Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Nazaruddin Berkicau: Sihir Demokrat Pun Berakhir - Nazaruddin Berkicau: Sihir Demokrat Pun Berakhi... | Sb

Nazaruddin Berkicau: Sihir Demokrat Pun Berakhir

altHM Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam


Dalam rubrik ini pernah dibentangkan fakta kemerosotan pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Jilid Ke-1 (2004-2009), namun rakyat tidak peduli tetap  memilih Partai Demokrat, partai  Presiden SBY pada Pemilu Legislatif 2009, kemudian memilih kembali Presiden SBY pula sebagai presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 dengan sekali putaran. Mengapa rakyat Indonesia begitu percaya kepada Partai Demokrat juga presiden SBY ?

Rakyat Indonesia bagai terkena sihir menyambut kelahiran Partai Demokrat yang digagas SBY menjelang Pemilu 2004. Semua orang terperangah ketika Partai Demokrat tiba-tiba mampu merebut suara hampir 8,5 juta suara pada Pemilu 2004 atau merebut 10% kursi Pemilu dan menjadi partai kelima pemenang pemilu. Rakyat memilih Partai Demokrat bagai tersihir. Dan sihir pun berlanjut ketika SBY dengan perolehan suara dalam Pemilu yang sangat signifikan itu lalu maju dalam Pilpres berpasangan dengan Jusuf Kalla, kursi presiden pun direbutnya dari Megawati yang periode sebelumnya menjadi boss SBY.

Bisa dimengerti mencuatnya popularitas SBY dan Partai Demokrat yang didirikannya itu bagai menyihir rakyat Indonesia yang spontan jatuh hati. Tapi ada juga analisis lain menjadi faktor pendorong popularitas SBY dan partainya itu yakni faktor kebetulan pada saat itu sebagai Menko Polkam dia mundur dari Kabinet Gotong Royong Megawati diiringi kecaman Taufik Kiemas, suami Mega yang menghujat SBY sebagai Jendral Kekanak-kanakan. Kecaman ini justru menumbuhkan rasa simpati rakyat luas. SBY dianggap sebagai pihak yang teraniaya. Dan rakyat luas pun mendukungnya.

Ada lagi anggapan pilihan rakyat Indonesia kepada Partai Demokrat dan SBY ini disebabkan rakyat Indonesia bodoh, dan karena itu mereka mudah tersihir, lalu mendukungnya habis-habisan. Bahkan tetap mendukungnya kembali pada Pemilu dan Pilpres 2009 kendati sudah banyak bukti kegagalan pemerintahan SBY (2004-2009)---walau kini ada dugaan kemenangan  Partai Demokrat  dicurigai banyak pihak karena kecurangan dan mulai terbongkar bersamaan kasus pemalsuan hasil Pemilu yang melibatkan Andi Nurpati, anggota KPU yang kini pimpinan Partai Demokrat---

Jika dibahas makna kebodohan rakyat Indonesia di atas, sejatinya mengandung kebenaran yang faktual. Ketidak-layakan Presiden SBY khususnya yang amat miskin jiwa kepemimpinan dalam dirinya dan didominasi sikap peragu niscaya menjadi alasan yang kuat untuk menolak SBY. Kecuali barangkali keputusan bagi elite Partai Bulan Bintang (PBB) di bawah kepemimpinan  Yusril Ihza Mahendra dan MS. Kaban yang justru sejak awal menyatakan koalisi dengan Partai Demokrat mengusung SBY menjadi calon Presiden. Perhitungan PBB yang jeli dan berbau permainan politik telah memprediksi  kemenangan SBY dan akan mampu merebut kursi Presiden, terbukti dan berbuah nyata tiga kader PBB diambil SBY menjadi anggota kabinet, yakni Yusril sendiri sebagai Mensesneg, Kaban sebagai Menteri Kehutanan dan Abdurahman Saleh sebagai Jaksa Agung. Hanya saja belakangan SBY “berkhianat” kepada PBB yang selalu disebut sebagai partner utama dan pertama bahkan disebut sebagai Stakeholder, ketika jabatan Yusril dan Abdurahman Saleh ditendang alias dipecat di tengah jalan, bahkan Yusril hingga hari ini terus dipermasalahkan dalam kasus korupsi Sisminbakum. Berkaitan koalisi PBB dengan SBY ini, mantan Wakil Ketua Umum PBB, Dr. Ahmad Sumargono SE, MM, menceritakan kepada Suara Islam dirinya ketika itu menolak keras koalisi dan dukungan PBB kepada SBY. Menurut Gogon---panggilan akrab Sumargono---menjelang pencalonan SBY sebagai Capres, dirinya diundang DPP PBB dalam rapat darurat di tengah malam di Hotel Regent (kini Hotel Four Seasion). Ternyata dalam rapat itu sudah hadir SBY dan JK yang sedang membahas dukungan PBB kepada dua orang Capres dan Cawapres itu. Ketika Gogon diminta sambutannya dengan terang-terangan dia menyatakan menolak dukungannya kepada SBY dengan alasan, Muktamar PBB sebelumnya tegas mengamanatkan bahwa calon presiden harus berasal dari dalam atau kader PBB sendiri. Mendengar sikap Gogon yang tegas itu, SBY spontan berdiri dan mengatakan: “Ternyata masalah internal PBB belum selesai, saya harap diselesaikan dulu,”katanya seraya meninggalkan ruangan. Belakangan kepada Suara Islam, Gogon menceritakan alasan penolakannya kepada SBY bukan sekadar alasan rekomendasi  Muktamar PBB saja yang memang benar seperti itu, tapi alasan lain adalah karena dia mendapat informasi bahwa tokoh SBY ini selain mempunyai karakter yang lemah sebagai pemimpin yakni peragu, SBY juga diinformasikan menganut paham klenik dan kejawen. Yang terakhir inilah yang menjadi kunci penolakan Margono, apalagi setelah membaca laporan utama Majalah Sabili ketika itu membuat laporan berjudul : SBY Dari Gamang Sampai Klenik!

Majalah Islam Sabili edisi 21 Mei 2004 memang memuat judul seperti disebut Margono di atas. Isinya betul-betul sangat kritis menyoroti SBY sebagai Capres. Sorotan dimulai SBY yang Gamang dan Peragu  dari kesaksian sejumlah perwira TNI yang pernah bersama SBY dalam berbagai tugas, termasuk kasus saat perang di Timor Timur SBY sebagai Komandan Pleton mengingkari tugas atasannya karena pertimbangannya yang peragu atau perhitungan tersendiri. SBY yang klenik disoroti lebih luas oleh Sabili dalam judul : Ada Klenik di Sekitar SBY. Dalam laporan ini disebutkan terang-terangan SBY meminta kepada tokoh paranormal bernama Edi Sudarman agar mengerahkan massa dalam puncak kampanye Partai Demokrat pada 5 April 2004. Massa dimaksud selain dari manusia juga massa jin. Hasilnya dalam pengerahan ini sukses dan Partai Demokrat memperoleh suara yang besar dalam Pemilu legislatif. Edi Sudarman mengaku menjalankan ritual Patek Nabi, Patek Jin, dan Patek Wali. Angka 9 ditetapkan sebagai angka keburuntungan Partai Demokrat, selain juga sudah menjadi angka keramat SBY yang dilahirkan di Pacitan Jawa Timur pada 9-9-1949. Partai Demokrat pun didirikan dan dideklarasikan oleh 99 orang dengan ketua umum pertama Subur Budisantoso. Pada malam pemilihan presiden pun kabarnya SBY juga mengerahkan 999 paranormal untuk mendorong kemenangannya dan berdoa secara bersama di Batu Tulis Bogor. Keyakinan klenik di lingkungan Partai Demokrat ini makin diyakini ketika Partai Demokrat dalam undian peserta Pemilu 2004 mendapatkan angka peserta nomer 9.

*****

SBY dan Partai Demokrat saat ini, akhir Juli 2011, setelah berkuasa 6 tahun dalam dua periode jabatannya itu, SBY dan Partai Demokrat sedang mengalami hantaman politik yang amat dahsyat dan diyakini banyak pihak akan menghancurkan eksistensi Partai Demokrat dan bahkan SBY  pun diprediksi akan menerima akibat terburuk. Kata bekas Menko Perekonomian Rizal Ramli di berbagai event, SBY mungkin menjadi satu-satunya presiden RI yang harus dipenjarakan, jika dia tidak segera melarikan diri ke luar negeri. Rizal berulang-ulang memberi target pemerintahan SBY Jilid ke-2 ini akan berakhir pada 16 Agustus 2011 ini. Belakangan dia meralat, pemerintahan SBY sampai setelah Lebaran 2011, karena memberi kesempatan merayakan Idul Fitri. Apa yang selalu disampaikan Rizal Ramli bahwa, sendi-sendi kehidupan bernegaara NKRI semakin lemah, dan keropos di bawah pemerintahan SBY-Boediono, niscaya semua orang bisa merasakan. Kerusakan itu tercermin di bidang hukum dan ekonomi. Mafia hukum yang dikritik telah merajalela belakangan justru dipelopori tokoh-tokoh puncak Partai Demokrat sendiri. Semua terbongkar menjadi telanjang bulat setelah kasus Nazaruddin mencuat, sejak Juni 2011. Nazaruddin yang kemudian melarikan diri ke Singapura dan ditetapkan sebagai tersangka kasus Proyek Wisma Atlet Sea Games Ke-XXVI di Palembang, membuat serangan membabi-buta dengan membongkar perilaku korup sejumlah petinggi Partai Demokrat, mulai Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Angelina Sondakh, bahkan Ibas putra SBY, dan serenceng nama lainnya. Media TV khususnya Metro TV  menayangkan “nyanyian” Nazaruddin dan disiarkan secara langsung ke pemirsa di seluruh Indonesia. Sungguh dahsyat side-effecknya, berupa hujatan tak henti-henti dari pemirsa setelah dibuka forum tanya-jawab secara langsung. Anas disebut menerima Rp 7 Milyar dari proyek Wisma Atlet itu. Anas juga disebut menerima Rp 100 Milyar dari Proyek Kemenpora di Hambalang. Tokoh-tokoh lain juga diblejeti Nazaruddin seperti Max Sopacua, Sang Wakil Ketua Umum, terlibat korupsi di kementerian Kesehatan. Ada lagi kasus Andi Nurpati yang kini menjadi pimpinan puncak Demokrat, diduga terlibat pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi. Belum cukup nama, penghancuran ini Demokrat dibuat lebih babak belur lagi ketika kasus Ruhut Sitompul dilaporkan istri tuanya ke Bareskrim karena meninggalkan istri tuanya juga anaknya. Ruhut jadi Cep Klakep, alias terdiam mulutnya dikatupkan diam seribu  bahasa, berubah dari biasanya yang selalu bermulut lancung itu.

Walau demikian, elite Partai Demokrat merasa itu semua hanyalah bagai nila setitik saja yang telah merusak susu sebelanga. Padahal yang terjadi senyatanya nila seratus belanga yang telah merusak seluruh NKRI ini. Elite Partai Demokrat meyakini dengan Ndableg,  Badai ini sebentar akan berlalu. Karena itu dalam Rakornas Partai Demokrat di Sentul 23-24 Juli lalu kasus Nazaruddin yang menggegerkan tidak dianggap perlu ditindak-lanjuti dengan pembersihan tokoh hitam Demokrat. Demokrat dan jajaran pimpinannya mulai SBY, Anas, Marzuki, dan seterusnya tetap yakin Demokrat tidak bersalah. Keyakinan inilah yang justru menjadi peluru dan boomerang yang akan menghancurkan Partai Demokrat. Peluru itu pun akan berbalik menjadi daya sihir baru kepada rakyat Indonesia untuk ramai-ramai menolak Partai Demokrat juga SBY. Hal ini niscaya sudah menjadi kenyataan. Bahkan sebelum kasus Nazaruddin ini mencuat lembaga survey Indo Barometer telah mengumumkan dukungan rakyat kepada pemerintahan SBY sudah merosot di bawah 30%. Bahkan kabarnya angka yang sebenarnya jauh di bawah itu. Jika Pemilu digelar hari ini Partai Demokrat bisa-bisa tidak lolos Parliement Treshold. Sihir Demokrat dan SBY tampaknya kini sudah berlalu.

Wallahu a'lam bissawab ! 

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
 
PENCARIAN
Advert
TERKAIT