Memilih Sekolah Anak
Ummu HafizhKetua Departemen Wanita DPP HDI
Tahun ajaran baru membuat orangtua berpikir keras untuk memilih sekolah yang baik untuk anaknya. Setiap orangtua pasti berharap agar anaknya taqwa, cerdas dan terampil. Sekolah menjadi salah satu sarana untuk mewujudkannya. Banyak kendala yang harus dihadapi orangtua, mulai dari standar nilai minimum, biaya yang mahal, sampai kecukupan nilai-nilai Islam dalam kurikulumnya.
Standar sekolah bermutu berubah dari tahun ke tahun mengikuti perkembangan jaman. 15 tahun yang lalu, standarnya sekolah disiplin (paling sering menghukum siswanya), yang banyak memberikan PR, yang sering memberikan ulangan. Lalu, sekolah yang siswanya mendapatkan nilai EBTANAS tertinggi atau memenangkan lomba-lomba. Lalu standarnya berubah, yaitu sekolah yang fasilitasnya lengkap (laboratorium komputer, elektro, fisika, biologi dll). Lalu sekolah yang menyeimbangkan IQ dan EQ. Era sekarang, standarnya sekolah bilingual, bertaraf internasional. Jadi, bagaimana orantua harus memilih sekolah?
Sistem Pendidikan Islam
Penerapan system pendidikan Islam akan menghasilkan umat yang terbaik. Penerapannya harus ditopang 3 pilar: yaitu ketaqwaan individu, masyarakat yang Islami dan system kenegaraan Islami. Pendidikan Islam berorientasi pada penguasaan tsaqofah Islam, pembentukan kepribadian Islam dan penguasaan iptek. Jadi system pendidikan Islam akan melahirkan umat yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan manusia dengan syariat Islam.
Saat ini, sisem pendidikan Islam belum dapat diterapkan secara sempurna. Karena pelaksanaannya terkait dengan system lain: pergaulan, ekonomi, budaya, politik dll. Jadi orangtua bertanggungjawab untuk mendidik anaknya agar menjadi muslim yang taat kepada Alloh dan rasul-Nya, meningkat iman Islamnya dan menjalankan syariat Islam. Dimanapun anak bersekolah, orangtua tidak dapat menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anaknya kepada sekolah. Orangtua harus punya target dan program untuk anak-anaknya.
Ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Apalagi dalam system kehidupan saat ini yang belum Islami, maka setiap sekolah pasti terdapat kekurangan. Disinilah peran ibu untuk selalu berusaha menyempurnakan pendidikan anaknya sehingga bisa menjadi muslim yang mampu melaksanakan kewajiban syariat Islam.
Waspadai Sekolah Berlabel Islam yang Merusak
Ada sekolah berlabel Islam yang kurikulumnya jauh dari Islam bahkan anti Islam. Oleh karena itu, kita harus mempelajari program dan visi misi sekolah. Terutama sekolah swasta. Perhatikan latar belakang para pengajarnya.
Sebagai contoh, Ma’had Al Zaitun di Indramayu Jawa Barat yang menjadi markas pengkaderan “NII” gadungan menafsirkan ayat-ayat quran sesuai kepentingannya. Pesantren ini sangat berbahaya karena merusak aqidah dan syariat Islam. Sedangkan sekolah di lingkungan Jaringan Islam Liberal (JIL) menanamkan pemikiran sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalism).
PIRI (Perguruan Islam Republik Indonesia) adalah sekolah Ahmadiyah yang menyesatkan aqidah Islam. LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) nama baru dari Lemkari, Darul Hadits dan Islam Jama’ah yang dilarang pemerintah, merupakan lembaga propaganda pengkafiran umat Islam.
UIN, IAIN, STAIN, STAIS terdapat jurusan yang rentan tercemar pemikiran liberal dengan ilmu filsafatnya dan disinyalir menjadi target barisan pemurtadan.
Sekolah Islam Relatif Lebih Banyak Porsi Agamanya.
Bahkan sudah ada usaha dari sekolah Islam untuk memadukan agama dengan pelajaran lain. Agama merupakan fondasi untuk membentuk kepribadian seseorang. Oleh karena itu, sekolah Islam menjadi alternative untuk meningkatkan wawasan keislaman anak dan membentuk kepribadian Islam anak.
Namun, sekolah Islam ini perlu ditingkatkan keteguhannya dalam menerapkan ajaran Islam. Sehingga Islam tidak hanya menjadi teori saja, tetapi ada dorongan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, pakaian muslim tidak hanya menjadi seragam di sekolah saja.
Para orangtua di sekolah Islam harus lebih kritis untuk mendorong para guru mengajarkan Islam sebagai pandangan hidup. Sehingga para siswa sekolah Islam menjadi bagian terdepan dari barisan para pejuang Islam.
Waspadai bantuan asing ke sekolah Islam/pesantren karena mengandung agenda tersembunyi, baik bantuan buku, membiayai kunjungan santri maupun kyai ke AS atau Negara eropa, bahkan tafsir dan ilmu adab.
Tips Memilih Sekolah
Tujuan anak disekolahkan agar mendapatkan pengalaman hidup sebelum ia terjun sesungguhnya di masyarakat. Sekolah adalah miniature masyarakat. Faktor pendukung untuk sukses menjalani kehidupan setelah sekolah adalah: integritas (kesesuaian antara ucapan dan keyakinan dalam praktek kehidupan nyata), disiplin (mengatur diri sendiri untuk mencapai tujuan sebagai hamba Alloh), keterampilan social (menjalin hubungan dengan orang lain), bekerja tekun dan giat sesuai syariat Islam. Faktor-faktor ini dibentuk oleh kondisi keluarga di rumah dalam proses tumbuh kembang anak, dan merupakan hasil dari teladan orangtua kepada anak-anaknya. Sekolah hanya bisa menempa faktor tsb agar dapat tertanam kuat dan menjadi kebiasaan, atau menguji kebiasaan yang sudah tertanam tsb.
Sekolah bukan satu-satunya pilar penentu masa depan anak. Banyak pilar lain: keluarga, kompetensi anak, bakat lahir, dan lingkungan sosial. Namun sekolah bisa berperan lebih dominan dalam membentuk karakter dan mengembangkan kompetensi anak. Jika realitas tidak begitu, disinilah peran orangtua. Jadi anak harus siap mental dan pikiran, sedangkan orangtua harus siap memenuhi segala kewajiban baik biaya maupun partisipasi aktif di sekolah.
Faktor-Faktor yang Diperhatikan dalam Memilih Sekolah
Sesuaikan dengan minat dan kemampuan anak.Contohnya,menempatkan anak dengan kemampuan pas-pasan di sekolah akselerasi akan membuat anak tertekan.
Kualitas pendidik. Bagaimana akhlak guru, profesionalismenya, kemampuan komunikasinya, dan apakah mereka mudah diajak kerja sama untuk mendidik anak kita. Kita tidak perlu tergiur guru bertitel segudang: Prof, Doktor, Ir, Psikolog. Yang terpenting guru memiliki hati untuk mengajar dan mampu menginspirasi anak.
Fasilitas sekolah aman dan nyaman, sehingga anak dapat mengaktualisasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tantangan di masa depan. Sarana dan prasarana sekolah tidak harus mewah tetapi tidak membahayakan fisik anak, rapi dan bersih.
Ketertiban dan Kebersihan sekolah, membuat siswa senang dan betah di sekolah seperti di rumah sendiri. Sekolah yang rapi dan bersih mengajarkan anak untuk bersikap rapi dan bersih. Sekolah juga memiliki keteraturan program, fisik bangunan, dan hirarki sekolah.
Lokasi sekolah dan lingkungan. Pertimbangkan jarak sekolah ke rumah dan sarana transportasinya, disesuaikan dengan kesehatan anak. Sekolah yang letaknya strategis biasanya kualitasnya relative baik karena kompetisi antar siswa cukup ketat. Jika lokasi terlalu jauh, anak akan kurang: istirahatnya, interaksi dengan anggota keluarga yang lain atau dengan lingkungan sekitarnya.
Sekolah yang berkualitas minimal harus memiliki 5 budaya: budaya disiplin waktu, budaya membaca, budaya bersih, budaya prestasi, dan budaya akhlak yang mulia.
Semakin beragam kegiatan ekstrakurikuler, anak memiliki banyak pilihan sesuai minatnya hingga menjadi kreatif dan produktif. Perhitungkan biaya pendidikan termasuk SPP, uang gedung, seragam, buku, praktikum, kegiatan ekstrakurikuler, les, uang saku, biaya transportasi, perlengkapan sekolah, dll. Sekolah negeri tingkat SD sampai tingkat SMP kini punya program bebas biaya SPP dan uang pangkal. Jangan sampai orangtua terbebani biaya sekolah yang mahal sehingga anak harus putus sekolah. Jika anak bersekolah di sekolah negeri. Karena porsi agamanya kurang, maka orangtua harus membuat program penambahan tsaqofah Islam, baik dalam program keluarga maupun program di lingkungan sekitar. Jika ada ilmu yang bertentangan dengan Islam, orangtua harus tanggap dan segera menghapusnya.
Khatimah
Memilih sekolah harus mengukur kemampuan orangtua dan kemampuan anak. Orang tua tidak perlu memaksakan diri menyekolahkan anak di sekolah mahal jika tidak mampu. Alloh berfirman: “…Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya …” (QS Al Baqoroh: 233).
.









