Sudah menjadi rahasia umum bahwa ekspansi antek-antek Zionis Israel di Indonesia sungguh nyata dan kini sudah mulai menunjukkan wujudnya secara terang-terangan dengan menyewa wajah-wajah pribumi untuk memfitnah, meneror dan mengadu domba. Awal September 2011 lalu, Front Pembela Islam (FPI) difitnah telah bekerjasama dan mendapat bantuan dari Polri dan BIN dalam menjalankan aktifitas dakwahnya. Berita tersebut bersumber dari WikiLeaks yang membocorkan telegram rahasia kedubes AS di Jakarta ke Gedung Putih di Washington DC, terkait Front Pembela Islam (FPI).
Tak pelak hal ini membuat umat Islam resah dan gerah. Pasalnya pemberi informasi kepada Kedubes AS di Jakarta adalah Yahya Assegaf yang mengaku sebagai salah seorang pejabat senior Badan Intelijen Negara (BIN). Menjadi pertanyaan besar, bagaimana seorang pejabat senior BIN bisa menjual informasi (atau lebih tepat dalam kasus ini disebut gossip, red) kepada Kedubes AS di Jakarta. Bukankah ini merupakan pengkhianatan. Pengkhianatan kepada negara, sebagaimana ketentuan dalam KUHP bisa diancam hukuman mati.
Sejauh ini, setidaknya ada enam lembar telegram di WikiLeaks yang memuat nama Yahya Assegaf. Di masing-masingnya, tercantum keterangan yang bervariasi soal siapa Yahya Assegaf. Dalam dokumen tersebut Yahya Assegaf digambarkan sebagai seorang penasihat yang dekat dengan Kepala BIN Syamsir Siregar, sesekali sebagai penasihat Syamsir Siregar untuk urusan Timur Tengah. Sumber Suara Islam (SI) menyebut Yahya Assegaf juga merupakan orang yang digunakan untuk membangun kontak dan berhubungan dengan pemerintah Israel.
Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) FPI, Munarman, menggambarkan Yahya sebagai “antek Amerika”, “pengkhianat”, penjual “informasi negara”, dan salah seorang anak Yahya, Hani Yahya Assegaf, sebagai pendiri Indonesia Israel Publik Affair Commitee (IIPAC), kelompok lobi pro Israel berbasis Jakarta.
Oleh sebab itu sudah selayaknya pemerintah Indonesia melakukan tindakan hukum terhadap pihak-pihak yang menyebarluaskan berita bohong karena telah melecehkan dan memfitnah dua institusi penting negara, yaitu Polri dan BIN.
Teror dan Adu Domba Agen Zionis Israel
Selain fitnah, antek Zionis Israel di Indonesia juga menebar teror dan Adu Domba. Setelah FPI merilis bantahan atas dokumen WikiLeaks yang didalamnya terdapat fitnah yang disebarkan oleh Yahya Assegaf. Ketua DPP FPI, Munarman mendapat teror dari anak Yahya Assegaf. Hani Y Assegaf (Han Sagov) mengirim ratusan preman ke DPP FPI, Kamis (8/9/2011) dan ke kantornya, Jum’at (9/9/2011) di Jakarta Pusat.
“Ba’da isya mereka datang ke kantor DPP FPI hari kamis kemarin. Kalau Jum’at tadi malam mereka datang dengan mobil Alphard Hitam B 105 HAN. Memang mobil dia itu Hani Yahya Assegaf. Ada sekitar 100 orang, dia ngeblok saja, pshywar biasa.” Papar Munarman.
Gerombolan preman tersebut, jelas Munarman, adalah orang-orang suruhan yang berasal dari kaum muslimin dengan niat mengadu domba antar ormas.
“Mereka orang-orang dari Serang, bukan Ambon. Juga ada satu orang dari Kebon Kacang. Jadi dia pakai orang dari kalangan kita juga, bahkan kemarin dia utus anak FBR, dia mau adu sesama kita,” papar Munarman. Menyikapi insiden ini, lanjut Munarman, FPI telah melaporkannya ke Polres Jakarta Pusat.
Memicu Konflik Sentimen Anti Israel dan AS
Rangkaian fitnah, teror, dan Adu Domba yang dilakukan oleh antek-antek Zionis Israel di Indonesia seharusnya bisa menjadi Early Warning bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait, mengingat jika kejadian ini dibiarkan tanpa penanganan yang jelas, maka tidak menutup kemungkinan akan memicu konflik horizontal, sentiment anti Israel dan AS yang meluas ke berbagai wilayah.
Shidiq Perwiranegara, pengamat intelijen independen menuturkan pemerintah harus belajar dari Mesir. Jangan lupa penyerangan Kedubes Israel di Kairo Mesir baru-baru ini dilatarbelakangi masalah arogansi Israel yang terakumulasi dirasakan oleh warga Mesir yang tidak disikapi secara tegas oleh Pemerintah Mesir sehingga mengusik harga diri Bangsa Mesir. Selama puluhan tahun di bawah Pemerintahan Husni Mubarak, Mesir bersikap lemah dan didikte oleh keinginan Israel yang tentu berlawanan dengan aspirasi yang tumbuh di masyarakat.
“Semua syarat yang terjadi di Mesir sudah terjadi di Indonesia, tinggal menunggu momen saja. Kalau didikte oleh AS itu sudah tidak ada yang bisa membantah, ditambah lagi dengan gerakan antek-antek Zionis di Indonesia yang semakin agresif. Kombinasi ini bisa menjadi adonan yang sangat berbahaya jika pemerintah tidak bertindak tegas” jelas Shidiq.
Lebih lanjut, Shidiq juga mengatakan bahwa pemerintah harus segera memanggil Duta Besar AS di Jakarta untuk dimintai keterangan, sekaligus tidak ragu untuk menyampaikan Nota Protes Diplomatik secara resmi ke Gedung Putih, bahkan Pemutusan Hubungan Diplomatik dengan AS jika diperlukan untuk menjaga kehormatan bangsa dan negara Indonesia.
Kemudian apabila Dokumen Rahasia AS tersebut benar berasal dari informasi Yahya Assegaf yang mengaku sebagai pejabat senior BIN, maka Polri dan BIN harus segera memanggil, memeriksa dan menahan Yahya Assegaf karena telah menjual informasi ke pihak asing, sekaligus telah melecehkan institusi penting negara yaitu Polri dan BIN, serta melakukan upaya adu domba antara pemerintah dengan Ormas, bahkan antara Indonesia dengan AS.
Agresifitas Antek Zionis Israel Indonesia
Agresifitas antek Zionis Israel Indonesia juga tidak segan menggunakan fasilitas negara untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Amira Arnon, Duta Besar Israel untuk Singapura itu berang, lantaran kedatangannya diam-diam ke Jakarta terendus media. Kabar kedatangan Arnon pada 20-27 Maret 2011 lalu dilansir oleh sebuah situs berita nasional. Kedatangan Arnon tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat bangsa ini tak memiliki hubungan diplomatik dengan negeri penjajah tanah kaum muslimin tersebut.
Awalnya, Arnon membantah kedatangannya ke Jakarta. Diplomat perempuan itu juga membantah berita yang dilansir media nasional tersebut. Namun, menurut keterangan Wakil Dubes Israel, Nihal Sharee, membenarkan kedatangan atasannya tersebut ke Indonesia. Sharee menyatakan kedatangan Arnon dalam kapasitasnya sebagai pribadi untuk menemani pengusaha-pengusaha Israel. Seorang diplomat Timur Tengah yang bertugas di Jakarta menyatakan bahwa Arnon datang untuk menawarkan teknologi pertanian terbaru dan dijadwalkan akan bertemu dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.
Kepada beberapa media internasional, Ketua Kadin Israel di Jakarta Emanuel Shahaf sering menyatakan betapa strategisnya hubungan perdagangan dengan Indonesia. Ia juga mengatakan, karena tak ada hubungan diplomatik, maka yang bisa dijalin dengan Indonesia adalah hubungan dagang. ”Kamar dagang yang baru dibentuk merupakan bagian dari Kamar Dagang Israel-Asia, yang menyatukan bisnis Israel dengan kepentingan Indonesia,” ujarnya.
Antek-antek Zionis Israel yang berada diluar kekuasaan juga kerap menggalang berbagai upaya merusak stabilitas nasional dengan melakukan provokasi terhadap umat Islam dengan melakukan ritual medukung berbagai kegiatan Zionis Israel di Indonesia, mulai dari perayaan HUT Israel sampai dengan mendorong upaya membangun hubungan diplomatik. Mereka, Hani Yahya Assegaf alias HAN SAGOV dan kawan-kawan mendirikan lembaga The Indonesia Israel Public Affairs Comitte (IIPAC) dan membentuk kepanitiaan HUT Israel yang dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi pada tanggal 14 Mei 2011 di suatu tempat di pinggiran kota Jakarta.
Jaka Setiawan