Pendidikan Anak Laki-Laki (Bagian 2)
Erma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)
Assalamu’alaikum, Bu Erma.
Ibu pernah menjawab pertanyaan tentang pendidikan anak perempuan, bagaimana dengan pendidikan anak laki-laki? Adakah hal-hal khusus yang perlu diperhatikan, mengingat anak laki-laki adalah calon pemimpin keluarga dan masyarakat?. Terima kasih sebelumnya.
Ummu Abdullah
Pada edisi lalu, saya sudah jabarkan konsep pendidikan anak laki-laki dari salah satu ulama pendidikan Islam, yakni Miskawih. Pada edisi ini, saya ajak para pembaca untuk melihat lebih jauh metode pendidikan bagi anak laki-laki yang Miskawih tawarkan.
METODE PENDIDIKAN JIWA BAGI ANAK LAKI-LAKI
Bagi Miskawih, memperhatikan aspek psikis adalah hal terpenting, karenanya Miskawih memulai metode pembinaan dengan:
1. Memberikan pujian bagi anak yang melakukan perbuatan baik, atau perbuatan yang diharapkan. Pujian ini kita berikan langsung kepada si anak dan juga dengan memuji perbuatan orang lain di depan sang anak agar anak terdorong untuk mencontohnya.
2. Mengajak anak untuk mencintai yang lebih tinggi dari makanan, minuman, dan baju-baju bagus. Caranya adalah dengan meninggalkan hal-hal tersebut kecuali secukupnya saja.
3. Ia patut dilatih untuk dapat menghargai sifat-sifat murah hati, seperti mendahulukan (kepentingan) orang lain untuk mendapat makan dan minum, dan ia patut membatasi diri pada apa yang wasith/pertengahan dan berupaya untuk terus bersikap tidak berlebihan.
4. Anak harus diberi peringatan tentang hukuman, yang akan membuatnya takut berbuat jahat.
Apabila seorang anak melakukan kesalahan secara berulang-ulang, ada baiknya bagi pendidik untuk pura-pura tidak tahu, terutama jika anak itu berusaha menutupi kesalahannya (berarti dia sudah menyadari dan merasa malu, tetapi belum mampu untuk menghindarinya). Jika pendidik merasa perlu untuk menegur, maka lakukanlah secara diam-diam. Menegurnya di depan orang lain malah bisa mengakibatkan si anak merasa cuek dan menganggap perbuatan jelek itu sudah menjadi bagian dari dirinya.
Contoh: Seorang anak biasa mendengar orang tuanya/gurunya mengatakan, “Kamu kok selalu bohong ya!” maka makin lama dia merasa bahwa bohong itu biasa baginya dan sudah menjadi bagian dirinya sehingga dia akan makin menikmati berkata bohong, toh semua orang sudah menerimanya dengan sifat demikian.
Jika metode psikis gagal, barulah pendidik bisa mengambil jalan hukuman fisik bila sangat diperlukan.
KEBIASAAN-KEBIASAAN BAIK
Beberapa kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah:
1. Aturan dalam makan dan minum
Anak-anak laki-laki harus dipahamkan bahwa fungsi makanan adalah untuk memberikan energy bagi tubuh dan untuk menjaga kesehatan, bukan untuk kesenangan atau memanjakan lidah. Oleh karenanya, anak-anak harus dilatih untuk tidak berlebihan dalam menyukai makanan, dibiasakan makan makanan yang sesederhana mungkin, dan dilatih untuk makan makanan orang miskin. Anak-anak juga perlu dibiasakan untuk tidak terburu-buru saat makan, menguyahnya dengan baik, dan tidak memandangi makanan atau orang makan.
2. Aturan dalam berpakaian
Dalam hal berpakaian, Miskawih menekankan agar anak laki-laki dilatih untuk mencintai warna putih, karena pakaian berwarna dan bermotif lebih cocok bagi para wanita. Anak-anak juga tidak boleh mengenakan apapun yang menyerupai wanita, termasuk memelihara rambut panjang. Selain itu, amat sangat disayangkan jika seorang anak memiliki kebiasaan untuk memamerkan harta orang tuanya melalui pakaian yang mewah (termasuk juga makanan). Segala macam aksesoris sebaiknya dihindari bagi anak laki-laki.
3. Aturan dalam olah raga dan permainan
Olah raga dan bermain merupakan bagian yang sangat penting bagi perkembangan anak laki-laki. Kegiatan fisik bisa menjadi waktu istirahat dan relaksasi di sela-sela waktu belajar. Anak-anak harus dibiasakan untuk berjalan, bergerak, mengendarai kuda (sepeda, untuk masa kini) agar tidak menjadi pemalas dan kebanyakan tidur. Menurutnya, kebanyakan tidur menyebabkan kemalasan, menumpulkan otak, dan mematikan pikiran.
4. Aturan secara umum
Beberapa hal lain yang perlu diajarkan kepada anak laki-laki adalah untuk tidak meludah saat sedang bersama orang lain, demikian juga bersisi (membersihkan hidung), tidak menguap, tidak menyilangkan kaki maupun menahan dagu atau kepala dengan tangan karena hal ini menunjukkan kemalasan.
Di atas semua itu, anak-anak harus dibiasakan dengan aturan-aturan Syariah sebelum belajar hal-hal yang lain. Miskawih mengatakan: “Anak-anak yang tumbuh dalam aturan Syariah dan menjalankan kewajibannya hingga terbiasa, kemudian belajar etika hingga menjiwainya, lalu belajar aritmatika dan geometri, maka dia akan terbiasa dengan perkataan dan perbuatan yang benar.”
Jiwa anak-anak masih mudah dibentuk. Jika kita membentuknya menjadi baik, maka mereka akan mudah menjadi baik. Jika kita tidak membentuknya atau bahkan memberikan contoh yang buruk, maka mereka harus berjuang lebih berat untuk menjadi baik. Hal ini berlaku untuk apapun, termasuk kebiasaan melihat pornografi, kebiasaan marah, bermalas-malasan, dsb.
Demikian jawaban untuk pertanyaan Ibu. Semoga bermanfaat. ***









