Kelezatan Ramadhan Tiada Tara
HM Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam
Bagi seorang Muslim bulan Ramadhan niscaya menjadi bulan dambaan. Kedatangannya amat sangat dirindukan. Karena amat dirindukan dan didambakan, maka do’a berkaitan Ramadhan niscaya mohon kepada Allah Swt, agar setiap Muslim itu bisa mencapai dan melewati bulan Ramadhan yang akan datang: “Ya Allah Ya Rab, sampaikan umur kami sampai Ramadhan tahun depan!”
Momentum Ramadhan dengan segala amalan mulia yang mengiringi perintah-perintah Allah Swt di bulan suci, telah memberikan kenikmatan tiada tara bagi yang mengalami dan menghayatinya. Tiap-tiap Muslim selalu ingin mereguk kembali amalan Ramadhan yang telah dirasakan sebagai kenikmatan santapan rohani tiada tara itu. Pengalaman Ramadhan pun mengajarkan bahwa manusia ternyata membutuhkan makanan rohani yang sama pentingnya dengan kebutuhan makanan jasmani. Inilah hakikat paling essensial makna Ramadhan yang sangat berarti bagi setiap Muslim. Rasanya hanya ajaran Islam, yang tercermin pada amalan yang diperintahkan Tuhan dalam bulan Ramadhan, yang secara komprehensif telah memberikan keseimbangan bagi kehidupan manusia. Perintah shaum atau puasa, kini kalangan kedokteran membuktikan amalan puasa itu telah memberikan manfaat bagi keseimbangan tubuh manusia. Dengan berpuasa, pencernaan di tubuh manusia diberi kesempatan beristirahat. Bagai mesin kendaraan melakukan overhaul, turun mesin untuk merehabilitasi keausan dari mesin yang telah usang.
Makna Ramadhan yang amat vital bagi umat Islam, apalagi di tengah umat Islam yang menjadi penduduk terbesar di Indonesia, rupanya tidak selalu berlangsung dalam suasana yang selalu kondusif. Penguasa di negeri ini dari masa ke masa bahkan dari zaman kolonial penjajahan Belanda, menerapkan kebijakan yang pasang-surut. Suatu masa berkaitan ibadah Ramadhan, penguasa amat apreasiatif atau menghargai umat Islam yang amat mengagungkan Bulan Suci Ramadhan itu. Tapi seringkali muncul rejim atau oknum rejim yang secara sengaja justru membatasi keleluasaan umat Muslim untuk menjalankan amalan ibadah Bulan Suci Ramadhan.
Inilah yang terjadi pada era kepemimpinan Menteri P & K di bawah Dr. Daoed Joesoef yang dikenal sebagai tokoh sekuler dan pendiri lembaga CSIS itu. Pada akhir 1970-an, Daoed Joesoef menerapkan kebijakan baru dengan menghapus liburan bulan Ramadhan bagi anak-anak sekolah di Indonesia. Kebijakan ini telah menghancurkan kemapanan suatu ritus yang telah menjadi wahana bagi umat Muslim untuk menikmati dan mereguk kelezatan Ramadhan. Tiba-tiba aturan itu menghapus bahkan merusak irama yang yang telah mapan, dan telah menjadi semacam ritus sekian puluh tahun bahkan seratus tahun terakhir. Liburan anak-anak sekolah di bulan Ramadhan, sepanjang 45 hari telah menjadi “kawah Candradimuka” penggodogan mental para remaja. Lebih satu bulan anak-anak digembleng ilmu agama, melalui berbagai kegiatan Ramadhan : Sahur, buka puasa, Shalat Tarawih, Tadarus dan I’tikaf di masjid di malam hari. Bagi para remaja ketika itu, datangnya Ramadhan ditunggu-tunggu. Itulah hari-hari yang paling membahagiakan. Lebih sebulan mereka total mereguk kelezatan Ramadhan tanpa memikirkan lagi urusan sekolah diganti menikmati pembelajaran rohani. Siang hari perut berlapar-lapar dan perutpun ditempelkan ke lantai masjid yang dingin. Isian dan gemblengan rohani seperti ini diyakini telah membentuk watak dan karakter generasi muda menjadi halus budi-pekertinya, jauh dari perilaku beringas yang dewasa ini menjadi fenomena akhlak anak-anak muda yang amat buruk. Tawuran generasi muda yang yang kini menjadi trend---bahkan kini juga melanda para mahasiswa yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan---Pada awalnya dimulai bentrok anak-anak sekolah tingkat SMA di kota-kota besar. Hal itu diyakini muncul sejak bulan Ramadhan dihapuskan liburannya di sekolah-sekolah. Generasi muda kini kosong pembinaan rohani yang amat dibutuhkan itu. Perilaku beringas pun menjadi kompensasi stress di otak yang sesak bagi para remaja di perkotaan. Perkembangannya menular ke anak-anak tingkat SMP, lalu SD, bahkan para mahasiswa pun mengidap perilaku yang amat memalukan ini.
Walau demikian muncul pertanyaan berhasilkah misi penghapusan libur bulan puasa bagi anak-anak sekolah ini sekaligus menghapus kelezatan umat Muslim menikmati Ramadhan yang diagungkan itu? Untuk sementara memang, aturan yang mulai diterapkan pada 1979 itu membuat tiap-tiap individu Islam terperangah bagai umat Islam bahkan para pemimpinnya terkena palu godam, apalagi Daoed Joesoef, saat itu sekaligus menghapuskan bantuan pemerintah kepada sekolah-sekolah Islam dan sekolah swasta di seluruh Indonesia..Betapa tidak, berpuluh-puluh tahun terakhir bahkan sejak zaman penjajahan Belanda, anak-anak sekolah diberi kebebasan libur total sepanjang Ramadhan dan Idul Fitri sekitar 45 hari penuh, tiba-tiba dihentikan begitu saja. Bagi siapa saja yang mengalami masa remaja pada era libur total Ramadhan itu niscaya bisa terkenang betapa kelezatan Ramadhan sepanjang 45 hari penuh itu bisa direguk, dinikmati. Namun kelezatan Ramadhan bisa dihapuskan begitu saja? Jawabannya pasti tidak.
Kenikmatan I’tikaf dan Umrah Ramadhan
Bahwa dampak aturan yang diterapkan Daoed Joesoef hingga hari ini setelah lebih 30 tahun, masih menyiratkan luka, sudah pasti. Tapi kelezatan Ramadhan tak bisa dihapuskan begitu saja. Alhasil, itulah usaha yang sia-sia dari upaya melawan kekuatan Al Islam. Kelezatan Ramadhan tetap direguk umat Islam di negeri ini dengan cara yang lain. Ramadhan tetap menjadi magnet dan sekaligus menyebarkan berkah tiada tara di negeri ini. Perhatikan saja berkah Ramadhan yang berimbas di dunia ekonomi. Perputaran ekonomi pun berpuluh lipat kali terjadi di hari-hari Ramadhan yang puncaknya pada hari raya Idul Fitri. Uang beredar pun menjadi merata di seluruh pelosok negeri. Baca saja fenomena Lebaran dalam arus mudik. Sayang dampak secara fisik ini bukan menjadi saripati amalan Ramadhan jika hal itu hanya ditujukan pada konsumerisme dan kemubaziran. Dampak ikutannya, justru merugikan umat Muslim dengan terjadinya eksploitasi kalangan pedagang bahkan pemerintah, terhadap umat Islam.
Cara lain mereguk kelezatan Ramadhan, kini muncul dalam bentuk ibadah I’tikaf Ramadhan di 10 hari akhir Ramadhan. Trend ini makin diminati umat Muslim bahkan bersama keluarganya yang berbondong-bondong I’tikaf di masjid-masjid favourit di kota-kota besar. Masjid At Tien yang dibangun oleh Almarhumah Nyonya Tien Soeharto di kawasan Taman Mini Indonesia Indah Jakarta Timur, sudah lima tahun ini pengunjung I’tikafnya benar-benar membludak. Masjid dengan kapasitas 10.000 jamaah itu sudah tidak mampu lagi menampung jamaah sehingga umat pun rela beri’tikaf di selasar-selasar masjid bahkan di halaman masjid. Masjid besar dan popular lain di ibukota pun membeludak jamaah I’tikafnya, seperti : Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru, Masjid Negara Istiqlal, Masjid Sunda Kelapa Menteng, dan masjid-masjid cantik lainnya seperti Masjid di Kantor Bank Indonesia dan seterusnya yang bermunculan di pinggir ibukota, seperti Masjid Kubah Emas di kawasan Depok, Jawa Barat. Masjid lain di berbagai kota besar di Indonesia, sama saja membludaknya jamaah I’tiqaf ini, seperti : Masjid Al Markaz Al Islamiyah di Makassar, Masjid Sabilal Muhtadin di Banjarmasin, Masjid Al Akbar di Surabaya, Masjid Syuhada yang bersejarah di Jogjakarta, termasuk Masjid Keraton di alon-alon Barat juga masjid di Keraton Surakarta. Ibadah I’tikaf sudah niscaya menjadi amalan yang benar bagi seorang Muslim, katimbang memperturutkan hawa nafsu konsumerisme.
Ada lagi cara mereguk Ramadhan yang lain kini juga menjadi trend-setter baru yakni menunaikan ibadah umrah dan beri’tiqaf di Masjidil Haram Makkah Al Mukaramah. Biayanya sangat mahal apalagi di 10 hari akhir Ramadhan. Bisa mencapai biaya yang sama dengan ONH (Ongkos Naik Haji) biasa. Tapi orang kini berbondong-bondong mengejar Umrah Ramadhan. Shalat Tarawih di Masjid Haram semalam imam membaca tigapuluh Juz justru menjadi kenikmatan dan kelezatan tiada tara. Kini biro jasa Umrah bagai panen tiap kali datang Ramadhan orang berbondong-bondong mendaftar umrah Ramadhan. Peminat Umrah bukan lagi kalangan The Haves alias golongan kaya, tapi juga kalangan menengah dan dari desa-desa pun ikut mengejar kelezatan Ramadhan dengan berumrah.
Allah sungguh Maha Kuasa untuk menjaga agama-Nya, dari upaya pengkerdilan dari manusia jahat yang mendapat bisikan iblis untuk menentang perintah-Nya. Kelezatan Ramadhan tetap direguk umat Muslim tanpa kecuali dan tak mampu dicegah oleh tangan jahat.
Selamat menikmati dan mereguk kelezatan Ramadhan ini. Mudah-mudahan amalan Ramadhan kita tahun ini diterima Allah Swt, dan do’a kita bersama, ”Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan untuk melewati Ramadhan tahun depan. Amien Ya Mujibassailin”!









