Abu di Negeri Komunis
Meski Kapolri sempat membantah ada perintah pengawasan dakwah, kenyataannya sejumlah da’i diintai bahkan dijegal.
"Ini seperti negara komunis masa lalu. Penceramah dilarang, dipilih-pilih mana yang boleh dan tidak boleh berceramah," gerutu Abu Jibril pada 17 September lalu di Kantor Komnas HAM, Jakarta. Saat itu ia didampingi pengacaranya, M Hariadi Nasution dan M Yusuf Sembiring.
Abu Jibril atau Muhammad Iqbal bin Abdul Rahman, mengungkapkan, sejak ‘’musim teroris’’ kembali bersemi di Indonesia, aktivitas dakwahnya dijegal di sejumlah tempat. Terlebih setelah putranya, M Ardhan atau M Jibril, ditangkap karena dituduh sebagai bagian dari mata rantai operasi terorisme.
‘’Beberapa panitia membatalkan jadwal saya karena diintimidasi aparat intelijen dan kepolisian,’’ bebernya. Bahkan di Masjid Al Munawwaroh, Komplek Witanaharja, Tangerang Selatan, Abu Jibril yang biasa jadi imam sholat juga terus dirongrong.
Seperti ketika ia menggelar konferensi pers tentang penculikan anaknya oleh aparat kepolisian. Kala itu, sejumlah preman yang membawa-bawa nama FBR (Forum Betawi Rempug) menyorakinya dari halamanan Al Munawwaroh.
Di Desa Rawakalong, Gunung Sindur, Bogor, nama Abu Jibril dicoret dari susunan acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1430 H. Dia diganti dengan penceramah lain yang mengaku bergelar ‘’Habib’’ namun dikenal sebagai preman. Habib maudhu’ inilah yang sebelumnya mengerahkan preman untuk mengintimidasi Abu Jibril.
Tak hanya Abu Jibril yang dakwahnya diintai dan dijegal. Ketua MUI, KH Ahmad Cholil Ridwan LC, pun mengaku diperlakukan sama. Da’i yang pernah diuber-uber aparat Kopkamtib pada jaman Orde Baru ini, tak sulit menengarai penyusupan intel dalam kegiatan dakwahnya.
Nah, ketika memergoki intel diantara jamaah kuliah ba’da dhuhur pada awal Ramadhan lalu di masjid komplek Kantor Badan Kepegawaian Negara Jakarta Timur, Kyai Cholil langsung memberikan kick.
‘’Kalau ada pihak yang sedang mengawasi, saya persilakan. Karena kebetulan saya juga berjenggot, celana saya juga ngatung,’’ katanya sebelum memulai ceramah.
Sebelumnya, Pangdam IV Diponegoro Mayjen Haryadi Soetanto usai mengikuti upacara HUT Proklamasi 17 Agustus 2009 di Semarang, memaklumatkan, "Jika ada orang asing memakai sorban dan jubah serta berjenggot, laporkan saja ke pihak keamanan." Senada dengan itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Nanan Sukarna, sempat menyatakan secara terbuka bahwa Polri akan mengawasi kegiatan dakwah pada Ramadhan 1430 H.
Meski pernyataan Kadiv Humas itu kemudian diralat Kapolri Bambang Hendarso Danuri didampingi Menteri Agama Maftuch Basyuni, toh dalam praktiknya jalan terus. Seperti dialami Kyai Kholil itu tadi.
Sama seperti Abu Jibril dan KH Cholil Ridwan, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir juga cool saja meski dakwahnya dipelototi aparat. Misalnya ketika ia dipanelkan di sebuah diskusi bersama target operasi intelijen lainnya, Munarman SH, Komandan Laskar Pembela Islam.
Dalam ceramah di Solo, 23 Agustus lalu, itu, Ustadz Abu menegaskan bahwa nasib umat Islam tidak akan menjadi lebih baik selain mengubah sistem negara dari jahiliah menjadi tauhid. Ia sendiri terus terang menyatakan golput pada pemilihan presiden yang baru lalu, juga pada pemilihan legislatif sebelumnya.
“Ini saya hanya mengatakan yang syar’i lho, Pak Polisi,” kata Amir Jamaah Anshorut Tauhid, disambut gelak tawa audiens.
Sambil memandangi wajah-wajah tertentu diantara hadirin, Ustadz Abu juga berujar, “Ini benar-benar ngaji to, Pak Polisi.”
Ketika ditanya moderator apakah benar saat itu ada polisi yang mengawasi, Ustadz Abu berkata, “Saya tahu kalau diawasi."
Tak pelak, pernyataan penceramah membuat salah tingkah beberapa aparat intelijen berpakaian preman yang sedang bertugas dalam acara yang diselenggarakan di Wisma Batari, Jalan Slamet Riyadi.
Ustadz Sholih Hasyim, pengasuh Pesantren Hidayatullah, Kudus, Jawa Tengah, mengaku pondoknya sempat disatroni aparat. Mereka datang saat Ustadz Hasyim tengah menyampaikan ceramah yang mengkritik sikap aparat yang berlebihan terhadap dakwah Islam.
”Jika umat Islam ditekan terus maka justru itu akan semakin menambah ghirah mereka,” demikian antara lain taushiyah Ustadz Hasyim, seperti dikutip Majalah Hidayatullah edisi Oktober 2009 .
Pengasuh pondok kemudian sempat berdiskusi sekitar satu jam dengan aparat tersebut.
Seorang oknum aparat yang juga member sebuah milis porno, jelang Ramadhan lalu mewanti-wanti agar member lebih waspada terhadap razia panti pijat dan tempat esek-esek lainnya. Ia juga mengeluhkan tugas razia yang meningkat drastis setelah peristiwa bom Marriott-Carlton 2009. Dia secara pribadi mengaku tak setuju dengan stigmatisasi dan kecurigaan pada dakwah dan orang-orang berpakaian khas Jamaah Tabligh. ‘’Tapi karena perintah atasan, apa boleh buat,’’ tulisnya.
Akibat tekanan atasan dan perang batin semacam itu, seorang informan Badan Intelijen Negara (BIN) lantas membuat ‘’laporan’’ yang terkesan asal-asalan. Suatu siang beberapa waktu lalu, setelah berulang kali ditelpon ‘’orang Kalibata’’, informan ini mengajak wartawan Suara Islam ke sebuah warnet di bilangan Kebayoran Lama. Informan yang masih gagap teknologi ini meminta bantuan mengirim email kepada si penelepon tadi. Isi email semacam resume sebuah kegiatan keislaman yang diikuti sang informan. Cuma, angka-angkanya seperti jumlah peserta, dia tulis asal saja.
Dalam diskusi bersama Ustadz Abubakar di Solo, Munarman menuduh upaya pemerintah mengawasi dakwah dan ceramah agama hanya sebagai kedok untuk membatasi gerak umat Islam agar Islam tidak tumbuh subur. “Biar tidak terlalu menyolok, digunakanlah isu terorisme,” katanya.
Dia menyebut, pengawasan tersebut tidak ada dasar hukumnya sama sekali. Bahkan bisa dibilang melanggar Konstitusi dan HAM karena kehidupan beragama telah dijamin kebebasannya.
“Tak usah diawasi. Kalau memang ada yang mau ditangkap, tangkap saja lalu diadili,” katanya.
Abubakar Ba’asyir menyatakan, pengawasan terhadap dakwah bisa menimbulkan kesalahpahaman. Ya, contohnya seperti yang dilakukan informan intelijen tadi. Selain itu, kata Baasyir, jelas menimbulkan tekanan bagi umat Islam.
Tapi, ‘’Jangan takut berdakwah. FPI siap mengerahkan laskarnya untuk membantu dan membela para juru dakwah dari aksi represif aparat,’’ seru Habib Rizieq Shihab, Ketua Umum Front Pembela Islam. (nurbowo)
Last Updated (Thursday, 05 November 2009 17:00)









