Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Al-Qur’an Ataukah Bibel, Kitab yang Tak Masuk Akal?; Menjawab Buku Penodaan Islam di Gramedia (3) - Al-Q

Al-Qur’an Ataukah Bibel, Kitab yang Tak Masuk Akal?; Menjawab Buku Penodaan Islam di Gramedia (3)

Kristologi

altA. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]


Pada bab “Alkitab dan Al-Qur'an” buku Sang Putra dan Sang Bulan, evangelis Curt Fletemier memaralelkan ayat-ayat Bibel dan Al-Qur'an yang dipilih secara acak, lalu membandingkannya sedemikian rupa sesuai kemauannya. Dengan melepaskan dari konteks ayat (munasabatul ayat), Curlt mengomentari ayat-ayat seenaknya untuk mengesankan Bibel jauh lebih hebat daripada Al-Qur'an.

Setelah mengutip Injil Matius 5:43-44, Curlt mengutip beberapa ayat untuk membandingkan pandangan Al-Qur'an dan Bibel mengenai perang. Ayat Al-Qur'an yang dikutip antara lain: surat Al-Baqarah 216, Al-Ma’idah 33, dan At-Tahrim 9. Sedangkan ayat Bibel yang dikutip antara lain: Lukas 6:35, Yohanes 18:36, dan 2 Korintus 10:3-5.

Terhadap ayat-ayat Al-Qur'an di atas, Curl berkomentar negatif: “Ini jelas merupakan pernyataan perang  yang sangat agresif.  Sifatnya menyerang.... Namun tentu saja, orang-orang Muslim  biasa yang  mempunyai akal  sehat dan  yang tinggi nilai  kemanusiaannya, akan mengabaikan saja ayat-ayat semacam ini,” (hlm 26).

Pernyataan ini jelas melecehkan Al-Qur'an sebagai kitab yang tidak cocok bagi Muslim yang berakal sehat dan berperikemanusiaan.

Ayat-ayat perang dalam Al-Qur'an adalah syariat yang indah dan masuk akal.

Dalam surat Al-Baqarah 216 Allah mensyariatkan kewajiban berperang, meskipun syariat ini dibenci kebanyakan manusia. Karena setiap manusia pasti memimpikan kedamaian yang jauh dari perang, konflik dan pertumpahan darah.

Tapi dalam kondisi tertentu, perang dan pertumpahan darah justru diwajibkan untuk mewujudkan perdamaian, membela kaum tertindas, menumpas kejahatan dan kezaliman. Kepada penjajah yang terlebih dahulu melakukan penyerangan dan penganiayaan, maka Allah mewajibkan angkat senjata memerangi mereka.

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” (Qs Al-Hajj 39).

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Qs Al-Baqarah 190).

Dalam  ayat tersebut perlu digarisbawahi bahwa syariat perang ada aturan mainnya, antara lain tidak boleh dilakukan secara brutal melampaui batas. Jihad perang tetap menjunjung tinggi akhlak mulia, keadilan, kemanusiaan dan kedamaian. Beberapa syariat perang yang tidak boleh dilanggar, antara lain: tidak membunuh wanita dan anak-anak (hadits Muttafaq Alaih), tidak boleh membakar, menyiksa dan memotong-motong anggota tubuh, merusak pepohonan (HR Bukhari), dll.

Ayat-ayat syariat perang dalam Al-Qur'an itu dikesankan sadis, bengis, tidak berperikemanusiaan dan bertentangan dengan akal, karena digambarkan bila berlaku dalam kondisi apapun, termasuk kondisi damai. Ini adalah distorsi yang disengaja oleh penginjil.

Padahal, ayat-ayat Al-Qur'an itu tidak bisa dilepas dari konteksnya. Dalam kondisi damai, maka ayat yang berlaku adalah ayat-ayat perdamaian. Sebaliknya dalam kondisi perang, ayat yang  harus diberlakukan adalah ayat perang, bukan ayat damai.

Pada situasi damai, ayat yang berlaku adalah ayat perdamaian: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu” (Qs Al-Mumtahanah 8).

Sedangkan dalam situasi perang, Allah memberlakukan syariat angkat senjata terhadap musuh yang terlebih dahulu melancarkan peperangan: “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (Qs Al-Mumtahanah 9).

Berdasarkan firman Allah SWT tersebut, maka ayat-ayat yang berkaitan dengan situasi damai harus diterapkan dalam situasi damai, jangan diberlakukan pada situasi perang. Sebaliknya, ayat-ayat yang berkaitan dengan situasi perang harus diperlakukan dalam situasi perang, jangan diberlakukan dalam situasi damai.

Keindahan syariat perang inilah yang tidak dimiliki Alkitab (Bibel). Dua bagian Bibel, Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengajarkan konsep yang sangat bertentangan secara ekstrem.

Dalam Perjanjian Lama (Ulangan 20:1-20), Tuhan mewajibkan peperangan dalam satu perikop (bab) khusus yang disebut dengan “Hukum Perang.” Disebutkan bahwa dalam penyerbuan kepada musuh, terlebih dahulu harus ditawarkan perdamaian. Jika musuh menerima berdamai, maka musuh tersebut harus dijadikan sebagai budak pekerja rodi. Tapi jika musuh tidak mau berdamai, maka harus dikepung dan diperangi habis-habisan. Seluruh penduduk laki-laki harus ditumpas dengan pedang, sedang anak-anak, wanita dan hewan-hewannya boleh dijarah dan dirampas sebagai harta rampasan perang. Untuk beberapa suku lainnya, maka semua yang bernafas harus ditumpas.

“Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kau biarkan hidup apapun yang bernafas, melainkan harus kau tumpas sama sekali” (Ulangan 20: 16-17).

Dibandingkan dengan syariat perang dalam Al-Qur'an yang begitu indah, siapapun akan menilai bahwa hukum peperangan dalam Bibel itu sangat sadis dan tak kenal kemanusiaan.

Sementara dalam Perjanjian Baru, Bibel mengajarkan konsep yang sangat ekstrem dengan melarang segala bentuk perlawanan, termasuk perang melawan penjahat, penjajah dan orang-orang zalim. Yesus dalam Injil memerintahkan kepasrahan total kepada penjahat.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5: 39, Lukas 6: 27-29).

Bisa dibayangkan bila ajaran kepasrahan buta dalam Bibel itu dipraktikkan. Betapa kacaunya stabilitas keamanan bila kejahatan tidak boleh dilawan.  Betapa bahagianya penjahat, penjajah dan orang-orang zalim, karena kejahatan mereka tidak ada yang melawan. Yang jahat makin jahat, yang zalim makin zalim, dan yang lemah makin tertindas bila ayat ini diamalkan.

Ayat ini tidak relevan di segala zaman, sehingga Dr FF Bruce, profesor studi Kritik Alkitab dan Eksegese di Manchester mengakui dengan jujur: “Ini merupakan perkataan keras dalam arti bahwa perkataan ini menetapkan sebuah tindakan yang tidak lazim bagi kita”. (The Hard Saying of Jesus, hal. 62).

Tak perlu repot-repot berpolemik, para pakar bibliologi Katolik memvonis ayat yang bertentangan dengan akal sehat ini sebagai ayat palsu: “Matius 5:39, melawan orang yang berbuat jahat kepadamu tidak ada dalam naskah Yunani” (Pengantar dan Catatan Kitab Suci Perjanjian Baru, hlm 32).

Jelaslah, betapa indahnya syariat jihad dan perang dalam Al-Qur'an. Semakin jelas pula ajaran Bibel yang tidak masuk akal, karena terdapat penyisipan (insersi) ayat-ayat tambahan.


Jika Bibel Masuk Akal, Mengapa Penginjil Tak Bisa Memahami?

Pola pikir evangelis Curlt Fletemier dalam buku hujatan Islam yang dijual di Gramedia ini memang sangat aneh dan rancu.

Setelah dengan congkaknya menghina Al-Qur'an sebagai kitab suci yang tidak sesuai bagi orang yang berakal dan berperikemanusiaan, Curlt lantas memuji Bibel setinggi langit sebagai kitab yang penuh ajaran kasih, damai, sejahtera, penuh roh Kudus, dan hikmat Tuhan.
Setelah itu, tiba-tiba pada halaman yang sama, Curlt yang notabene sarjana teologi ini mengakui dengan jujur bahwa ia SAMA SEKALI TIDAK MENGERTI terhadap ayat-ayat perang dalam kitab Perjanjian Lama (PL). Perhatikan kutipan berikut:

“Memang patut diakui  bahwa  umat Israel pernah melancarkan perang di dalam  Perjanjian Lama. Yosua 621,  Bilangan 31,  dan I Raja-raja  18:40  adalah contoh-contohnya. Mengapa Tuhan memerintahkan umat Israel membunuh setiap orang laki-laki, perempuan dan anak-anak?  Saya sama sekali tidak  mengerti...” (hlm 26).

Jika Curlt meyakini bahwa kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama diinspirasikan oleh Tuhan yang sama, mengapa ia memuji Perjanjian Baru tapi mendiskreditkan Perjanjian Lama? Aneh!

Dan Curlt semakin tidak bisa mengerti terhadap hukum perang dalam Perjanjian Lama bila membaca ayat-ayat berikut:
“Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh. Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu” (Bilangan 31: 17-18).

Dalam kitab yang mengajarkan hukum peperangan ini, Tuhan memberikan aturan aneh, yaitu orang yang harus dibunuh adalah laki-laki dan perempuan yang sudah pernah bersetubuh. Sedangkan perempuan yang belum pernah bersetubuh (perawan), boleh diambil bagi mereka. Tentara manapun akan kesulitan mengamalkan ayat ini. Betapa repotnya melakukan pengetesan terhadap para wanita untuk memisahkan wanita yang sudah pernah bersetubuh dengan wanita yang masih perawan? Lantas bagaimana pula cara memisahkan pria yang sudah pernah bersetubuh dengan pria yang masih perjaka?

Ternyata evangelis Curlt Fletemier menghina Al-Qur'an, hanya untuk menutupi kelemahan Bibel yang tak masuk akal dan tak bisa dimengerti. Jika tak pandai menari, sebaiknya Curlt jangan mengatakan lantai berjungkit!! []

Comments (7)
  • taguh  - huuuuhui..
    avatar
    biar semua pada tahu aja itu si Curlt Fletemier menulisnya sambil minum aggur darahnya yesus jadi ya mabok.
  • udin
    avatar
    dasar kafir mau cari kelemahan islam Qur'an dan hadits malah dia yg kena batu kalau forum debat bakal malukutu
  • O. Zainuddin  - Masalah Keyakinan??
    avatar
    Mas Ahmad.. anda belum memahami sebuah keyakinan Kristen, tapi seolah-olah anda sudah menghayati tentang sebuah agama. Mas .. tolong pahami dong, kenapa disebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bukan berarti memisahkan antara zaman sebelum kelahiran Yesus (isa Almasih) dan setelah ajaran Yesus. tapi ada makna terdalam yang tidak anda pahami dan hayati dengan hanya membaca. sepertihalnya orang kristen tidak paham kenapa orang Islam kalau berbuat selalu diukur dengan pahala yang akan didapat. contohnya Kalau sembayang di masjid nilainya 1000 kali jika sembayang di rumah. sebuah keyakinan tidak bisa di nilai oleh orang yang sejak kecil dan lahirnya punya keyakinan lain dan mendapatkan pendidikan berdasarkan keyakinannya, kemudian menilai keyakinan orang lain. karena keyakinan melibatkan masalah kompleks kehidupan pribadi seseorang. Contoh sederhana saja ya... Misalnya ; anaknya mas di didik di eropa,dan tidak dikenalkan agama islam, saya pasti yakin setelah dewasa pasti beragama...
  • km  - Misionaris Kristen vs pendakwah Islam
    avatar
    Memang ada perbedaan sangat jauh dalam cara menyebarkan agama antara misionaris kristen dengan pendakwah Islam. Misionaris kristen menggunakan cara yang culas, licik, menjelek-jelekkan Islam dan Nabinya, sedangkan pendakwah Islam menggunakan cara yang lebih elegan, menggunakan logika, dan tidak pernah menjelek-jelekkan Jesus (karena Jesus juga Nabi yang sangat dihormati dalam Islam). Andai saja kaum misionaris ini lebih punya rasa malu sedikit saja.... dunia akan lebih baik.
  • Babah Liem  - Tidak logis
    avatar
    Gak usah jauh2. Buka Perjanjian Lama bab Penciptaan Alam Semesta. Di situ disebutkan hari pertama tuhan mrk menciptakan bumi dan isinya (termasuk tumbuh2an). Hari kedua tuhan mrk menciptakan matahari. Apa pohon bisa tumbuh tanpa matahari? Di sini sudah kelihatan tidak logis dan tidak masuk akal! Ini namanya bukan agama, tapi dogma! Agama itu selaras dengan akal sehat!
  • Babah Liem  - O. Zainuddin
    avatar
    Kitab suci bisa dipelajari siapa saja, Bung! Yg mengkritik agama anda bukan cuma org Islam. Pendetanya sendiri banyak yg mengkritik, termasuk mengkritik bible. Daftarnya terlalu panjang utk disebutkan di sini satu per satu.
  • fandha  - reply and comment
    avatar
    O. Zainuddin - Masalah Keyakinan??

    sepertinya anda pandai sekali meyulam kata kata. pendapatnya baik sekali, sangat sopan namun menyimpan makna yang saebenarnya sangat "dalam". tapi bisa saya bilang, bahwa saya YAKIN dan berIMAN pada agama saya, pada Allah swt

    saya, seorang muslimah yang masih hrs terus belajar ingin menyampaikan beberapa komentar mengenai buku Qur'an vs bibel ini. jelaslah siapa yang bermain api lebih dulu. jelas Curt Fletemier tidak memahami penuh isi di Al-Qur'an dan hanya menafsirkan sepotong ayat dr Al-Qur'an menurut pemahamannya sendiri. dengan adanya page ini, saya harap kita sebagai umat islam bisa lebih membuka mata kita untuk terus berhati-hati dan waspada menghadapi kaum2 kafir. saya juga heran kenapa Gramedia bisa menerbitkan buku yang bisa menyebar fitnah seperti ini? hhh kecewa..

    wassalammualaikum ..
    Allahu akbar!

Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
 
PENCARIAN
Advert