Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Bagaimana Menghilangkan Kezaliman di Negeri Ini? - Bagaimana Menghilangkan Kezaliman di Negeri Ini... | Y

Bagaimana Menghilangkan Kezaliman di Negeri Ini?

altItulah judul ceramah i’tikaf yang disodorkan oleh pengurus DKM suatu masjid pada bulan Ramadhan lalu. Saya pikir bagus kalau banyak masjid meminta tema-tema serupa supaya para jamaah melek terhadap realitas  yang ada dan mulai berfikir bagaimana cara mengatasinya. 

Pasalnya memang banyak sekali kezaliman yang ada di depan mata kita.  Baik di depan mata telanjang kita maupun yang kita lihat di depan TV.  Laksana hidangan sehari-hari berbagai kezaliman ditayangkan berbagai stasiun TV secara massif. Mulai dari terror bom gas elpiji 3kg, terror opini pembubaran ormas Islam, penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir di Banjar, Ciamis,  Jawa Barat sepulang safari dakwah yang diwarnai pemecahan kaca mobilnya, perampokan bank-bank besar-besaran dengan senjata api, bentrok antar warga, bentrok antar mahasiswa, hingga bentrok  yang paling mengerikan di Buol Sulawesi yang sampai-sampai rakyat menyerbu mapolres, mapolsek, dan perumahan polisi dan banyak jatuh korban.  Belum lagi masalah carut marut hokum, politik, dan ekonomi yang melanda negeri ini. 

Alhamdulillah, sebagai Sekjen FUI, saya mendapatkan banyak informasi dan pengalaman dalam mengadvokasi   kasus-kasus kezaliman dan perlakuan tidak adil terhadap para aktivis Islam dan ormas Islam.  Tentu ini sangat membantu dalam mennyampaikan penerangan kepada umat.  Apalagi umat sering dijejali informasi bias yang diberikan oleh media massa sekuler yang sering tidak berpihak kepada Islam dan umat Islam. 

Dalam ceramah i’tikaf tersebut, saya menyampaikan berbagai informasi yang masih fresh seputar rekayasa terorisasi para aktivis muslim di seputar penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir.  Pasalnya saya bersama para pimpinan ormas Islam pria dan wanita baru diterima pada tanggal 21 Ramadhan 1431H (31 Agustus 2010) oleh Komisi III DPR RI dalam RDPU untuk membahas masalah penanganan kasus-kasus terorisme oleh Densus 88 Mabes Polri. 

Dalam acara dengar pendapat tersebut saya membacakan Surat Terbuka FUI yang intinya mengecam penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir yang sangat tidak etis tersebut dan rekayasa terorisasi para aktivis Islam sekaligus meminta  Komisi III untuk membentuk Panja untuk menyelesaikan masalah tersebut. 

Ketua Tim Advokasi FUI yang juga Ketua DPP FPI Bidang Nahi Munkar Munarman, SH menguraikan tentang rekayasa sistematis kasus pelatihan militer di Aceh yang dilakukan oleh “disertir” anggota polri, Sofyan Tsauri, yang dibantu oleh anggota polri aktif dari Mako Brimob Kelapa Dua.  Sofyan alias Abu Ayyas-lah yang melatih anak-anak FPI di Aceh, lalu merekrut dan melatih mereka di Depok Kelapa Dua, melatih mereka menembak di dalam Mako Brimob, dan yang mengadakan pelatihan di Aceh sekaligus memasok senjatanya.   Keterlibatan mereka dalam kasus pelatihan militer di Aceh yang dijadikan alasan untuk menangkap KH. Abu Bakar Ba’asyir tersebut telah diakui oleh Kadiv Humas Mabes Polri waktu itu, Irjenpol Edward Aritonang.  Selain itu Munarman juga meminta kepada Komisi III untuk mengaudit dana dari Amerika untuk pembentukan dan operasi densus 88 yang tidak masuk APBN, mengaudit tindakan-tindakan Densus dan juga memeriksa adanya Satgas Anti Bom yang berada di luar struktur Densus yang dikepalai jenderal polisi berbintang tiga yang memburu para aktivis muslim dan melakukan penyiksaan kepada mereka.  Mengenai penyiksaan oleh polisi terhadap para aktivis Islam, KH. Abu Jibril menerangkan tentang pengalaman pribadinya dimana anaknya, Muhammad Jibril Abdurrahman diculik polisi dan disiksa hingga babak belur pada hari-hari pertama penangkapan.  Yang lebih sadis lagi Jibril dipaksa oleh polsii mensodomi orang!  Saya meneteskan air mata ikut merasakan kepedihan hati KH. Abu Jibril mengenang perlakuan biadab kepada anaknya itu. 

Entah setan dari mana yang merasuki polisi sampai bisa melakukan perbuatan yang sangat keji itu.  Saya lalu ingat kasus penjara Abu Ghraib dimana para tahanan diperlakukan oleh tentara AS secara keji dan sadis, diluar batas-batas peri kemanusiaan.  Saya teringat bahwa sekolah pelatihan anti terror para polisi itu adalah di AS.  Ya, negara pelanggar HAM terbesar di dunia itulah sumber kezaliman di atas dunia hari ini.  Satu juta rakyat Vietnam, satu juta rakyat Irak, dan seratus ribu rakyat Afghanistan telah menjadi korban keganasan tentara AS.  Pengeboman Hirosima dan Nagasaki yang memakan 266.575 korban jiwa tentu juga tidak bisa dilupakan.  Kini tangan-tangan AS itu menyebar terror dimana-mana dengan program war on terrorism yang maknanya adalah war on Islam.

Oleh karena  karena itu, selama pemerintah dan aparat keamanan di negeri ini berkiblat kepada AS, maka kezaliman kepada rakyat yang mayoritas muslim ini bisa dipastikan tak akan surut.  Namun tentu pihak-pihak yang berkompeten di negeri ini seperti DPR, Partai, Ormas, Ulama, tidak boleh diam.  Justru mereka harus proaktiv menghentikan kezaliman itu.   Itulah kenapa FUI datang ke Komisi III.  Dan dalam surat terbuka kepada Komisi III tersebut tidak lupa FUI mengingatkan para wakil rakyat itu dengan firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,…”  (QS. Hud: 113).

Kita menunggu action para wakil rakyat dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Allahu Akbar!

 

Comments (2)
  • sutrisno_585
    avatar
    memang dalam kehidupan dimana saja kalau para pejabatnya zalim pasti akan membawa dampak buruk pada negaranya
  • marvine
    avatar
    ck..ck..
    sangat memprihatinkan.
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
 
PENCARIAN
Advert
TERKAIT