Menjelang Keruntuhan Meteor
Perpecahan terbuka mengoyak Partai Demokrat pasca terbongkarnya kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games yang menyeret nama Bendahara Umum Muhammad Nazaruddin. Bakal segera rontokkah?
Kehadirannya di panggung politik benar-benar mirip meteor. Sekali muncul langsung menggebrak lima besar perolehan suara pemilu 2004, dan meraih suara terbanyak pemilu 2009. Berbekal nama Susilo Bambang Yudhoyono, Partai Demokrat menggentarkan partai-partai lain. Tapi pengamat kini mulai menduga nasib partai berlambang bintang tiga berlian biru itu bakal seperti meteor. Kecemerlangannya pudar setelah bahan bakar habis dan pecah berkeping-keping.
Prediksi tentang nasib buruk Demokrat, menguat pekan lalu. Dugaan ini mulai muncul setelah perang kata-kata antar petinggi partai terlontar tentang berbagai masalah intern mereka. Persaingan antar kandidat dalam Kongres Demokrat setahun lalu, tampaknya masih menorehkan luka, sehingga sinyal perpecahan kini tak mampu ditutup-tutupi lagi.
Perpecahan di Demokrat merebak sejak Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum. Saat itu SBY lebih menginginkan Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng menjadi Ketua Umum. Andi ditengarai akan lebih mudah dikendalikan SBY dalam percaturan suksesi 2014, ketika SBY sudah tak boleh maju dalam pemilihan presiden lagi. Sementara Anas dinilai berpotensi menjadi Presiden dan diperkirakan akan sangat sulit dikendalikan SBY.
Perpecahan kian menganga saat Bendahara Umum Demokrat Muhammad Nazaruddin, ditengarai terlibat kasus suap proyek asrama atlit SEA Games di Palembang. Kisah bermula saat Sekretaris Menpora Wafid Muharram tertangkap basah petugas KPK saat bertransaksi dengan Direktur Marketing PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manulang, dan Direktur Marketing PT Duta Graha Indah Muhamad Idris, di kantor Sekretaris Menpora, Kamis malam, 21 April 2011.
Dalam penangkapan itu disita beberapa lembar cek senilai Rp 3,2 milyar, uang jutaan rupiah dalam mata uang rupiah, dolar Singapura, dan dolar Amerika Serikat. Uang kontan dalam berbagai pecahan mata uang itu ditemukan petugas KPK di tempat sampah. Rupanya saat penggerebekan uang itu sempat dibuang staf Wafid.
Begitu tertangkap, Menpora Andi Mallarangeng langsung memecat Wafid. Langkah ini dicurigai pengamat politik LIPI Siti Zuhro. “Sangat janggal orang yang dipercaya melakukan tindakan tanpa sepengetahuan menteri,” ujarnya. Diduga uang itu akan diteruskan ke Menpora. Sebab, cek Rp 3,2 milyar dinilai terlalu besar untuk hadiah seorang Sekretaris Menteri.
Penangkapan berbuntut panjang. Ditengarai kasus ini melibatkan petinggi Demokrat. Dalam pemeriksaan Rosa mengaku hanya suruhan Nazaruddin. Berkali-kali hal ini diungkap pengacara Rosa, Kamarudin Simanjuntak. Kata dia, Nazar mendapat bagian Rp 25 miliar. Saat ditangkap, Rosa sedang mengatur pemberian uang oleh Muhammad Idris dari PT Duta Graha Indah, pemenang tender pembangunan Wisma Atlet SEA Games, kepada Wafid.
Menurut sumber Suara Islam di Demokrat, Nazaruddin adalah salah satu figur penting di balik kemenangan Anas dalam perebutan kursi Ketua Umum. Dia penggalang dana yang hebat, sehingga mampu mensukseskan pemenangan Anas. Akhirnya Anas mengalahkan Andi dan Marzuki. Nazar juga disebut-sebut penyetor dana terbesar buat Demokrat.
Namun sepekan kemudian, setelah berganti kuasa hukum, Rosa berbalik. Dia mencabut keterangan sebelumnya. Meski Rosa mencabut keterangannya, Wafid justru membuat testimoni penting. “Wafid mengaku beberapa kali bertemu dengan Nazar untuk membahas anggaran wisma atlet,” kata Erman Umar, kuasa hukumnya.
Nazar segera menepis pengakuan Rosa, Kamarudin, maupun Wafid. Ia mengaku tidak terkait kasus suap itu. “Itu hanya katanya-katanya. Semua itu tidak benar. Fakta hukum ini tidak ada katanya,” ujarnya Selasa (10/5/2011). Ia bahkan mengaku tidak mengenal semua orang yang tersangkut kasus suap Kemenpora.
Nama lain yang disebut-sebut adalah anggota Fraksi Demokrat DPR Angelina Sondakh. Janda aktor Adjie Massaid itu adalah koordinator anggaran Komisi Olahraga DPR RI dan diduga ikut menggolkan proyek itu. Tapi dalam konferensi persnya, Angelina membantah tudingan itu. “Kalau Mas Adjie masih ada, pasti dia akan membela saya habis-habisan,” ujarnya.
Karena desakan berbagai penjuru, Demokrat lalu membentuk tim investigasi. Hasilnya, mereka menyatakan tuduhan suap kepada Nazaruddin dan Angelina tak terbukti. Namun mereka menyerahkan sepenuhnya ke KPK untuk menuntaskan kasus ini. “Silakan KPK kerja, buktikan saja,” kata anggota Dewan Pembina PD Ahmad Mubarok, Rabu (11/5). Soal pengakuan Rosa, Mubarok mengaku belum menemukan keterkaitannya.
Namun Demokrat langsung dikecam karena dianggap tak sejalan dengan upaya SBY memberantas korupsi. Demokrat lalu membentuk tim investigasi dan menyodorkan pilihan untuk Nazar. Kata Ketua DPP Kastorius Sinaga, SBY memberi dua opsi: dipecat atau mundur. “Kami harus menjaga martabat partai dan etika perilaku berorganisasi,” ujarnya.
Tapi tim investigasi segera membantah pernyataan Kastorius. Kata Mubarok, pemecatan atau pemaksaan mundur memang prosedur Demokrat untuk kader yang terbukti menerima suap. “Kasus Nazaruddin harus diperiksa KPK, kalau ada bukti diteruskan ke pengadilan. Jika terbukti di pengadilan baru Nazaruddin diberi pilihan dipecat atau mundur,” ujarnya.
Kastorius langsung ditembaki Ketua dan anggota tim investigasi, Benny K Harman dan Ruhut Sitompul, yang sejak awal mati-matian membela Nazaruddin. “Masih ada sisa sakit hati setelah kalah dalam kongres dulu,” kata Ruhut. Sementara, Benny malah langsung menuding Kastorius sengaja ingin memecah belah Demokrat.
Merebaknya perang kata-kata ini sulit dilepaskan dari asal-usul mereka. Nazar, Ruhut, dan Benny adalah tim sukses Anas. Adapun Kastorius ada di kubu Andi. Namun Kastorius membantah punya agenda tersembunyi. “Saya hanya kader partai yang jengah dengan praktek kotor ini,” ujarnya. Marzuki juga membantah ada perpecahan serius di partainya. “Itu hanya riak-riak kecil di tingkat bawah,” ujarnya.
Ancaman Nazaruddin
Rupanya, di balik perang kata-kata itu, tarik ulur soal Nazaruddin memang alot. Selain isu pertarungan kubu pasca pemilihan Ketua Umum, posisi dia memang strategis. Beredar kabar bahwa lelaki umur 33 tahun itu banyak memegang informasi penting sejumlah politisi Demokrat di Senayan. Dalam dua kali diperiksa Dewan Kehormatan di kantor DPP Salemba dan di Cikeas, Nazaruddin tegas membantah terlibat dalam kasus suap di Kemenpora.
Padahal untuk menyelamatkan muka partai –dan wajah SBY— Dewan Kehormatan telah mengutus Anas untuk membawa surat pengunduran diri Nazar yang mereka siapkan. Namun hasilnya nihil. Meski sudah harus terbang ke Bali untuk menjalankan tugas Dewan Kehormatan, Anas harus membawa kembali surat pengunduran diri bendahara umum partainya itu dalam keadaan kosong, tanpa tanda tangan Nazar.
Keputusan meminta Nazar mundur secara sukarela diambil SBY sebagai Ketua Dewan Pembina, setelah Dewan Kehormatan menyimpulkan bahwa dia layak dipecat atau diminta mundur. Apalagi, ada laporan dari Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD kepada SBY, bahwa Nazaruddin pernah memberikan duit Sin$ 120 ribu kepada Djanedri M. Gaffar, Sekjen MK. Dalam rapat ini Anas diberi tugas meminta tanda tangan Nazar untuk mengundurkan diri.
Saat bertemu Anas, Nazar membantah semua tuduhan. Ia pun menolak menandatangani surat pengunduran diri yang dibawa Anas. Ia balik menyerang dan menitipkan pesan penting untuk para petinggi Demokrat. Ia mengancam akan menyeret empat petinggi partai jika dipaksa mundur. “Saya dengar salah satu nama yang disebut adalah Ibas,” kata sumber Suara Islam. Ibas adalah nama panggilan Sekjen PD, Edhie Baskoro, anak bungsu Yudhoyono.
Sekembalinya dari Bali, Anas melaporkan pertemuannya dengan Nazar ke Cikeas. Saat itulah Anas menyampaikan tudingan balik Nazar. Ketika mendengar nama anaknya disebut, kata seorang sumber, SBY kecut. Saat dikonfirmasi Tempo, Anas membantah cerita itu, demikian pula Choel, Marzuki dan Ibas. Namun Kastorius membenarkan. “Nazar mengancam akan membuka 'bobrok' partai kalau dilengserkan,” ujarnya.
Setelah menerima laporan itu, keinginan menendang Nazar demi menyelamatkan Partai, teredam. Semula SBY sangat bersemangat memerintahkan dewan kehormatan menelaah kasus ini, dan memerintahkan langsung kepada Sekretaris Dewan Penasihat Amir Syamsuddin. Namun, malam itu SBY mulai menghitung langkah. “Salah sendiri, kenapa dia memelihara anak macan,” kata seorang petinggi partai kepada Suara Islam.
Menurut sang narasumber, SBY berencana mengutus Anas bertemu pemimpin KPK, agar mendapat informasi tentang kasus suap itu. Setelah mendengar titah SBY, para petinggi KPK menggelar rapat. Mereka lalu memutuskan untuk tidak menerima Anas karena khawatir akan mengganggu proses penyidikan.
Anas menyanggah telah diutus SBY mengintervensi kasus suap yang melibatkan Nazar di KPK. Menurut dia, posisi Demokrat jelas yaitu mengedepankan proses hukum. “Silakan KPK bekerja secara profesional,” ujarnya. Sementara itu, Juru Bicara KPK, Johan Budi S.P., mengaku belum mengetahui hal itu.
Suasana kian panas ketika Mahfud melaporkan kasus suap lain yang melibatkan Nazar kepada SBY secara lisan. Usai bertemu Presiden, Mahfud membeberkan laporannya kepada wartawan. “Saya melaporkan tentang kasus pemberian uang oleh Nazaruddin kepada Sekjen MK Janedjri M Gaffar, sebesar 120 ribu dollar Singapura,” ujarnya.
Karena manuver ini, kolega Nazar menuduh Mahfud mencari popularitas murahan. Ruhut Sitompul, langsung menyerang Manfud. “Masak numpang popularitas sama Nazaruddin. Jangan cari forum untuk jadi calon presiden di Pemilu 2014,” ujarnya. Ia mencurigai motif Mahfud melapor ke SBY. “Kenapa Mahfud tidak lapor polisi, jaksa, KPK?” sindirnya.
Awalnya Mahfud masih santai. “Saya tak sebodoh Ruhut,” ujarnya. Ia menyarankan agar Ruhut bertanya langsung kepada Pak SBY, mengapa dia melaporkan kasus ini. Tapi lama-kelamaan Mahfud panas juga, apalagi Ruhut terkesan melecehkan Mahfud yang menurut dia “hanya” lulusan Universitas Islam Indonesia, sementara dirinya lulusan Universitas Padjajaran.
Menurut Mahfud, tujuh bulan ia menyembunyikan kasus ini. “Itu karena saya tak ingin ikut campur urusan Demokrat,” ujarnya. Sikap Mahfud berubah saat SBY memintanya membuka kasus ini. “Kata SBY, 'Pak Mahfud, umumkanlah kepada masyarakat biar kita tidak dianggap menyembunyikan apa yang terjadi’,” kata Mahfud menirukan ucapan SBY.
Nazaruddin Pun Dipecat
Maka Senin malam, 23 Mei, Dewan Kehormatan mengumumkan pemberhentian Nazar sebagai Bendahara Umum. “Status saudara Nazaruddin di DPR, tetap anggota,” ujar Sekretaris Dewan Kehormatan, Amir Syamsuddin, di Kantor Pusat Demokrat. Keputusan itu diketok dalam rapat Dewan Kehormatan di rumah SBY dan atas kehendak SBY. Dalam rapat Dewan Kehormatan Senin pagi, SBY meminta Dewan Kehormatan sepakat memberhentikan Nazar.
Namun, kemelut tak juga usai. Nazar bahkan membuktikan perlawanannya. Selasa, 24 Mei 2011, Nazaruddin menebar ancaman ke media. Ia membeberkan tentang adanya beberapa kader Demokrat yang bermain di balik kasus yang melibatkan dirinya. Nazar pun mengancam akan membuka borok di tubuh sejumlah elit partai penguasa itu.
Dua petinggi Demokrat dibidik Nazar. Pertama Sekretaris Dewan Kehormatan Amir Syamsuddin. Kepada media, Nazar tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa Amir tak lebih dari seorang koruptor. “Semua kliennya koruptor BLBI, dan Pak Amir selalu melobi Hakim Agung untuk kepentingan kliennya dengan membawa-bawa nama Demokrat,” ujarnya.
Bidikan kedua Andi Mallarangeng. Menurut Nazar Andi harus bertanggungjawab. Sebab, Andi mengetahui proses tender proyek asrama atlit SEA Games. “Anggaran di atas Rp50 miliar, menteri harus tahu. Itu sepengetahuan Menteri,” ujarnya. Adik kandung Andi, Zulkarnain ‘Choel’ Mallarangeng, juga dituding bermain proyek di Kemenpora. “Semua proyek Kemenpora itu yang setting Choel atas sepengetahuan Andi,” ujar Nazaruddin kepada detikcom, Selasa (24/5/2011).
Nazar pun menuding Sekjen MK Janedjri sering melobi DPR. “Saya tahu kelakukan Pak Janed. Saya kenal dia sejak 2007-2008,” ujarnya. Menurut dia, sebagai pengelola anggaran di MK Janedjri sering melobi dirinya. “Saya kan anggota badan anggaran di Komisi III. Tiga bulan lalu dia menemui saya dan memaksakan membangun rumah hakim. Permohonan itu sudah ditolak Kementerian Keuangan. Tapi beliau memaksakan agar itu diloloskan DPR,” ujarnya. Adapun Mahfud MD disebutnya sebagai penipu.
Anehnya, kali ini Nazar tak lagi menyebut nama Ibas. Karena itu diduga ada semacam kesepakatan bahwa Nazar boleh menyebut berbagai nama yang diduga terlibat dalam kasus suap yang melibatkan para petinggi Demokrat, kecuali Ibas. “Ini sudah diatur,” kata seorang petinggi partai.
Awalnya Demokrat menanggapi ancaman Nazar dengan dingin. Amir mempersilakan Nazaruddin membeberkan aibnya, jika memang ada. Andi Mallarangeng pun menantang Nazar membongkar kasus suap di kementeriannya. "Silakan kalau dia punya data," ujarnya. Choel pun menyanggah tudingan Nazar. Menurut dia, tuduhan itu tidak dilandasi bukti. “Saya paham Saudara Nazar sedang panik menghadapi sejumlah kasus yang menimpanya,” ujarnya.
Janedjri juga membantah tudingan Nazar. “Itu konsultasi bukan lobi. Saya sering rapat dengar pendapat dengan Komisi III karena hakim tak boleh datang, jadi yang datang Sekjen MK dan membicarakan tentang anggaran,” ujarnya. Mahfud pun tak gentar. Ia malah makin terbuka menyebut Nazar terkait dua kasus lainnya. “Biar polisi yang mengurus,” ujarnya. Soal tudingan Nazar menyuap anak buahnya, Mahfud laly datang ke KPK untuk memberikan keterangan.
Konsolidasi Lalu Kabur
Dua hari pasca pemecatan Nazaruddin, Rabu malam 25 Mei 2011, Demokrat menggelar konsolidasi. SBY mengundang seluruh kader Demokrat ke rumahnya di Cikeas. Menurut seorang petugas jaga di rumah SBY, Nazaruddin datang lebih awal ketimbang kader lain. Pengurus Demokrat baru datang pukul 18.30 WIB. “Ini pertemuan rutin, semua anggota fraksi hadir,” kata Ruhut seusai pertemuan itu.
Dalam pertemuan itu SBY marah-marah. Kemarahan SBY ini, kata Kastorius, lantaran bawahannya kurang menjaga etika dan aturan organisasi. Sementara, terkait dengan kasus Nazaruddin, para kader malah berselisih dan mempolitisir kasus hingga merugikan citra partai. “SBY menyebut peristiwa Nazaruddin sebagai musibah politik Demokrat,” ujarnya.
Persoalan Nazaruddin dianggap SBY sebagai persoalan internal yang merugikan. SBY merasa kader Demokrat kurang waspada. “SBY melihat persoalan Nazaruddin serius yang sudah merugikan kredibilitas SBY, karena itu beliau meminta Demokrat kompak solid. Nazaruddin diminta fokus terhadap masalah hukum. Partai juga bisa menyiapkan bantuan hukum,” ujarnya.
Sehari kemudian Nazar dikabarkan kabur. Informasi kaburnya sang Bendahara Umum itu meluncur dari mulut Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, seusai rapat Kabinet di Kantor Kepresidenan, Kamis sore, (26/5/2011). Menurut Patrialis, sejak Senin sore, 23 Mei 2011 Nazaruddin sudah kabur ke Singapura dengan naik pesawat Garuda Indonesia.
Padahal Direktorat Jenderal Imigrasi baru Selasa sore, 24 Mei 2011 pukul 18.00 WIB, menerima surat permintaan cekal dari KPK. “24 Mei dicegah, tapi Nazaruddin pada 23 Mei sudah ke Singapura dengan Garuda,” ujar Patrialis. Ihwal permintaan KPK ini dijelaskan Direktur Penyidikan dan Penindakan Ditjen Imigrasi Muhammad Husin, beberapa jam sebelum Patrialis berbicara kepada wartawan.
Juru bicara KPK Johan Budi pun membenarkan soal permintaan cekal dari KPK. “Sejak 24 Mei 2011, kami sudah meminta pencegahan kepada empat orang dalam kasus suap Wisma Altet, salah satunya Nazaruddin,” ujarnya di Gedung KPK, Kamis malam, (26/5/2011). Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan Wafid, Rosa dan Muhammad Idris, sebagai tersangka.
Begitu menerima surat permohonan cekal dari KPK, Imigrasi langsung menerbitkan surat cekal Nazar dan langsung mengabarkan ke seluruh kantor Imigrasi. Karena itu Husin menepis kabar bahwa Nazar sudah kabur. Sebab, secara online semua komputer imigrasi akan mendeteksi hal itu. “Jika ketahuan kabur, dia akan dicabut paspornya,” ujarnya.
Kelucuan mulai tampak ketika Ketua Fraksi Demokrat DPR Jafar Hafsah mengatakan bahwa Nazaruddin pergi ke Singapura sudah izin fraksi. Padahal semula para pengurus partai mengaku tak tahu ke mana perginya Nazar. Menurut Jafar, Nazar telah membuat surat pada 23 Mei 2011 dan sudah diberi disposisi. “Dia izin sakit, lalu mengirim surat dan kita sudah setujui. Jadi bukan lari ke luar negeri. Suratnya tanggal 23,” kata Jafar, Jumat (27/5/2011). Namun ia mengaku tak tahu di rumah sakit mana Nazar dirawat.
Berbeda dengan Jafar, Andi Nurpati, yang baru ditunjuk sebagai juru bicara Partai mengaku tidak tahu kalau Nazaruddin pergi ke Singapura. “Sejauh yang saya ketahui, di internal partai tidak mengetahui beliau keluar negeri atau ke Singapura,” ujarnya. Penjelasan Andi makin melengkapi ketidakjelasan posisi Nazar, karena ia dikabarkan masih datang ke Cikeas pada hari Rabu, 25 Mei 2011. Karena itu, politisi Partai Gerindra Permadi menduga Nazar sengaja disuruh menyingkir ke Singapura.
SMS Gelap
Suasana belum reda ketika pada Sabtu siang beredar SMS yang sangat menohok Presiden SBY dan para petinggi Demokrat. Beberapa media menerima pesan pendek itu termasuk Tribunnews.com. Pesan pendek mengatasnamakan M Nazaruddin yang dikirim dari nomor +6584393XXX itu sungguh mencengangkan.
Dalam situsnya, Tribunnews.com memuat SMS itu dengan terbuka. “Demi Alloh, Saya M Nazaruddin telah dijebak, dikorbankan dan difitnah. Karakter, karier, masa depan saya dihancurkan. Dari Singapore saya akan membalas. Saya akan bongkar skandal sex sesama jenis SBY dgn Daniel Sparingga dan Mega korupsi Bank Century, korupsi Andi Malaranggeng dalam Wisma Atlit, Manipulasi data IT 18 juta suara dlm Pemilu oleh Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati. Mohon doa dan dukungan. Wasallam.” Namun saat dikontak, nomor telepon genggam Singapura itu tak diangkat.
Maka kegemparan terjadi dan pengurus Demokrat langsung menggelar rapat. Menurut Andi Nurpati salah satu pembicaraan dalam rapat di Kantor Pusat Demokrat Sabtu petang adalah soal pesan singkat itu. “Ketua Umum menyampaikan, saat ini banyak cobaan yang dihadapi Demokrat, karena itu semua kader dan pimpinan diminta solid, sabar, hati-hati, dan siap menghadapi serangan dari luar,” ujarnya.
Malam itu juga, sejumlah pengurus berangkat ke Cikeas menemui SBY. “Sebagian malam ini diundang Pak SBY ke Cikeas,” ujar Soetan Bhatoegana, salah satu pengurus. Namun, menurut dia, mereka diundang ke Cikeas sekalian nonton bola pertandingan final Liga Champions antara Manchester United melawan Barcelona.
Kepada Tribunnews, Staf Khusus Presiden Daniel Sparingga menyatakan bahwa hal itu adalah tuduhan konyol. Dengan tegas, ia membantahnya. Sementara, Nazaruddin yang konon masih di Singapura menegaskan bahwa dirinya tak pernah mengirim SMS seperti itu. “Ini fitnah, Demi Allah ini enggak benar,” ujarnya, kepada Indonesia Monitor, Sabtu (28/5/2011). Menurut dia, ada yang sengaja mengadu domba dan melakukan kampaye hitam untuk menyerang Demokrat dan Presiden SBY.
Lalu, siapa yang sedang mencoba memudarkan cahaya Demokrat?
Abu Zahra, berbagai sumber
-
|2011-06-06 20:40:37 Liem Ban Piet - Daniel Sparingga
siapa yang sedang mencoba memudarkan cahaya Demokrat? Wallahu'alam. Saya mah buta politik! Soalnya, politik di Indonesia itu paling aneh di dunia! Yg jelas, Daniel Sparingga sejak masih duduk sbg dosen di Unair sdh nyata2 menyuarakan lantang ttg gang homoseksnya! Kalo soal skandal sex sesama jenis SBY dgn Daniel Sparingga spt dlm sms, gua sih kagak ngertilah. Yg tahu persis ya Pak BY yg menjadikan amrik setan sbg negara keduanya dan Daniel Sparingga sendiri. Yg jelas Pak BY spt pengakuannya sendiri bhw dia itu Islam inklusif dan menentang syariat Islam. Anda khan tahu bgmn org2 beraliran Islam inklusif. Yah, kayak org2 jil yg dipusatnya di Utan Kayu suka mabuk2an minum ciu dan tak sholat! Kalo org sdh jauh dari ibadah, ya perilakunya anda tahu sendiri, lah. Apa saja halal! Gak ada yg haram!









