Pendidikan Gratis 100% ala Rasulullah
Tawaran pendidikan gratis di zaman serba susah ini bagaikan oase di tengah gurun. Nyatanya semua menipu. Alih-alih gratis, pungutan disana-sini malah memberatkan siswa. Saatnya mencontoh pendidikan gratis model Rasulullah Saw.
Rosiyah, orang tua siswa di sebuah sekolah di Depok mengeluh. Pasalnya dia harus membeli seragam sekolah cukup mahal dari sekolah. Padahal dia sudah menyiapkan seragam anaknya dengan membeli dari luar. Belum lagi kewajiban membeli buku dan LKS yang juga tidak murah. Padahal konon Pemerintah Kota Depok telah menggratiskan biaya pendidikan. Selidik punya selidik ternyata yang gratis hanya biaya SPP bulanan saja. Demikian tulis Republika, Jumat (24/6/2011).
Jika di Depok terjadi pada sekolah negeri, di Yogyakarta tipu-tipu pendidikan gratis itu dilakukan sekolah swasta. Kali ini omong kosong pendidikan bebas biaya dilakukan oleh sebuah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) yang terletak di Bantul. Menurut Seputar Indonesia (Kamis, 16/6/2011), slogan kuliah gratis bebas biaya 100% yang diusung oleh kampus tersebut yang dipublikasikan di pamflet, brosur dan internet, dinilai kalangan mahasiswa telah menjebak. Buktinya mahasiswa masih dikenakan infak pendidikan Rp. 125.000/bulan, biaya asrama Rp. 1,5 juta/tahun dan catering Rp. 470.000.-/ bulan. Belum lagi biaya praktikum, KKL, KKN, bimbingan skripsi, dan biaya wisuda. Bila dihitung-hitung sama saja dengan biaya kuliah di tempat lain yang juga terbilang mahal. Malah, anehnya, pihak kampus juga ‘menyita’ ijazah SMA milik mahasiswa.
Inilah secuil fakta tipu-tipu sekolah gratis di era kapitalisme dan liberalisme ini. Sekolah gratis hanyalah sebuah ilusi dan slogan kosong. Bahkan cenderung menipu. Sejatinya, pendidikan adalah satu dari dua kebutuhan asasi yang harus dikecap oleh setiap manusia dalam hidupnya. Pendidikan dan kesehatan termasuk pelayanan umum dan kemaslahatan hidup terpenting. Dalam hal ini negaralah yang bertanggung jawab untuk memenuhinya. Baik untuk muslim mapun non muslim, kaya maupun miskin. Seluruh biayanya harus ditanggung oleh Baitul Maal.
Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuri dalam kitab ar Rahiqul Makhtum ketika menjelaskan perkara tawanan Perang Badar, beliau menulis bahwa kebijakan yang diambil atas tawanan adalah mengambil tebusan dari mereka. Nilai tebusan itu bervariasi, ada yang empat ribu dirham, tiga ribu dirham dan seribu dirham. Bahkan bagi tawanan yang tak sanggup menebus dirinya dengan uang, maka dia bisa mengajari sepuluh anak-anak Madinah sebagai ganti tebusannya. Jika anak-anak itu sudah mahir, maka tebusannya dianggap lunas.
Kita mengetahui bahwa harta tebusan adalah milik Baitul Maal. Tebusan itu nilainya sama dengan harta pembebasan dari tawanan lain dalam Perang Badar itu. Dengan tindakan tersebut, berarti Rasulullah telah menjadikan biaya pendidikan itu setara dengan harta tebusan. Artinya, beliau Saw, memberi upah kepada para pengajar itu dengan harta yang seharusnya menjadi milik Baitul Maal.
Kebijakan pembebasan biaya ini kemudian dilanjutkan oleh para Khalifah pengganti Rasulullah Saw. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi dari Wadhiah bin Atha’, bahwa ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan khalifah Umar bin Khaththab memberi gaji lima belas dinar setiap bulan (Nilai tukar 1 dinar menurut situs wakalanusantara.com pada Jumat siang (1/7/ 2011), Rp. 1.853.000,- . Jika 15 dinar, gaji guru zaman Khalifah Umar senilai Rp. 27.795.000.-)
Demikianlan pendidikan gratis 100% model Rasulullah Saw. Tidak ada pungutan lagi yang ditarik dari peserta didik. Apapun dalihnya, baik itu asrama dan makan yang disebut sebagai biaya hidup (living cost) maupun pungutan-pungutan lainnya. Pada zaman keemasan Islam, Kekhilafahan Abbasiyah di Baghdad, hatta termasuk biaya asrama dan biaya hidup pun ditanggung oleh negara. Karena negaralah yang mengambil fungsi pelayanan urusan umat, bukan swasta. Jika swasta coba-coba mengambil alih fungsi negara, jadinya ‘tipu-tipu pendidikan gratis.’ Wallahua’lam bishawab.
Shodiq Ramadhan
Last Updated (Saturday, 02 July 2011 19:46)









