Kiat Bentengi Anak dari Tipuan ala “NII”
Ummu Hafizh
Ketua Departemen Wanita HDI
Sampai hari ini berita penculikan begitu marak menghiasi berbagai media masa. Ditengarai pelakunya adalah jaringan Negara Islam Indonesia (NII). Berita ini terasa begitu over acting mengiringi ramainya teror bom. Sebagai keluarga muslim kita sangat berkepentingan untuk benar-benar mengetahui berita ini dengan jelas. Jangan sampai kita terjebak berita yang bertujuan untuk menyudutkan diri kita sendiri sebagai bagian dari tubuh kaum muslimin.
Bagaimana kita mensikapi teror ini? Apa kiat-kiatnya agar kita dapat menjaga keluarga kita dari ancaman teror ini?
Waspadai politik Adu Domba Antar Sesama Umat Islam
Kasus penculikan berkedok gerakan Islam NII memiliki misi untuk membuat stigma negatif kepada umat Islam. Modus operandinya, penculik melakukan brainwashing (pencucian otak) terhadap korban. Dan yang paling mungkin melakukan brainwash adalah pihak yang ingin merusak citra Islam. Hal ini terlihat jelas dalam kasus penculikan Liana Febriani di bulan April 2011. Lian diculik kemudian dicuci otak, lalu dalam keadaan linglung dilepas di tengah keramaian. Lian diantar ke Masjid At Ta’awun yang popular sebagai cara jitu untuk menarik publikasi orang banyak. Lian dibekali dengan buku-buku Islam, dan dikenakan baju muslimah bercadar.
Ini adalah siasat untuk blow up opini tertentu yang menyudutkan Islam atau organisasi tertentu yang dianggap radikal atau militan. Kita harus mewaspadai siasat-siasat seperti ini, karena biasanya peristiwa semacam ini hanya digunakan untuk menutupi sesuatu issue besar yang dianggap merugikan kepentingan tertentu.
Fitnah ini begitu keji untuk merusak citra aktivis Islam yang gencar memperjuangkan syariat Islam dan memberantas aliran sesat. Jadi kaum muslimin didorong untuk memusuhi para aktivis Islam. Hal ini akan melemahkan kekuatan umat Islam, sehingga terjadi adu domba diantara umat Islam yang akhirnya membuat umat ini tidak terorganisir, sehingga tidak berdaya untuk menghadapi serangan musuh-musuh Islam. Akibatnya aqidah umat Islam menjadi rusak dan kita menjadi semakin jauh dari syariat Islam. Na’udzubillahi min dzalik.
Ciri-Ciri “NII”
Orangtua harus mencari informasi dan member itahu kepada anak-anaknya tentang ciri-ciri yang berkaitan dengan “NII” ini. Bagaimana penampilannya dan materi pokok pembahasannya, sehingga anak memiliki kewaspadaan menhadapi dunia luar. baik di sekolah, kampus, kantor, atau bergaul dengan siapapun.
Di awal pertemuan, aktivis NII berpenampilan perlente, jauh dari kesan agamis yang berjubah dan berjenggot tebal. Bahkan dari kasus teranyar, aktivis wanitanya tidak selalu memakai kerudung. Akan tetapi mereka memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengagitasi korbannya dengan sejumlah dalil-dalil al qur’an untuk membenarkan argumen mereka.
Tempat pengajian biasanya dirahasiakan dan berada di ruangan tertutup. Si korban ditutup matanya ketika menuju tempat pengajian. Kadang di sebuah rumah yang berkedok padepokan pencak silat.
Pokok utama kegiatan “NII” adalah penyesatan pembelajaran agama dan target setoran yang harus dibayar dalam bentuk mahar ataupun shodaqoh istighfar. Aktivisnya hanya melakukan 2 program, yaitu perekrutan mencari kader-kader baru, dan penyetoran uang setiap bulan. Hal ini membuat “NII” menjadi mesin uang yang efektif karena menghasilkan puluhan milyar rupiah dalam waktu sebulan.
Korban yang diincar adalah orang yang dalam usia labil, yang masih dalam proses pencarian jati diri. Mulai dari ABG, remaja atau pemuda, baik dari kalangan pelajar sekolah menengah atas, mahasiswa bahkan karyawan kantor. Target kedua adalah orang yang tidak memiliki pengetahuan Islam yang cukup. Ataupun sekalipun pernah mengenyam pendidikan agama tetapi tidak teguh dalam bersikap.
Oleh karena itu, dalam proses perekrutan korban, mereka melihat terlebih dahulu kapasitas korban dalam pengetahuan agamanya. Calon potensial untuk menjadi target mereka adalah korban yang ketika diajak diskusi soal agama tidak kritis dan ngeyel. Setelah korban masuk dalam kategori potensial, maka mereka akan mendapat doktrin-doktrin selanjutnya.
Doktrin pertama digambarkan bahwa Indonesia diibaratkan sebagai Mekah, sedangkan “NII” sebagai Madinah. Negara Indonesia tidak menerapkan syariat Islam, jadi pemerintahannya adalah thogut. Semua orang di luar “NII” dianggap sebagai orang kafir. Masyarakat Indonesia disamakan dengan apel dalam tong sampah. Karena tinggal di tempat najis, segala ibadah orang di luar “NII” tidak sah. Dalam doktrin lain disebutkan bahwa karena kita hidup dalam fase Mekah, maka belum ada kewajiban sholat.
Doktrin berikutnya, untuk menjadi muslim yang benar, orang harus hijrah dari Indonesia ke “NII”. Korban dari luar kota akan diajak hijrah ke Jakarta, sedangkan korban yang berdomisili di Jakarta akan dibawa dengan mata tertutup ke suatu tempat yang disinyalir berlokasi di Rawamangun.
Hijrah didahului dengan syarat membayar mahar atau shodaqoh istighfar yang jumlahnya berkisar antara 2 juta rupiah sampai 30 juta rupiah. Setoran itu harus sudah ada keesokan harinya setelah memutuskan hijrah. Para pelajar atau mahasiswa yang tidak memiliki uang sebesar itu akan didorong dan diajarkan cara menipu orangtuanya. Biasanya berpura-pura telah menghilangkan laptop temannya dan harus segera menggantinya. Untuk meyakinkan tipuan, mereka mengirimkan anggota “NII” yang lain menghubungi keluarga korban untuk bertindak sebagai orangtua dari temannya yang dihilangkan laptopnya.
Selanjutnya korban harus melakukan baiat dan anggota harus menyetor sejumlah uang setiap bulannya. Anggota NII akan diberi jabatan misalnya menjadi polisi “NII”, lurah “NII”, camat “NII”, dll. Setiap anggota harus merekrut korban-korban berikutnya.
Setelah menjadi anggota “NII” biasanya sulit sekali untuk melepaskan diri, karena jika keluar diancam akan dihukum pancung atau dibunuh. Orang-orang yang berhasil melepaskan diri biasanya akan terus dikejar dengan dihubungi ataupun didatangi rumahnya. Jika tidak berhasil dibawa kembali, aktivis “NII” akan berpindah tempat untuk menghilangkan jejak jika si korban membocorkan lokasi mereka.
Kiat-Kiat Menghindari Aksi Penculikan NII
Tingkatkan komunikasi dengan anak, sehingga anak menjadikan orangtua sebagai teman untuk bertukar pikiran dan berbagi rasa.
Berikan perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada anak. Jangan lewatkan setiap kesempatan yang ada walaupun dengan sesuatu yang kelihatannya sepele. Jaga perasaannya jangan sampai terluka sehingga menganggap orangtua sebagai musuh. Buatlah anak merasa dihargai, sehingga dia merasa nyaman berdiskusi dan curhat kepada orangtuanya.
Ajarkan anak agar dapat bersikap mandiri dan bertanggung jawab terhadap keputusan-keputusan yang diambil. Kita tidak bisa bersikap menggurui dan memaksa, tetapi membimbing dan meluruskan secara bijaksana.
Perhatikan setiap perubahan-perubahan yang terjadi pada anak, baik ibadahnya, perilakunya, penampilannya, kebiasaan-kebiasaannya, teman-teman pergaulannya, prestasi akademiknya, pengeluaran keuangannya, ritme kegiatannya, dll.
Agendakan penambahan dan pengembangan wawasan keIslamannya. Baik dengan cara mengadakan kajian ke-islaman keluarga, diskusi-diskusi santai tetapi menarik tentang ke-Islaman, melengkapi koleksi bacaan terutama berkaitan dengan peristiwa aktual yang menimpa kaum muslimin.
Perhatikan teman bergaulnya dan lingkungan pergaulannya di luar rumah. Jika anak mengikuti kelompok pengajian, maka sangat penting untuk mengenal latar belakang ustadznya dan pemikirannya.
Ajak anak untuk sering mengikuti kegiatan-kegiatan ke-Islaman, baik seminar, tabligh akbar, pengajian rutin, aksi-aksi untuk memperjuangkan Islam dan umat Islam, dll.
Orangtua banyak berdoa untuk keselamatan anak-anaknya di dunia dan akhirat.
Dorong anak untuk meningkatkan ibadah, baik sholatnya, puasa sunnah, tadarus qur’annya, shodaqohnya, zikir dan doanya, dll. Sehingga dia bisa semakin dekat kepada Alloh. Semakin tinggi tingkat kesadaran diri anak akan pengawasan Alloh terhadapnya, maka akan menjadi control yang sangat kuat untuk menghadapi ide-ide yang sesat.
Semoga Alloh member kekuatan kepada kita untuk membentengi anak-anak kita dari gerakan yang merusak Islam. Amien.
-
|2011-05-07 18:14:20 Muslim - NII = Negara Inul Indonesia!
NII gadungan itu bukan singkatan Negara Islam Indonesia, tapi Negara Inul Indonesia!
-
|2011-05-16 13:32:48 Ahmad
NII KW 9 itu = Negara Intel Indonesia KW 9. Boro-boro mau mendirikan Negara Islam, akhlaq dan caranya saja jauh dari Islam.
Jadi NII KW 9 itu didirikan hanya untuk kepentingan duniawi saja,dengan tidak paham agama dan menyelewengkannya serta untuk memperburuk citra Islam dan kaum Muslimin terutama yang mendukung berdirinya Negara Islam & penerapan syariah Islam.\
Kalau ada orang yang mengaku Islam, tapi tidak mendukung diberlakukannya hukum2 Islam malah menentangnya, lalu Islam yang mana dia???
-
|2011-09-07 14:10:56 Anonymous
help me.saya diajak temen saya orang nasrani u/ percya tuhanya.saya dibilangin dy bhwa dy ktmu tuhanya dan dy ditugaskan u/ mengajak orang2 trmasuk saya.saya disuruh baca "jesusismygroom.blogspot.com" terutama tentang bagian kesaksianya.Gmana ?Saya diajak ngebuktin ke gereja juga.Help me









