Ciri-ciri Sekolah Bagus
Erma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)
Assalamu ’alaikum Bu Erma,
Setiap tahun ajaran baru akan dimulai saya melihat beberapa orang tua sibuk untuk mencarikan sekolah anaknya. Mereka berharap anaknya bisa masuk ke sekolah yang bagus. Mereka pun bertanya-tanya kepada rekan, saudara atau pakar yang mengetahui mutu sekolah-sekolah mana sekolah yang bagus itu. Timbul pertanyaan saya, seperti apakah sekolah yang bagus itu paling tidak di mata para pakar pendidkan? Atau dengan kata lain, apa ciri-ciri sekolah yang bagus itu? Terima kasih atas jawabannya.
M. Abu Fathan, Bekasi
Wa’alaikum salam Pak Abu,
Sekolah yang bagus adalah sekolah yang mampu mewujudkan tujuan sekolah tersebut, yang biasanya sejalan dengan maksud dan tujuan masyarakat. Dari masa ke masa sekolah menyesuaikan diri dengan apa yang diinginkan masyarakat pada umumnya. Sekolah yang bagus periode sekitar tahun 1990-an untuk tingkat SMA adalah SMA yang menjamin siswanya lulus SIPENMARU (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) atau UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) atau SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) jika mungkin perguruan tinggi yang bergengsi. Jadi ukuran yang digunakan waktu itu adalah mutu pengetahuan khususnya MIPA, IPS dan Bahasa Inggris.
Sejak tahun 1990-an perkembangan kondisi pergaulan remaja mengalami perubahan. Waktu itu banyak terjadi kenakalan remaja yang menjurus pada kriminalitas. Paling tidak banyak terjadi tawuran, mabuk-mabukan dan seks bebas. Kenakalan remaja itu menyebabkan perubahan kriteria
sekolah yang baik yang digunakan oleh orang tua murid. Dengan kondisi pergaulan remaja yang cukup membahayakan tersebut orang tua lebih memilih sekolah yang dapat menjamin kelakukan baik anaknya.
Indikator sekolah bagus pun dari waktu ke waktu berubah. Ketika masa penjajahan Belanda, sekolah bagus menurut kaum pribumi pada waktu itu adalah sekolah bergengsi yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Belanda (ELS). Ada sekolah untuk anak-anak pribumi berbahasa Belanda, tapi khusus bagi pegawai-pegawai tinggi seperti demang, wedana, dan sebagainya, yaitu HIS, MULO, dan AMS. Sedangkan sekolah yang dianggap kurang bermutu waktu itu adalah sekolah yang diperuntukkan kaum pribumi secara umum yang di Jawa biasa disebut dengan Sekolah Ongko Loro (angka dua).
Pada jaman kemerdekaan berbeda lagi. Undang-undang pendidikan yang lahir pada waktu itu (UU tahun 1947, 1950, dan 1954) fungsi dan tujuannya bernuansa persatuan bangsa. Undang-undang pendidikan selanjutnya yaitu tahun 1967 (Tap MPR) bernuansa membendung ideologi komunis. Sedangkan dua Undang-undang pendidikan terakhir, yaitu No. 2/1989 dan No. 20/2003 fungsi dan tujuannya bernuansa sains dan teknologi.
Fungsi dan tujuan pendidikan sebagai indikator sekolah bagus yang diamanahkan undang-undang kepada lembaga pendidikan dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 disebutkan fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan tujuannya adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Itulah indikator yang paling sederhana untuk menilai standar sekolah bagus di negara kita.
Glasser, dalam bukunya yang kedua, The Quality School Teacher memberi pesan kepada kita bahwa sedikitnya ada enam indikator yang harus dipenuhi sebuah sekolah agar menjadi sekolah berkualitas. Keenam indikator tersebut adalah:
1. Harus ada lingkungan kelas yang hangat dan mendukung.
2. Siswa harus selalu diminta (hanya) untuk melakukan hal-hal yang berguna.
3. Siswa selalu diminta untuk mengerjakannya sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.
4. Siswa diajari dan diberi kesempatan mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri, kemudian diminta untuk meningkatkannya.
5. Pekerjaan yang berkualitas selalu terasa menyenangkan.
6. Pekerjaan berkualitas tidak pernah bersifat merusak.
Menurut hemat saya, indikator sekolah bagus yang diinginkan oleh orang tua akhir-akhir ini –secara sederhana, adalah sekolah yang dapat mencetak anak yang berimtak dan beriptek. Hal ini terbukti dengan makin tumbuh suburnya sekolah-sekolah Islam baik terpadu (TKIT, SDIT, SMPIT) maupun biasa, baik yang boarding maupun non-boarding. Seiring dengan ketatnya persaingan di dunia global dibarengi dengan maraknya dekadensi moral akibat masuknya budaya asing, orang tua berusaha menyekolahkan anaknya ke sekolah yang ’aman’ dari gangguan infiltrasi budaya negatif sekaligus anaknya mampu bersaing di dunia global.
Sementara ini menurut pendapat saya sekolah yang dapat menyediakan kebutuhan masyarakat yang seperti itu adalah sekolah-sekolah Islam yang mau meningkatkan mutu pengelolaannya.









