MENYIAPKAN ANAK MENYAMBUT RAMADHAN
Ahlan wa sahlan ya Ramadhan. Bulan penuh berkah, penghulu segala bulan. Bulan mulia ini merupakan momen pendidikan yang sangat penting bagi para pendidik.
Selama sebulan penuh anak dapat belajar secara praktis dengan beragam bentuk ibadah, agar menjadi pribadi muslim yang berkarakter terpuji. Anak-anak, mulai usia sekolah sampai balita biasanya semangat dalam menghadap kegiatan-kegiatan special di bulan Ramadhan. Orangtua harus menyiapkan strategi yang terencana dengan matang sehingga dapat mengarahkan semangat anak dengan pengajaran shoum (puasa) sejak dini secara bertahap dan menyenangkan, sesuai usia dan kemampuan. Sehingga bila saatnya ibadah menjadi kewajibannya, mereka tidak merasa keberatan apalagi menolak.
Menyambut Ramadhan
Buatlah suasana yang berbeda dari bulan yang lain agar mendorong antusias dan semangat anak untuk shoum. Anak diajak menghias rumah dengan tulisan: niat shoum ramadhan, doa berbuka shoum; membuat hiasan dinding/gantung di kamar anak berbentuk mesjid, bulan sabit, dan bintang; menyiapkan buku tentang: sholat tarawih, witir, shoum, lailatul qodar, sholat idhul fitri, zakat fithrah; menyiapkan sajadah, mukena, al qur’an, tasbih; membersihkan rumah; memperbaiki penerangan rumah; menyusun menu berbuka dan sahur selama sebulan, dll.
Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melatih anak berpuasa. Pada bulan Ramadhan, anak tidak akan merasa terlalu terbebani karena banyak orang yang ikut berpuasa bersamanya.
Usia Balita-Mengenalkan Shoum Dengan Pembiasaan
1. Lewat cerita dan lagu anak mudah memahami puasa.
2. Beri pengertian di siang hari tidak ada makanan di meja makan karena semua orang shoum dan jangan makan di depan orang shoum.
3. Libatkan anak dalam berbagai kegiatan shoum seperti sahur, berbuka, tadarus, salat Tarawih.
4,. Ajak anak mencoba shoum semampunya.
Usia Sekolah-Melatih Anak Shoum Secara Bertahap Sesuai Kemampuannya
Rasulullah memerintahkan para orang tua untuk menyuruh anak-anaknya shalat pada usia 7 tahun dan memukul mereka jika tidak shalat saat usia 10 tahun. Jadi anak usia 7 - 10 tahun sudah dapat dilatih shaum.
Kesiapan mental mereka dibangun dengan memberi pemahaman tentang hokum, tatacara, pahala, hikmah dan manfaat shoum. Berikan penjelasan tentang apa itu puasa, kapan waktu untuk melaksanakan puasa, apa yang harus, boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berpuasa. Sehingga anak siap dengan kondisi tak nyaman saat shoum seperti rasa lapar, sedikit lemas, dan harus bisa menahan diri dari berbagai godaan.
Saat mulai mengajarkan shoum pada anak, ajaklah dengan cara yang menyenangkan, pilihlah kata-kata yang positif, tidak menyuruh, tidak membentak dan jangan membuat anak terpaksa melakukannya. Latih sesuai umur dan kemampuan anak, dengan cara bertahap. Mulai dari 5 jam, 7 jam, 10 jam sampai full 12 jam.
Buat agenda ramadhan dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat sekitar: tarhib ramadhan, saling meminta dan memberi maaf sesama teman, tarawih keliling, buka shoum bersama, I’tikaf bersama, tadarrus bersama, sanlat ramadhan, menggapai lailatul qodar, kepanitiaan penerimaan dan penyaluran zakat, infaq dan shadaqoh, aneka lomba: shoum, tahsin, tahfizh al-Qur'an/do'a/hadits, busana muslimah, lukisan suasana Ramadhan, kaligrafi, nasyid, cerpen/puisi religius,dll. Kemeriahan ramadhan membuat kesan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang menyenangkan dan memberi anak pengalaman yang banyak dalam mengembangkan potensi dan kemampuan mereka.
Tehnik Mengalihkan dari Rasa Lapar Ketika Shoum
"Setelah itu kami selalu shoum pada hari asy-Syura dan menyuruh anak-anak kecil kami untuk ikut shoum. Kami pergi ke masjid. Kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila ada diantara mereka yang
menangis karena minta makanan, kami berikan mainan tersebut kepadanya, hingga hal itu berlangsung sampai waktunya berbuka". (HR Bukhari dan Muslim).
Para sahabat berusaha mengajarkan anak mereka untuk shoum. Ketika mereka lapar dialihkan dengan mengajak mereka ke masjid (jalan-jalan keluar rumah), memberi mainan, mengajak bermain, sehingga mereka dapat melanjutkan shoumnya.
Ibu harus berusaha untuk menyiapkan menu sahur dan berbuka yang dapat menggugah selera anak. Menu yang menarik tidak harus mahal, karena menu yang sederhana pun dapat menarik jika kita mampu mengkreasikannya.
Jika anak merengek karena alasan yang tidak logis (manja) padahal usia dan kondisi anak sudah kuat untuk shoum penuh, maka orang tua harus berusaha tegas. Setelah anak berbuka shoum berikan penghargaan meskipun hanya sekedar pujian atau pelukan kasih sayang.
Manfaat shoum bagi anak:
1. Kesadaran selalu diawasi Allah swt sehingga anak bersifat jujur dan ikhlash. Karena anak dituntut mampu menahan diri untuk tidak makan dan minum tanpa pengawasan dari orang tuanya.
2. Sabar mengendalikan emosi. Rasulullah bersabda bahwa shoum itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan nafsu. Shoum, belajar me-manage emosi, supaya sabar dan selalu mendekatkan diri kepada Alloh dengan ketaatan. Jiwa menjadi tenang (muthmainnah, yang ridho dan diridhoi Alloh), yang ringan untuk melaksanakan perintah Alloh dan meninggalkan larangan Alloh.
3. Mengendalikan segala keinginannya sehingga anak tidak konsumtif, jauh dari pandangan materialistik dan perilaku hedonis.
4. Memiliki pandangan jauh ke depan dan menumbuhkan sikap pejuang. Berusaha menunda kenikmatan sementara untuk mencapai kenikmatan jangka panjang.
5. Mensyukuri nikmat Allah swt dengan banyak aktivitas ibadah dan sosial.
6. Tubuh lebih sehat karena pencernaan punya waktu untuk beristirahat.
7. Disiplin menepati waktu sahur dan berbuka.
8. Tumbuh jiwa social karena empati ikut merasakan kelaparan si miskin, dan senang berbagi dengan banyak bersedekah, memberi makanan berbuka untuk tetangga atau buka puasa bersama.
Persiapan Kesehatan Anak
Dari sisi kesehatan, orang tua harus memperhatikan kecukupan gizi makanan dan waktu tidurnya. Kegiatan ramadhan yang banyak membuat anak tidur lebih malam dan bangun lebih pagi. Saat makan sahur dan berbuka, hindari makan yang berlebihan serta makanan yang terlalu banyak mengandung lemak dan minyak. Minum teh berlebihan saat sahur dapat meningkatkan produksi air kencing dan mengeluarkan zat-zat mineral dalam tubuh yang diperlukan.
Anak harus mendapatkan makanan beragam dan mengandung lima unsur gizi lengkap seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Kurma dan pisang baik untuk sahur dan buka karena banyak mengandung mineral dan vitamin. Makanan yang memiliki keasaman sebaiknya dihindari karena pada permulaan shoum, asam lambung meningkat cukup tinggi.
Sunnah mengakhirkan sahur dapat menyediakan energi lebih lama. "Bersabda Rasulullah SAW: "Sahurlah kamu, karena dalam sahur itu terdapat berkah yang besar". Perbanyak konsumsi makanan kaya serat (kompleks karbohidrat, sayur dan buah) dan protein saat sahur, sehingga pengosongan lambung ‘berjalan’ lebih lambat. Jangan langsung tidur setelah sahur untuk menghindari mual.
Sunnah menyegerakan berbuka puasa dengan makanan yang manis-manis secukupnya dapat segera menormalkan kadar gula darah cairan tubuh. Hindari minum es atau soda karena membuat pencernaan tidak berfungsi normal. Setelah sholat maghrib makan nasi dan lauk-pauk secukupnya. Setelah Tarawih makan camilan.
Olahraga ringan perlu untuk menjaga kelancaran peredaran darah agar kita tidak mudah loyo. Tarawih selain ibadah juga sebagai sarana menjaga kebugaran
jasmani karena saat melakukan sholat tarawih sama dengan membakar kalori.
Konsumsi cukup Air agar tidak terjadi dehidrasi. Usahakan minum delapan gelas air, termasuk jus, sup, susu, teh manis.
Penutup
Bila orang tua membiasakan anak-anak berpuasa sejak usia dini maka semakin mudah buat mereka untuk melaksanakan kewajiban di usia balligh.
Keteladanan memberi pengaruh terbesar dalam pengajaran. Oleh karena itu, dalam mengajar anak untuk shoum, orangtua harus menjadi contoh terbaik untuk ditiru.
Semoga Alloh memberi kita kemudahan untuk beribadah sebaik-baiknya dalam ramadhan tahun ini. Amin. (Ummu Hafizh)









