Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Tips Menjadi Keluarga Sabar Pasca Ramadhan - Tips Menjadi Keluarga Sabar Pasca Ramadhan Thur... | Yang, Ki

Tips Menjadi Keluarga Sabar Pasca Ramadhan

Ummu Hafizh
Ketua Departemen Wanita DPP HDI


Bulan Ramadhan menjadi waktu yang paling tepat untuk membentuk sifat sabar dalam keluarga muslim. Bagaimana kita menjaga kesabaran tetap istiqomah mewarnai kehidupan keluarga kita?

Kaitan Shoum dan Sabar


Ibadah puasa menumbuhkan sifat sabar dalam menghadapi berbagai kesulitan. Dimulai dengan bangun di akhir malam dengan sabar untuk menyiapkan hidangan sahur dan makan sahur sambil membuang rasa kantuk. Padahal di awal malamnya sudah disibukkan dengan melakukan sholat tarawih.    
 
Ketika berpuasa, seorang muslim harus menahan diri (imsak) dengan sabar, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dari perbuatan-perbuatan yang tidak perlu, perbuatan halal yang dilarang (makan, minum, hubungan suami isteri), apalagi perbuatan yang haram.  Kemudian mengisi hari-harinya dengan memperbanyak amal saleh, meskipun dalam keadaan tidak ideal (lapar dan haus), seperti: kegiatan rutin harian yang tidak haram baik yang wajib (sholat wajib, birrul walidain, taat pada suami, menuntut ilmu termasuk kajian ke-Islaman, mengurus rumah tangga, mendidik anak, mencari nafkah, berdakwah, bahkan rasul dan para sahabat berjihad, dll), sunnah (tadarus qur’an, shodaqoh, berzikir dan berdoa, dll), dan lain-lain.

Ketika sedang berpuasa ada orang yang mengajak kita bertengkar, maka nabi bersabda: “Katakanlah, Saya sedang shoum”.  Nabi  bersabda:  “Orang yang hebat bukanlah orang yang jago gulat.  Orang yang hebat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya dari nafsu amarah”.

Di waktu zuhur, di tengah hari yang panas, dalam keadaan dahaga dan lapar terbayanglah  es buah yang segar, puding yang manis, kolak yang gurih dan segala makanan yang lezat-lezat untuk berbuka.  Tetapi pada saat berbuka puasa tiba, dahaga dan lapar kita ternyata cukup dihilangkan dengan segelas teh manis.  Kita akan duduk tenang dan nyaman apabila kita berbuka puasa pada waktunya.

Bandingkan jika berbuka puasa di tengah hari, pasti kita merasa tidak nyaman, tidak tenang, merasa bersalah, takut, semua bercampur menjadi satu karena kita melanggar larangan dari Allah Swt. Jadi, Allah memberikan pelajaran bagi kita bahwa  kita harus sabar menunggu sesuatu yang pasti akan datang pada waktunya. Yang penting kita lakukan adalah berdoa, berusaha dan beramal sholeh. Apabila kita menunggu dengan sabar, maka ketika yang kita tunggu-tunggu itu datang, semuanya akan terasa nikmat apapun keadaannya.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah kita jangan pernah memaksa sesuatu yang belum saatnya tiba. Allah sudah mengatur semua nya dan juga mengatur waktunya.  Kalau sekarang kita belum mendapatkan apa yang kita harapkan, maka kita harus sabar, berusaha dan berdoa, sambil menunggu kepastian dari ketetapan Allah yang akan datang pada waktunya. Selama proses menunggu itulah kita harus kuat untuk menghadapi godaan yang muncul berupa perasaan bimbang, resah, gelisah, tidak percaya.

Tujuan Sabar

Sabar ada dalam 3 hal yaitu: menghadapi musibah, istiqomah menjalankan perintah Allah, dan berani meninggalkan larangan Allah.  

Sabar terhadap cobaan dan qadha akan menuntun kita konsisten berpegang teguh kepada kitab Allah Swt.  Seorang hamba akan semakin dekat kepada RabbNya. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepada kamu sekalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.  Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.’.  Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al Baqarah: 155-157).

Sifat sabar membuat seseorang terus diberi petunjuk oleh Allah dalam menghadapi cobaan hidup. Allah SWT berfirman: “Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka merekalah orang yang rugi (QS Al A`raf: 178).

Sifat sabar membentuk kepribadian seseorang selalu tenang, sehingga dia terdorong untuk muhasabah (introspeksi diri). Orang yang sabar dan tabah menghadapi ketentuan Allah akan terpelihara kehidupannya di dunia dan akhirat, dan mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang yang sabar sajalah yang akan disempurnakan pahala mereka dengan tidak terhingga”. (QS Al Zumar: 10).

Ketika Kita Tidak Sabar


Manusia yang tidak sabar dalam menghadapi ketetapan Allah Swt hatinya akan goyah dan tidak rasional. Musibah tidak dianggap sebagai cobaan dan petunjuk untuk meneguhkan keimanan dan kekuatan diri. Kehidupannya dianggap tidak bermakna. Jiwanya tidak tenteram dan perasaannya menjadi kusut karena kesenangan dan kebahagiaan yang dinikmati sebelumnya hilang. Allah dianggap tidak adil. Kemudian syaitan meniupkan rasa putus asa, sesal, sedih dan marah. Akhirnya dia mencari solusi negatif sebagai protes terhadap nasib buruk yang dialaminya. 

Sakit hati dengan keadaan yang tidak ideal timbul karena manusia mempunyai nafsu dan emosi: amarah, dengki, benci, & dendam.  Sakit hati membuat akal & pikiran manusia tidak berfungsi secara efektif, karena dikendalikan oleh emosi.  Akibatnya sebagian besar tindakan kita akan merugikan diri sendiri dan orang lain.  Oleh karena itu, kita harus menancapkan sifat sabar ke dalam hati, jiwa dan raga.

Tips Menjadi Sabar


Tidak semua hal yang kita inginkan akan selalu menjadi bagian dalam kehidupan kita. Oleh karena itulah, maka sifat sabar sangat diperlukan. 

Tanamkan sifat ikhlas yaitu melakukan apapun dalam kehidupan kita sehari-hari semata-mata hanya karena Allah Swt SWT semata.  Ikhlas hanya bisa muncul jika setiap detik kita selalu sadar bahwa kita hanyalah hamba Allah Swt SWT.

Berpikir positif terhadap hal-hal yang menimpa keluarga kita. Musibah adalah ujian bagi kita dan kita harus lulus ujian.  Dibalik setiap musibah pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik untuk meningkatkan keimanan.

Perbanyak membaca ilmu pengetahuan terutama pengetahuan agama (tsaqofah Islam). Sehingga keluarga kita bisa memahami lebih banyak tentang kekurangan yang kita miliki. Pengetahuan yang banyak akan memperluas wawasan berpikir kita, sehingga kita menjadi mudah mencari dan  mendapatkan solusi masalah yang akan kita hadapi.

Berkumpullah dengan orang-orang yang banyak ilmunya, sehingga kita bisa saling berdiskusi dan bertukar pikiran untuk mencari solusi.

Maafkan selalu kekurangan orang lain termasuk anggota keluarga kita yang mungkin membuat kita marah. Setiap manusia pasti memilki kekurangan masing-masing. Lebih baik kita lihat kebaikan-kebaikannya sehingga kita bisa merasa lebih nyaman untuk bergaul dengannya.

Ajaklah keluarga kita berdamai dengan kenyataan, karena hidup ini bukanlah apa yang kita inginkan tetapi apa yang kita jalankan.  Kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik, dan kita harus selalu siap menerima hasil akhir yang telah diputuskan Allah Swt. 

Keluarga kita bisa mensyukuri apa yang telah Allah SWT tetapkan untuk menjadi bagian dalam hidup kita, walaupun hal tersebut bukanlah seperti apa yang selama ini kita cita-citakan.  Allah Swt berfirman: “Jika kalian mensyukuri nikmatKu maka Aku akan menambah kenikmatan itu”.
   
Kita dorong keluarga kita untuk ridho terhadap qadha (ketetapan Allah Swt).  Qadha dari Allah Swt menjadi penebus atas dosa-dosa seseorang, dan sebagai penghapus kesalahan. Nabi bersabda: “Sesungguhnya jika Allah Swt akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka.  Barangsiapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya.  Dan barangsiapa marah (tidak sabar), maka kemarahan itu akan kembali kepadanya.  (HR Ahmad dan At Tirmidzi).
   
Jadikanlah shoum menjadi agenda rutin keluarga muslim dimulai dengan shoum 6 hari di bulan syawal, lanjutkan dengan shoum senin dan kamis.

Khatimah

Sabar yang sebenarnya adalah ketika kita mengatakan yang haq dan melaksanakannya. Siap menanggung resiko penderitaan di jalan Allah Swt karena mengatakan dan mengamalkan kebenaran, tanpa berpaling, bersikap lemah, atau lunak sedikitpun. 

Sifat sabar akan membuat kita dapat menikmati setiap detik kehidupan dengan hati yang lapang, sehingga akan berujung pada kebahagiaan. Kebahagiaan tidak identik dengan harta. Kebahagiaan adalah suasana hati yang selalu diliputi dengan sifat tenang, tawakkal dan nyaman.

   

 

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
 
PENCARIAN
Advert