I’tikaf
Dari Abu Hurairah ra: ”Rasulullah saw beri’tikaf tiap bulan Ramadhan sepuluh hari dan pada tahun beliau meninggal dunia, beliau beri’tikaf sebanyak dua puluh hari lamanya” (HR. Imam Bukhari)
Dalam kitab Sahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi: “Telah menceritakan kepada kami Musa berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Yahya dari Abu Salamah berkata, “Aku pergi menemui Abu Sa'id Al Khudri, lalu aku bertanya kepadanya, “Maukah anda pergi bersama kami ke bawah pohon kurma lalu kita berbincang-bincang di sana?.” Ia pun pergi dan bercakap-cakap bersama kami.” Aku kemudian berkata, “Ceritakanlah kepadaku apa yang pernah anda dengar dari Nabi Saw tentang Lailatul Qadar.” Dia lalu menjelaskan, “Rasulullah Saw melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam yang awal dari Ramadhan, dan kami juga ikut beri'tikaf bersama beliau. Lalu datanglah Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (pada malam berikutnya).” Maka Beliau beri'tikaf pada sepuluh malam pertengahannnya dan kami pun ikut beri'tikaf bersama Beliau. Kemudian Malaikat Jibril datang lagi dan berkata, “Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (pada malam berikutnya).”
Maka Nabi Saw berdiri memberi khutbah kepada kami pada pagi hari di hari ke dua puluh dari bulan Ramadhan, beliau bersabda: “Barangsiapa sudah beri'tikaf bersamaku maka pulanglah, karena aku diperlihatkan (dalam mimpi) Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti. Namun dia ada pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air (yang becek)”. Pada masa itu atap masjid masih terbuat dari daun dan pelepah pohon kurma, dan kami tidak melihat sesuatu di atas langit hingga kemudian datang awan dan turunlah air hujan. Maka Nabi Saw shalat bersama kami hingga aku melihat sisa-sisa tanah dan air pada wajah dan ujung hidung Rasulullah Saw sebagai bukti kebenaran mimpi beliau.”
Jangan dibayangkan beri’tikaf di jaman Nabi Saw kondisinya sama dengan saat ini. Di jaman Nabi, seperti yang diceritakan oleh Abu Said Al Khudri dalam hadits di atas, atap masjid masih terbuat dari daun dan pelepah pohon kurma. Ketika hujan, atap itu tak mampu menahan air hingga membasahi lantai masjid. Seusai shalat sisa-sisa tanah dan air menempel pada wajah dan ujung hidung Rasulullah Saw.
Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat para sahabat untuk beribadah, beri’tikaf di bulan Ramadhan agar mereka dapat menjumpai Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Bahkan karena begitu utamanya, Rasulullah senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, hingga beliau wafat. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ath Thabrani, Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang beri’tikaf sehari demi mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala semata, maka Allah berkenan membuat antara dia dan api (neraka) tiga buah parit, tiap parit lebih jauh dari Masyriq dan Maghrib”.
Sekarang di Masjid manapun kita beri’tikaf, terutama di kota besar seperti Jakarta, suasananya sangat nyaman. Hamparan permadani yang empuk dan ruangan Masjid yang dingin. Belum lagi layanan lain yang telah disediakan panitia i’tikaf seperti makanan untuk buka dan sahur, laundry, periksa kesehatan dan sebagainya.
Namun anehnya, meski fasilitas masjid lebih lengkap, tetapi tidak membuat umat Islam bersemangat memenuhi masjid untuk beri’tikaf dan memburu Lailatul Qadar. Saat ini, ketika bulan Ramadhan telah masuk dan bahkan Ramadhan tinggal sepertiga terakhir, umat Islam malah lebih suka “i’tikaf” dan “thawaf” di mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan dari pada tekun beribadah di Masjid. Ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan untuk lebaran. Bahkan mayoritas umat Islam, ketika Ramadhan memasuki tanggal-tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir, mereka malah sibuk menyiapkan diri untuk pulang kampung alias mudik.
Kini saatnya umat Islam bermuhasabah diri, dengan membaca kembali Sirah Nabawiyah dan kitab-kitab hadits, untuk mengetahui aktivitas apa yang dilakukan Rasulullah dan juga para istrinya di akhir-akhir bulan Ramadhan. Jika kita mau membaca, maka dengan mudah ditemukan bahwa di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah Saw ternyata semakin sibuk dengan aktifitas ibadahnya. I’tikaf, membaca Al Qur’an, shalat, berdzikr, sedekah, taqarrub dan bermunajat kepada Allah Swt.
Semoga kita bisa meneladani Rasulullah Saw dalam mengisi bulan Ramadhan dan diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk menjumpai Lailatul Qadar. Amin ya mujibassailin. (Shodiq Ramadhan)









