Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Teladan Presiden Sjafruddin Prawiranegara - Teladan Presiden Sjafruddin Prawiranegara Tuesd... | Yang, D

Teladan Presiden Sjafruddin Prawiranegara

altHM Aru Syeif Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam

Minggu lalu penulis menerima sms dari sesepuh dan dikenal sebagai tokoh Masjumi (yang tersisa) yakni Bapak HM. Cholil Badawi (80 tahun), bunyinya: “Ayahmu Menteri Keuangan Icah, Lili menyeka matanya yang basah. Ayah mengurusi uang negara, tetapi tidak punya uang untuk membeli kain gurita bagi adikmu Khalid yang baru lahir. Kalau ibu tidak alami sendiri kejadian itu, ibu pasti bilang itu khayalan pengarang. Tapi ini nyata. Ayahmu sama sekali tidak tergoda memakai uang negara, meski hanya untuk membeli kain gurita!” (cuplikan : Presiden Prawiranegara Kisah 209 hari Sjafruddin Prawiranegara  memimpin Indonesia karya Akmal Nasery Basral—penulis  Sang Pencerah—diterbitkan menyambut 100 tahun  Sjafruddin Prawiranegara 28-2-2011) Sangat inspiratif di tengah kekacau-balauan Republik hari ini”

Penulis pun menghubungi HM. Cholil Badawi dan berkomentar, ”Sms panjang itu niscaya ditujukan untuk mengcounter pernyataan presiden SBY yang baru saja melontarkan keluhan gajinya tidak pernah naik sepanjang tujuh tahun terakhir,” kata mantan Wakil Ketua DPA ini.

Pernyataan SBY itu seperti biasanya disambut hiruk-pikuk kritik hebat ke arah dirinya. Entah apa maksud di balik “Curhat” SBY kali ini? Beberapa hari sebelumnya presiden sudah dijadikan bahan olok-olokan dan dibongkar kebohongannya oleh Tokoh Lintas Agama yang dipelopori Ahmad Syafii Maarif dan Din Syamsuddin. Apakah pernyataan gaji itu dimaksudkan mengalihkan isu? Wallahualam, tapi pernyataan ini disambut dengan kecaman di mana-mana. Bekas juru bicara Presiden Abdurahman Wahid, Adhi Massardi dengan sengit menyakan pernyataan SBY tentang gajinya itu sangat memalukan bahkan sangat menjijikkan.

Pernyataan presiden tentang gajinya yang tidak pernah naik sepanjang tujuh tahun ini pasti baru sekali-kalinya terjadi sejak negeri ini memiliki presiden dimulai: Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurahman Wahid, dan Megawati. Fasilitas kehidupan seorang presiden RI, hakikatnya sudah amat luar biasa besar, dibandingkan sejumlah negara tetangga seperti Philipina, Thailand, Vietnam atau India yang presidennya hanya digaji Rp 9 juta, jauh di bawah presiden RI yang bergaji Rp 62 juta dengan sejumlah fasilitas: dana taktis Rp 2 milyar, anggaran  keamanan Rp 52 milyar, alat rumah-tangga Rp 49 milyar, baju/busana Rp 850 juta, dan hak memberikan bantuan setiap berkunjung Rp 150 milyar.

Hakikatnya pernyataan SBY sekadar trick memainkan isu dan politik pencitraannya yang diyakininya selalu membawa keuntungan politik baginya. Walau demikian, toh Menteri Keuangan, Agus Marto sigap merespons keluhan gaji presiden itu dengan mengumumkan kenaikan secepatnya gaji seluruh pejabat negara dari presiden sampai bupati, sejumlah 8.000 personel. Rencana ini pun segera ditanggapi kecaman kalangan luas khususnya DPR-RI.

Mengapa pula Sjafruddin Prawiranegara? Artikel ini memang akan bicara seorang presiden RI. Dan rakyat Indonesia tidak banyak yang tahu negeri kita pernah memiliki kepala pemerintahan bernama Sjafruddin Prawiranegara, ketika ia menjabat sebagai Ketua PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia).

Mendekati sumber, penulis sengaja menelepon putra Sjafruddin, Farid Prawiranegara yang sudah penulis kenal sejak lama dan menanyakan ihwal sms di atas. Diperoleh keterangan, memang Februari 2011, tepatnya 28 Februari 2011 ini panitya Satu Abad (seratus tahun) Sjafruddin Prawiranegara akan menggelar hajad besar di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru Jakarta. Menurut Farid dalam acara di Al Azhar itu akan diluncurkan pula buku karya  Akmal Nasery Basral berjudul: Presiden Prawiranegara, Kisah 209 Hari Sjafruddin Prawiranegara memimpin Indonesia. Penulis  Sang Pencerah ini kata Farid juga merencanakan akan memfilmkan  bukunya seperti Sang Pencerah yang merupakan riwayat KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.

Bagi penulis, yang pernah dekat dengan Sjafruddin Prawiranegara sejak 1979 sampai wafat, mendengar namanya disebut-sebut membuat ketukan nurani yang khas, yakni tentang teladan, kejujuran dan kesederhanaan hidup sekaligus kekukuhan bahkan keberanian dan ketegaran sikap dalam perjuangan. Hal itu melekat pada diri Sjafruddin juga tokoh-tokoh Masjumi yang berkumpul di bekas kantor pusat Masjumi dan kini menjadi kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jl. Kramat Raya 45 Jakarta. Bagai cetakan, sikap-sikap teladan kawan-kawan Sjafruddin  yang acapkali bertemu di kantor Dewan Dakwah pada 1980 an antara lain : M. Natsir, Mr. Moh. Roem, Mr. Boerhanuddin Harahap, Mr. Kasman Singodimedjo, Osman Ralibi, Yunan Nasution, Hasan Basri, hingga Anwar Haryono dan Hussein Umar. Di rubrik ini pernah penulis rinci keteladanan seorang Natsir. Jika diperas 100 tokoh negeri ini, niscaya Natsir ada di dalamnya. Bahkan jika diperas menjadi 10 tokoh saja, insya Allah Natsir masih termasuk di dalamnya. Sjafruddin kira-kira idem-ditto dengan M. Natsir.

Ketika para teladan ini masih sering berkumpul di lingkungan kantor Dewan Dakwah pada 1980—an cendekiawan dari Bandung khususnya dari Yogya, seperti Saifullah Mahyuddin, Kuntowidjojo, Yahya Muhaimin, dan serenceng nama lainnya, khususnya M. Amien Rais acapkali menyambangi para teladan di Dewan Dakwah. Amien Rais yang baru saja pulang dari konferensi Palestina di Timur Tengah datang dan “ditanggap” para teladan di ruang rapat yang sangat bersahaja di belakang Masjid Al Furqan Kramat Raya 45.

Para teladan pun asyik berdiskusi hasil konferensi yang dibawa cendekiawan dari Yogya ini. Dalam diskusi yang hangat itu muncul perdebatan yang mengungkap gaya bicara dan karakter para  Founding Father negeri ini. Roem yang bicara sangat lembut, atau Boerhanuddin yang mencecar nara sumber, dan Natsir yang selalu tampil memimpin. Dan Sjafruddin? Selalu meledak, selalu keras dan mendobrak kebuntuan mencari solusi. Kenangan penulis bersama-sama para teladan ini berlangsung dari akhir 1970-an dan berakhir awal 1990-an saat para teladan sudah tak tersisa, satu persatu Dipanggil Ke Haribaan Al Khaliq.

Sekadar diingat pada awal 1980an, situasi politik nasional memanas para tokoh bangsa menentang rejim Soeharto dengan ditandatanganinya Petisi 50 pada Mei 1980. Deretan para teladan ini  ikut tandatangan (kecuali Mr. Moh. Roem). Kramat Raya 45 pun bagai menjadi pusat perlawanan kepada Rejim Soeharto.

Adalah Sjafruddin seorang penandatangan Petisi 50 yang paling vocal menentang Soeharto—belakangan gaya ini diikuti Ali Sadikin-- Kala itu semua orang begitu takut kepada Soeharto. Rasanya tidak ada satu pun orang yang berani melawan kehendak Soeharto. Pers pun tunduk setunduk-tunduknya, dan tidak berani memuat (melalui wawancara) pikiran para tokoh Petisi 50.

Ketika itu penulis mewawancarai Hoegeng, Ali Sadikin, dan Boerhanoeddin Harahap dan dimuat di majalah Dewan Dakwah : Serial Media Dakwah, penulis dianggap “gila” oleh rekan-rekan wartawan. Ketika itu Sjafruddin  ceramah dan khotbah di mana-mana  menyerang Soeharto dengan amat lantang. Bahkan ceramahnya tentang “Pancagila” dia lontarkan hanya beberapa ratus meter dari kediaman Soeharto di Cendana. 

Penulis merekam ceramah-ceramah kritis Sjafruddin. Kelak ketika putra Sjafruddin, Farid Prawiranegara pulang dari Australia, rekaman ceramah ayahandanya itu penulis tunjukkan dan membuat sang putra geleng-geleng kepala begitu berani ayahnya mengkritik Soeharto ketika itu. Yang membuat sang putra kagum, kini ayahandanya sangat fasih dengan ayat-ayat Qur’an dan Hadits dan mengutipnya dalam setiap ceramah yang meluncur bagai air deras di pancuran.

Hal inilah yang juga dikagumi Mochtar Loebis wartawan senior yang mengenalnya sejak revolusi awal 1945,”Selama bersama dalam tahanan pasca 1965 di RTM (Rumah Tahanan Militer) rejim Soekarno, saya merasa takjub betapa Sjafruddin menguasai ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi, juga fasih berbicara dalam bahasa Arab. Sjafruddin menyatakan hal ini setelah ia melakukan studi khusus selama di tahanan. Dan Sjafruddin seorang intelektual sejati yang berfikir luas yang fasih bicara falsafah Islam, Timur dan falsafah Barat. Dia tahu persis sejarah, dia punya budaya sendiri, dia punya pandangan ekonomi sendiri dengan pengalamannya sebagai gunernur BI yang pertama dan menteri keuangan, memberi wawasan yang luas bidang moneter seluruh dunia,”

Dan Sjafruddin kata Mochtar Loebis: “Amboi galaknya Sjafruddin ini. Tapi ketika orang sudah mengenal dekat, tabiat dan jiwanya, wataknya, sikap dan perjuangan hidupnya, taqwanya kepada Allah Swt, penghayatan agamanya, cintanya kepada rakyat dan bangsa Indonesia, dan mengenal riwayat utuh perjuangannya, maka kita tidak akan lagi terkejut melihat dia meledak-ledak. Karena kita akan tahu Sjafruddin Prawiranegara meletus dan meledak semuanya adalah untuk tujuan yang baik dan benar. Dia hanya memerangi yang bathil, yang jahat, yang palsu, yang sewenang-wenang dan menindas.” (Dikutip dari buku : Sjafruddin Prawiranegara 75 Tahun Dalam Pandangan Para Tokoh, 1986).

Kini Februari 2011 ketika orang merasa gamang kepercayaannya kepada presiden SBY, muncul ingatan bahwa Indonesia, sejatinya pernah memiliki Presiden ke-II yakni Sjafruddin Prawiranegara, yang penuh teladan. Panitya satu abad Sjafruddin Prawiranegara, niscaya tidak bermaksud mengcounter presiden SBY  seraya mengingatkan peranan Sjafruddin, melainkan karena 28 Februari adalah hari  lahir Sjafruddin Prawiranegara (28 Februari 1911-2011).

Ungkapan tahniah pantas diberikan kepada keluarga besar Sjafruddin Prawiranegara dan jajaran Keluarga Besar Bulan Bintang, Masjumi. Sejatinya Sjafruddin Presiden RI yang penuh teladan. Sudah sepantasnya ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, menyusul seniornya M. Natsir.

 

Comments (3)
  • Z
    avatar
    Begitulah bedanya 'Pemimpin' dgn 'Kepala Negara',pemimpin akan berusaha menjadi Pimpinan dalam segala bidang termasuk dalam kesederhanaan, sementara Kepala Negara(terutama yg skrg) hanya menjadi ikon suatu negara,gak heran yang dipentingkan selalu Citra;yang penting 'kepala' nya selalu kelihatan bagus,masa bodoh dgn 'badannya'(Rakyat & Bangsanya)
  • Abu Lazuardi
    avatar
    Asslmkm,
    Ana baru tau ternyata ada anak bangsa ini yang seperti beliau, ana fikir ini harus disebarluaskan sebab selama ini informasi tetntang beberapa orang tokoh " Islam " selalu dipelintir dan dia anggap kiri. Syukron
    wassalam
  • handono bhakti
    avatar
    Subhanallah, tulisannya menyentuh sekali, ustadz ...
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
 
PENCARIAN
Advert
TERKAIT