Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Dari Pribadi Rasulullah SAW (4) - Dari Pribadi Rasulullah SAW (4) Tuesday, 20 Oct... | Yang, Saw, Beliau,

Dari Pribadi Rasulullah SAW (4)

altSirah Nabawiyah
Oleh: Prof.Dr. Rawwas Qal’ahji

9. Setelah Ibunda Wafat Muhammad saw. Diasuh Kakenya, Lalu Pamanya.

Rasulullah saw. ketika bersama ibunya Aminah binti Wahhab dan kakenya Abdul Muththalib berada dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah, sehingga beliau tumbuh dengan baik penuh kehormatan. Ketika beliau berumur enam tahun, ibunya wafat di Abwa’, yaitu tempat antara Makkah dan Madinah. Aminah wafat di saat dia hendak pulang ke Makkah sehabis mengunjungi para paman Rasulullah saw. dari Bani ‘Adi bin an-Najjar.

Wafatnya kedua orang tua Rasulullah saw. di saat beliau masih anak-anak merupakan sorotan tersendiri atas pribadi Rasulullah saw. sebelum beliau menerima kendali kepemimpinan.

Setelah ibunya wafat, Rasulullah saw. menjadi anggota keluarga kakeknya Abdul Muththalib. Selama beliau tinggal di rumah kakenya, beliau diperlakukan dengan penuh hormat. Abdul Mutthalib memiliki tilam yang ditaruh di bawah Ka’bah, anak-anaknya selalu duduk di sekeliling tilam tersebut hingga Abdul Muththalib meninggalkannya, dan tidak satu pun anaknya yang berani duduk di tilam tersebut karena rasa hormatnya kepada bapak mereka.  Maka ketika Muhammad saw. kecil dating dan duduk di atas tilam teersebut, para pamannya menarik beliau ke belakang. Meliahat hal itu, Abdul Muththalib berkata, “Biarkanlah wahai anak-anakku, demi Allah, anak ini  akan menduduki  kedudukan yang tinggi .” Laku Abdul Muththalib mendudukkan Rasulullah di tilam bersamanya sambil mengelus-elus punggungnya. Ketika Muhammad saw. berumur delapan tahun, Abdul Muththalib wafat, selanjutnya Rasulullah saw. pindah ke rumah pamannya Abu Thalib. Di rumah pamannya, Rasulullah saw. juga diperlakukan dengan penuh hormat.

Dalam hal ini ada dua perkara yang menarik perhatian. Pertama, status yatim Rasulullah saw. menjadi lengkap dengan wafatnya kedua orang tua beliau, dan lalu kakenya, sehingga Rasulullah saw. menjadi parhatian dan curahan kasih sayang. Orang-orang di Makkah selalu mengingatnya, bukan saja karena beliau yatim, namun karena beliau juga cerdas, agresif, berakhlak mulia, dan memiliki kepribadian yang kuat. Semua inilah yang menjadi orang-orang kagum dan selalu mengingatnya .

Kedua, besarnya penghormatan Abdul Muththalib kepadanya, sehingga beliau diperkenankan bermain di atas tilam yang terhampar di bawah Ka’bah, ketika para pembesar dan tokoh Arab sedang berkumpul di situ. Pada hal mereka semua tahu bahwa Abul Muththalib tidak akan mengijinkan siapa pun duduk di atasnya, sekalipun anaknya sendiri. Sungguh ini perkara yang menarik perhatian mereka, ketika  beliau duduk di atas tilam menemani kakeknya di bawah Ka’bah, padahal beliau masih anak-anak.

egitulah fenomena yang dilihat oleh para pembesar Arab yang datang dari berbagai tempat untuk menemui pemimpin mereka, yaitu Abdul Muththalib. Sehingga berita tentang anak kecil yang duduk di atas tilam Abdul Muththalib yang ada di bawah Ka’bah itu jadi perbincangan, baik oleh kalangan masyarakat setempat atau pendatang. Dengan demikian, tersebarlah sebutan nama Muhammad bin Abdillah sejak dini, sehingga hal ini akan membantu Muhammad saw. dalam membangun masa depan ketika beliau memimpin Bangsa Arab.

10. Indikasi Kebesaran Pribadi Muhammad.

Pertumbuhan fiisik dan mental Rasulullah saw. Mengarah pada kebesarannya. Oleh karena itu, tidak satu pun orang yang melihatnya, kecuali akan berpendapat bahwa Muhammad kelak akan memiliki kedudukan yang tinggi, seperti yang di katakan oleh kakeKnya Abdul Muththalib, pamannya Abu Thalib, dan para peramal kepribadian seseorang.

Ibnu Ishaq bercerita bahwa seseorang dari Bani Lahb ahli meramal kepribadian. Ketika dia berada di Makkah dia mendatangi semua orang Quraisy yang memiliki anak untuk diramal, termasuk Muhammad yang sedang menjadi anggota keluarga pamannya Abu Thalib juga diramalnya.  Sesaat setelah meramal Muhammad saw., peramal itu berkata: “Berikan lagi anak itu (Muhammad) kepadaku.“ Melihat antusiasnya yang berlebihan, maka Muhammad saw. dijauhkan oleh Abu Thalib darinya. Sehingga terlontarlah perkataan emosianal dari peramal Bani Lahb itu: “Celaka kalian, aku bilang berikan anak itu kepadaku, anak yang telah aku ramal tadi, sebab, demi Allah, dia kelak akan memiliki kedudukan yang tinggi.“ (Bersambung).

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   

Last Updated (Wednesday, 04 November 2009 05:12)

 
PENCARIAN
Advert