Mutasi Berbau Konspirasi
Mutasi tiga kepala staf angkatan awal November lalu ternyata cukup istimewa. Konon mereka dicopot karena “ngobrolin” berbagai kasus krusial di negeri ini.
“Mutasi adalah persoalan biasa dalam karier TNI (Tentara Nasional Indonesia),” begitu kata setiap perwira TNI. “Mutasi adalah bagian dari tour of duty dan kelengkapan penugasan perwira TNI,” kata perwira yang lain. Memang, tanpa mutasi karier seorang tentara tak bisa lancar melaju. Tanpa mutasi, perwira potensial tak bisa berkembang, sementara perwira yang kurang bermutu justru bisa tampil dan eksis di posisi yang tak sepadan dengan kemampuan dan prestasinya.
Namun, di Indonesia, sebagai salah satu ciri sebuah negara yang sedang berkembang, peristiwa yang melatarbelakangi mutasi di internal militer bisa jadi bukan karena alasan yang biasa. Pertimbangan mutasi kadang tidak didasarkan pada alasan professionalitas, namun lebih pada pertimbangan like and dislike. Apalagi menyangkut posisi petinggi tentara. Bisik-bisik tentang latar belakang mutasi di tubuh TNI pula yang berkembang selepas pergantian mendadak tiga Kepala Staf Angkatan awal November lalu.
Senin siang (9/11) lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik tiga Kepala Staf TNI yang baru. Acara pengambilan sumpah mereka berlangsung di Istana Negara, pukul 14:00. Ketiga orang Kepala Staf yang dilantik hari itu adalah Letnan Jenderal TNI George Toisuta yang menggantikan Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, Laksamana Madya TNI Agus Suhartono menggantikan Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Tedjo Edhi Purdijatno, serta Marsekal Madya TNI Imam Sufaat yang menggantikan Marsekal Soebandrio sebagai Kepala Staf TNI AU.
Sebelum dilantik menjadi KSAD, George adalah Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad). Agus Suhartono semula menjabat sebagai Inspektur Jenderal di Departemen Pertahanan. Adapun Imam adalah Panglima Komando Operasi TNI AU (Pangkoopsau) I. Seolah tak ada masalah, acara pelantikan itu berlangsung begitu hikmat, dan dihadiri sejumlah anggota kabinet serta petingggi dan pejabat negara. Ketiga pejabat teras TNI itu diangkat dengan Keputusan Presiden Nomor 49/TNI/ tahun 2009.
Dipanggil Mendadak
Sabtu siang (6/11/2009), kabar tentang pergantian KSAD, KSAU dan KSAL sebenarnya sudah mulai beredar. Namun, belum ada pejabat TNI yang berani memastikannya. Baru sore harinya, kabar itu semakin kencang. Apalagi setelah Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen membenarkan tentang rencana mutasi di pucuk pimpinan TNI itu. Menurut Sagom, pergantian ketiga Kepala Staf TNI itu sudah lama dipersiapkan. “Ini mutasi biasa dan merupakan kegiatan rutin,” ujarnya.
Padahal saking mendadaknya, dengan polos Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AL Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul mengaku baru mendengar berita itu dari media massa. Ketika Metro TV mewawancarainya, Sitompul menyatakan belum tahu rincianan Surat Keputusan itu. Menurut dia, pergantian KSAL baru akan dibahas Senin, (9/11). “Sekarang kan libur, Senin kita baru akan membahasnya,” ujarnya. Padahal saat pengumuman mutasi, biasanya Kadispen-lah yang paling mengetahui dan mengumumkannya secara rinci.
Di Angkatan Darat semula beredar kabar bahwa pengganti Agustadi adalah Wakil KSAD Letnan Jenderal TNI Johannes Suryo Pranowo. Beberapa media sudah mengumumkan nama mantan Pangdam Jaya itu sebagai KSAD yang baru. Belakangan, Kadispen TNI AD Brigjen TNI Christian Zebua menjelaskan rencana pergantian KSAD dari Agustadi kepada George. Tapi ia pun menyatakan bahwa mutasi itu tak mendadak. “Perencanaan sudah lama, pengumumannya memang baru,” kata Zebua berkelit.
Dari ketiga Kepala Staf Angkatan yang dilantik Presiden Yudhoyono dalam mutasi kali ini, Imam Sufaat adalah bintang mutasi yang paling istimewa. Sebab, penerbang pesawat tempur kelahiran Wates, Yogyakarta, 27 Januari 1955 ini sebenarnya telah melompati satu posisi jabatan sebelum menjadi Kepala Staf TNI AU. Saat ditetapkan Presiden SBY sebagai KSAU, Pangkoops I TNI AU ini sebenarnya baru menyandang pangkat Marsekal Muda dengan dua bintang di pundaknya.
Sebagai Pangkoops TNI AU I, Marsda TNI Imam Sufaat sebenarnya sudah mengantongi SKEP (Surat Keputusan Pengangkatan) sebagai Wakil Kepala Staf TNI AU dengan pangkat Marsekal Madya. Tapi hingga akan diangkat sebagai KSAU, Imam belum sempat melaksanakan serah terima jabatan dengan penggantinya. “Saat ini beliau memang masih menjabat sebagai Pangkoops AU I, tapi sudah ada keputusan menjadi Wakil KSAU,” kata Kadispen TNI AU, Marsekal Pertama Bambang Sulistyo.
Pada Senin pagi (9/11/2009), Imam baru melaksanakan serah terima jabatan Pangkoops I dan kemudian jabatan Wakil KSAU. Maka sebelum dilantik presiden pada siang harinya, Imam baru menyandang bintang tiga di pundaknya. “Senin itu pula beliau menjadi Marsekal Madya,” kata Marsma Bambang Sulistyo. Kemudian, pada hari Kamis barulah ia menerima jabatan KSAU dari Soebandrio. Tapi lagi-lagi, kata Bambang, hal ini bukan sesuatu yang luar biasa dan sudah pernah terjadi sebelumnya.
Memang, nasib Imam mirip Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukkam) Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto. Djoko juga masih berbintang dua dalam posisi Asisten Operasi KSAU saat diangkat menjadi KSAU, lima tahun yang lalu. Namun, dalam mutasi kali ini keanehan lain terjadi. Saat akan diserahterimakan jabatannya, KSAU Marsekal TNI Subandrio sedang menggelar kunjungan kerja ke luar negeri. “Dia dipanggil Presiden secara mendadak hanya untuk dicopot dan langsung serah terima jabatan Senin lalu,” kata seorang perwira tinggi kolega Subandrio.
Obrolan Berbahaya?
Tak pelak, berbagai kisah yang melatarbelakangi pergantian ketiga Kepala Staf TNI ini pun merebak. Berbagai dugaan tentang alasan pencopotan mereka langsung beredar. Sebab, selama ini ketiga bekas Kepala Staf itu dikenal sebagai perwira-perwira TNI yang apolitis, dan senantiasa patuh pada perintah SBY. Bahkan Agustadi, pernah beberapa kali menjadi staf dan pembantu utama SBY ketika ia masih berdinas aktif sebagai perwira TNI maupun ketika sudah duduk di pemerintahan.
Seorang perwira tinggi TNI menduga, pergantian ketiga Kepala Staf itu dipicu pertemuan mereka sebelumnya. “Saya dengar Kapolri sebenarnya juga datang,” ujar sang perwira tinggi itu kepada Suara Islam. Pada pertemuan itu kabarnya ketiga Kepala Staf ini menyuarakan rasa ketidakpuasan TNI kepada pemerintahan SBY. Sebab, TNI seolah-olah tak diikutsertakan dalam upaya mengelola negara.
Buktinya, beberapa posisi penting di kabinet justru diberikan kepada orang dekat SBY yang diragukan kemampuan dan kualitasnya. Misalnya kursi Menteri Pertahanan diserahkan kepada mantan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, sementara kursi Kepala BIN diberikan kepada mantan Kapolri Jenderal Sutanto. Padahal, ia hanyalah seorang polisi sabhara biasa yang tidak punya latar belakang intelijen sama sekali. “Opung (Mantan Kepala BIN Mayjen TNI Purn Syamsir Siregar) saja tidak dimintai pendapat sama sekali,” kata seorang Agen Utama di BIN.
Mereka juga sempat menyuarakan keresahan prajurit TNI terhadap sikap Presiden SBY. Mereka merasa kurang diperhatikan kesejahteraannya, sementara polisi kini seolah sedang dimanja dan dianakemaskan. Presiden pun dinilai tidak membela TNI dalam berbagai masalah. Misalnya ketika Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin dan Danjen Kopassus Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo ditolak masuk ke Amerika Serikat. Padahal mereka hanya diajak SBY saat berkunjung ke Pittsburgh, Oktober lalu.
Dalam ngobrol-ngobrol itu, konon mereka juga sempat membicarakan tentang berbagai masalah yang melanda republik ini, mulai dari masalah Indonesia pasca pemilu, masalah Bank Century hingga ke masalah Kriminalisasi KPK – dua isu terakhir yang membuat SBY pusing tujuh keliling. Nah, laporan tentang obrolan inilah yang kabarnya membuat presiden tersentak dan memutuskan untuk mencopot mereka. “Saya juga heran, masa hanya karena ngobrol-ngobrol itu mereka harus dicopot,” kata seorang perwira tinggi TNI.
Mutasi Karena Kesetiaan
Saat ditanya tentang pergantian ketiga Kepala Staf Angkatan yang sangat mendadak itu Menkopolhukkam Djoko Suyanto berkilah. “Ahh… nggak mendadak… Pergantian tiga Kepala Staf itu sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya, tapi kan tidak mungkin di release ke media,” kata Djoko. Menurut dia, pergantian Kepala Staf itu dipersiapkan untuk proses regenerasi di angkatan maupun tour of duty di tubuh TNI. Namun Djoko membantah kemungkinan akan digantinya Panglima TNI dan Kapolri segera setelah mutasi Kepala Staf ini.
Sementara itu, Panglima TNI Djoko Santoso mengatakan bahwa pergantian Kepala Staf itu memang diperlukan untuk keperluan regenerasi. Sebab, setelah proses ini akan dilaksanakan penyiapan untuk penggantian dirinya. Maklumlah, setahun lagi Djoko Santoso sudah akan pension. “Kan Panglima TNI itu dari Kepala Staf Angkatan. Tidak perlu tergesa-gesa karena semuanya sudah dalam perencanaan,” ujarnya pula.
Memang, pergantian Kepala Staf Angkatan adalah wewenang presiden. Pengangkatan dan pemberhentiannya memang tidak perlu melalui sidang Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti). Sebagai seorang Kepala Negara, dulu Nabi pun pernah mengganti Panglima Besar Khalid bin Walid dan menjadikan seorang pemuda tanggung Usamah bin Zaid sebagai panglima kaum muslimin menjelang pertempuran melawan Romawi. Tapi bedanya, mutasi itu terjadi tanpa bisik-bisik konspirasi.
Abu Zahra









