Century Gate dan Dua Bisul SBY
Rumah Amien Rais di Gandaria, Kebayoran, Jakarta Selatan biasanya sepi jauh dari riuhnya panggung politik yang biasa membelit aktivitas kesehariannya dahulu, namun rumah itu mulai ramai Kamis sore pekan ini. Puluhan sepatu dan sandal jempalitan di teras. Gerbang terbuka lebar. Orang-orang hilir mudik.
Di ruang tamu belasan orang meriung. Sebagian selonjor di ruang tengah. Tak ada perempuan sore itu, para tamu langsung ke belakang mengambil minum bila dahaga. Mereka umumnya memakai jaket biru Partai Amanat Nasional (PAN). Adapula anggota dewan dari Senayan.
Amien Rais yang sore itu terlihat ceria dengan baju koko biru, memulai perbincangan dengan kisah tentang bisul.
Di tubuh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kata Amien, ada dua bisul besar. Dua bisul itu adalah Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Keduanya disebut bisul, sebab Mantan Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Perwakilan Rakyat (MPR) ini meyakini bahwa Boediono dan Sri Mulyani berperan penting dalam Skandal Bank Century.
Skandal yang disebut Amien itu adalah proses penyelamatan Bank Century tahun 2008 yang kini menuai kontroversi. Saat proses penyelamatan itu berlangsung, Boediono menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia dan Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan (Baca: Drama Bail-out Century, Setahun Kemudian).
Century selamat tapi suhu politik nasional terus mendidih. Beberapa kelompok massa turun ke jalan. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sudah membentuk Panitia Khusus (Pansus) Angket Century. Mereka segera memanggil sejumlah pejabat tinggi yang terkait dengan penyelamatan Century itu.
Dari notulen rapat soal Century, tuduh Amien, "Boediono dan Sri Mulyani jelas sebagai pemutus kebijakan fatal yang mengakibatkan skandal perbankan." Dan sebagaimana penyakit bisul yang bisa melemahkan daya tahan tubuh, lanjutnya, Boediono dan Sri Mulyani akan merontokkan daya tahan pemerintahan SBY.
Itu sebabnya, Amien mendesak, agar Boediono dan Sri Mulyani menepi sejenak dari pemerintahan alias non aktif. Dengan begitu aparat hukum bisa leluasa memproses keduanya. Lama menghilang dari panggung politik nasional, Amien Rais tiba-tiba muncul sebagai salah satu tokoh sentral kasus ini.
Entah bermaksud menyindir Amien Rais atau tidak, sebelum membuka rapat paripurna kabinet, Jumat pekan ini, Presiden SBY menuturkan bahwa kasus Century sudah diaduk-aduk begitu rupa. Bahkan ada tokoh yang selama lima tahun tidak bergigi menganyang korupsi, kini tampail lagi. "Selamat datang," kata sang presiden.
Manuver Amien Rais dalam kasus ini memang terbilang menukik. Minggu, (29/11), di rumahnya di Gandaria itu, dia menerima sembilan anggota DPR yang menjadi inisiator Angket Century. Di depan anggota dewan itu, telunjuk Amien sudah menunjuk Boediono dan Sri Mulyani sebagai orang yang paling bertanggungjawab.
Ketika Fraksi PAN membahas angket Century, Kamis (3/12), Amien mendadak muncul di kantor fraksi partai itu di lantai 20 Gedung Nusantara I DPR RI. Mengenakan batik bernuansa abu-abu, dia memberi pengarahan kepada anggota dewan dari PAN.
Di situ Amien menegaskan bahwa Presiden SBY tidak dapat dimakzulkan begitu saja, kecuali kalau ada gempa politik. Tapi soal Boediono dan Sri Mulyani tidak ada tawar-menawar, non aktif. "Toh Wapres tidak mutlak dibutuhkan. Mbak Mulyani pun mempunyai Wakil Menteri Keuangan," kata Amien.
Pengarahan Amien di Senayan itu tentu saja berbahaya bagi Boediono dan Sri Mulyani. Sebab nasib kedua petinggi itu juga akan ditentukan oleh proses yang kini berlangsung di sana.
Ke mana ujung kasus ini. Masih sulit ditebak. Sejumlah analis politik mensinyalir bahwa semua partai politik menyimpan agenda tersembunyi dengan kasus ini. Burhanuddin Muhtadi, analis politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) mensinyalir bahwa dari manuver yang terlihat, "Memang ada yang berkepentingan membidik SBY." (mj)
Last Updated (Thursday, 10 December 2009 11:33)









