanti tidak akan berani menolak berbagai usulan yang lebih menguntungkan Amerika Serikat. Padahal, tema-tema seperti itulah yang bakal disodorkan Obama nanti. Diduga Obama pun akan mengajak Indonesia untuk turut menyelesaikan kasus Afghanistan. Padahal hal itu belum tentu menguntungkan kepentingan Indonesia. “Seharusnya dia lebih berani mengatakan tidak. SBY seorang tentara, harusnya lebih mementingkan kepentingan nasional,” ujarnya pula. Abu Zahra (Berbagai Sumber)









