Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Jangan Mimpi Berkuasa Selama 10 Tahun - Jangan Mimpi Berkuasa Selama 10 Tahun Tuesday,... | Yang, Islam, D

Jangan Mimpi Berkuasa Selama 10 Tahun

altProf KH Ali Yafie
(Mantan Rais Am PBNU)


Prof KH Ali Yafie (85) tergolong ulama yang konsisten dan teguh dalam memegang prinsip kebenaran. Beliau berani mundur dari kursi strategis Rais Am PBNU ketika sudah tidak ada kesepahaman dengan mantan Ketua Tanfidziyah PBNU, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Tokoh asal Bugis Sulawesi Selatan, kelahiran 22 Syafar 1345 H/ 1 September 1926 itu telah mengadakan pertemuan penting dan bersejarah yang dihadiri para tokoh bangsa dan diadakan di rumahnya, kawasan Bintaro Sektor 7, Tangerang, Banten, Senin (10/10/2011) lalu.

Adapun para negarawan yang hadir mayoritas berusia diatas 80 tahun, mereka antara lain Drs H Cholil Badawi (mantan Wakil Ketua DPA), Prof Dr Busthanul Arifin SH (mantan Hakim Agung MA), Prof Dr Bismar Siregar SH (mantan Hakim Agung MA), Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprodjo (mantan Gubernur Lemhanas), dan Prof KH Ali Yafie (mantan Rais Am PBNU) sebagai shahibul bait. Sedangkan yang termuda adalah Dr Hariman Siregar (tokoh Malari dan mantan Ketua Dewan Mahasiswa UI). Adapun hasil pertemuan para tokoh bangsa dan negarawan tersebut adalah mereka sama prihatin atas kondisi negara dan bangsa dibawah 7 tahun pemerintahan Presiden SBY. 

Menurut Prof KH Ali Yafie, siapapun tidak akan berani memprediksi jika pemerintahan SBY akan mampu bertahan hingga 2014 nanti, sebagaimana dulu ketika mantan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto jatuh dari kekuasaannya. Waktu itu tidak ada yang memprediksi akan kejatuhan Presiden Soekarno dan Soeharto yang begitu cepat, padahal sebelumnya keduanya dikenal sebagai pemimpin yang kuat dan disegani rakyat.

Sedangkan Nabi Muhammad SAW sendiri hanya diberi kekuasaan oleh Allah SWT selama 10 tahun di Madinah. Jadi jangan bermimpi untuk berkuasa lebih dari 10 tahun. Seandainya pun lebih dari 10 tahun, maka akhir kekuasaannya akan suul khotimah, sebab terlalu lama berkuasa akan cenderung zalim dan korup. Jadi kekuasan Nabi Muhammad SAW selama 10 tahun itu dapat dijadikan ukuran baik buruknya periode kekuasan seorang penguasa. Seorang penguasa akan lebih selamat jika berkuasa kurang dari 10 tahun atau hanya 5 tahun saja.

Berikut ini wawancara Abdul Halim dari Tabloid Suara Islam dengan Prof KH Ali Yafie seputar pemerintahan SBY dan bagaimana kondisi bangsa, negara dan rakyat Indonesia sekarang ini.      

Suara Islam: Mengapa para pemimpin sekarang berbeda dengan dahulu dimana mereka sederhana dan ikhlas. Tetapi sekarang justru sebaliknya ?

KH. Ali Yafie: Saya kira pemimpin dahulu yang kita jadikan panutan adalah pemimpin yang menonjol keikhlasannya. Tidak ada diantara mereka yang hidup mewah terutama pasca revolusi 1945. Tak ada pemimpin Islam maupun nasionalis yang hidup mewah. Kalau pemimpin sekarang ini kemewahannya dipertontonkan kepada rakyat. Mungkin saja orang mengatakan walaupun pemimpin zaman revolusi ada yang hidup mewah tetapi tidak mau dimewahkan, tetapi sekarang ada yang dimewahkan.  

Sekarang ini yang paling meramaikan pasar politik di negara kita adalah jual beli korupsi. Banyak hal yang menarik untuk rakyat mempertanyakan pemimpinnya. Tingkat kejujuran para pemimpin juga dipertanyakan. Salah satu pertanyaan saya tetapi tidak ada yang menjawab secara masuk akal adalah siapa yang harus dipercayai sekarang, kepada siapa kita mempercayakan diri sebagai rakyat? Sampai sekarang tidak ada yang menjawab pertanyaan saya itu. 

Sekarang sedang terjadi krisis kepercayaan. Meski negara lain juga krisis kepercayaan sehingga kredit macet yang terjadi di AS tahun 2008 lalu juga bermula dari krisis kepercayaan, namun yang paling parah terjadi di Indonesia. Apakah ini merupakan ciri  ideologi Kapitalisme yang menguasai dunia, saya kira itu bisa menjadi bahasan tersendiri.  

Suara Islam: Apakah para pemimpin sekarang perilakunya bisa dijadikan teladan ?

KH. Ali Yafie:
Saya kira yang mengiyakannya sedikit sekali, karena rakyat sudah bisa menjawabnya. Saya berkali-kali sejak menulis peristiwa 11/9 terutama di Indonesia, kalau kita menelusuri sumber segala kegalauan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, kalau ditelusuri sumbernya adalah krisis kepemimpinan. Semua akan menjawab kalau pemimpin sekarang tidak bisa dijadikan teladan.    

Suara Islam: Kita sudah mengadakan pemilu tetapi masih terjadi krisis kepemimpinan. Bagaimana komentar pak Kyai ?

KH. Ali Yafie:
Itu semua rekayasa.  Apalagi kalau mau diadakan KTP elektronik, maka pemilunya lebih sulit dipercaya karena teknologi bisa diprogramkan tergantung bagaimana maunya, sehingga kredibilitas pemilu juga berkurang.

Memang kenyataannya begitu, berarti apakah KPK nya tidak cukup kuat ataukah ada faktor lainnya, semuanya bisa dipikirkan bersama-sama. Saya tidak perlu memerinci faktor lain itu karena semua orang sudah tahu dan bukan hanya satu faktor saja. 

Suara Islam: Meski ada KPK, mengapa korupsi malah semakin menjadi-jadi. Apakah KPK memang tidak bermanfaat ?

KH. Ali Yafie:
Ya, yang namanya penyimpangan atau salah urus termasuk korupsi terjadi mulai dari Istana sampai Balai Desa. Untuk membersihkannya harus dimulai dari Istana dulu. Kalau kita membersihkan lantai tetapi langitnya kotor, maka lantainya harus setiap hari dibersihkan karena terus kejatuhan kotoran. Kalau sungguh-sungguh ingin mengadakan pembersihan harus dari atas, seperti orang berwudhu harus dibersihkan muka dulu baru kaki, bukan sebaliknya.     

Suara Islam: Apakah terjadinya banyak bencana alam, merupakan peringatan Allah terhadap para pemimpin negara yang telah jauh kehidupannya dari nilai-nilai Islam ?

KH. Ali Yafie:
Kalau kita baca Al Qur’an mengenai kondisi umat terdahulu seperti kaum Add dan Tsamud yang bisa dijadikan pelajaran dan cermin sejarah, memang faktor kesalahan mengurus masyarakat menjadi salah satu penyebabnya. Allah SWT memperlihatkan murka Nya dengan menjadikan alam ikut bereaksi. Kalau kita berbicara bencana alam tingkah laku alam, kita sebagai orang beriman harus bertanya dibalik alam itu apa? Alam adalah mahluk Allah SWT, jadi faktor iradah dan tidaknya Allah harus diperhitungkan kita sebagai orang beriman. Dalam istilah teori kebangsaan adalah manusia yang berpancasila dimana kepalanya Ketuhanan Yang Maha Esa.  

Suara Islam: Kalau di negara kita terlalu banyak kemaksiatan dan korupsi, maka bencana alam akan terus terjadi ?

KH. Ali Yafie:
Perbuatan seperti itu kalau kita kembali kepada sifat Allah yakni Rahman dan Rahim, maka bukan salahnya Allah tetapi kita sendiri yang mengundang bencana alam datang.  Jadi justru manusia yang mengundang datangnya bencama alam itu. Dapat diistilahkan, kalau kau minta maka ambillah! 

Suara Islam: Apakah karena kesalahan para pemimpin ataukah rakyat, jika mereka sampai mengundang datangnya bencana alam ?

KH. Ali Yafie:
Memang rakyat juga tidak boleh dikatakan sama sekali tidak bersalah. Tetapi tanggungjawab pertama adalah para pemimpin. Dalam bahasa pemerintahan, dipundak para pemimpinlah tanggungjawab itu dipikulkan.

Suara Islam: Bagaimana syaratnya agar Indonesia menjadi negara baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur ?

KH. Ali Yafie:
Menurut saya jangan terlalu jauh kesana. Artinya, terlalu tinggi idealismenya, yang konkrit saja. Artinya, perbaiki bagi yang bisa diperbaiki, jangan mimpi dulu.  Yaitu kedaulatan masing-masing orang di rumah tangga, sehingga diperbaiki dulu rumah tangga masing-masing. Sekarang ini menyedihkan,  mayoritas rumah tangga tidak melakukan fungsi edukatifnya. Padahal setiap rumah tangga itu memiliki fungsi edukatif.

Salah satunya bisa difahami dari sabda Rasulullah SAW: “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah (kepala rumah tangga) yang menjadikan Nasrani, Yahudi dan Majusi.” Negara adalah rumah tangga, kepala negaranya siapa? Jadi Hadist itu sebenarnya juga bisa dijadikan untuk kepala negara, dimana negara menjadi rumah tangga besar untuk seluruh bangsa Indonesia.

Suara Islam: Apa yang salah dengan pembangunan ekonomi sehingga pengangguran dan kemiskinan terus meningkat di Indonesia ?

KH. Ali Yafie:
Menurut ulama sekaligus sosiolog kelas dunia, Ibnu Khaldun dalam kitabnya Muqoddimah, yang mengundang kemelaratan adalah kezaliman. Itu teori Ibnu Khaldun. Kezaliman rakyat bersama penguasa mengundang kemelaratan. Jadi semua perlu mengangkat teori Ibnu Khaldun tersebut.

Suara Islam: Menurut pak Kyai, apakah pemerintahan Presiden SBY sekarang ini akan mampu bertahan hingga 2014 atau bagaimana akhirnya nanti ?

KH. Ali Yafie:
Saya bukan ahli dan pengamat politik, adapun yang saya yakini, segala sesuatu pasti ada akhirnya. Kita ingat, pada waktu kekuasaan Bung Karno, 10 tahun sebelum kejatuhannya tidak ada orang di Indonesia yang berfikir Bung Karno dapat lengser dari kekuasaannya. Tetapi 10 tahun kemudian buktinya lain setelah 22 tahun Bung Karno berkuasa. Begitu juga pada waktu pak Harto berkuasa selama 32 tahun akhirnya lengser juga, padahal waktu itu tidak pernah terlintas dalam fikiran orang kalau pak Harto akan lengser.
 
Suara Islam: Apakah kejatuhan suatu pemerintahan memang sudah takdirnya ?

KH. Ali Yafie:
Tidak usah kita berbicara mengenai takdir, karena itu pelarian orang yang tak bisa berfikir. Itu hanya untuk menutupi kelemahan kita. Kita harus mampu menyadari tanggungjawab kita masing-masing baik tanggungjawab  pribadi maupun kompetitif kehidupan kemasyarakatan.

Suara Islam: Apakah penguasa lengser dari kekuasaan karena terlalu zalim atau terlalu lama berkuasa atau bagaimana ?

KH. Ali Yafie:
Memang kelamaan berkuasa akan membuka peluang untuk lebih zalim. Nabi Muhammad SAW cuma diberi waktu oleh Allah untuk berkuasa selama 10 tahun pada periode Madinah. Khalifah yang berkuasa lebih dari 10 tahun seperti Khalifah Utsman (12 tahun) kenyataannya dihadapi dengan pemberontakan. Sejarah Islam memang seperti itu.

Suara Islam: Berarti masa kekuasaan Nabi Muhammad SAW selama 10 tahun bisa dijadikan ukuran untuk para penguasa lainnya ?

KH. Ali Yafie:
Seharusnya seperti itu, itupun Nabi. Kalau bukan Nabi, jangan mimpi bisa berkuasa selama 10 tahun apalagi lebih. Sudah lumayan dan cukup kalau 5 tahun saja. Kalau pemilu dapat berkuasa selama 10 tahun, itu kan disetel untuk kepentingan penguasa. Jadi sudah dberikan contoh oleh Allah SWT melalui kekuasaan Nabi Muhammad SAW selama 10 tahun di Madinah.

Suara Islam: Tetapi mengapa para Khalifah Bani Umayyah dan Khalifah Bani Abbasiyah ada yang berkuasa lebih dari 10 tahun ?

KH. Ali Yafie:
Itu sudah lain, karena bukan Khilafah lagi tetapi Kerajaan. Bisa saja seorang penguasa lengser melalui cara revolusi seperti yang dialami Kekhalifahan Bani Umayyah di Damaskus.

Suara Islam: Apakah korupsi dan kerusakan akhlak seperti sekarang, sudah sulit untuk diatasi ? 

KH. Ali Yafie:
Tidak ada orang mengatakan gampang diatasi dan bisa diatasi dalam waktu singkat. Sebabnya sudah terlalu parah seperti kanker stadium tiga sehingga sulit untuk disembuhkan. Tetapi kita sebagai orang beriman wajib optimis, dan itulah tugas media massa Islam termasuk Suara Islam untuk mengangkatnya sehingga masyarakat menjadi tahu. Tidak ada kata putus asa dalam kamus keimanan, bagaimanapun kalutnya keadaan tidak boleh berputus asa. Artinya, bagaimana pun juga dalam kamus keimanan tidak ada kata putus asa dalam kehidupan.

Karena itu Imam Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin ditutup dengan kata-kata raja’ (harus ada optimisme). Jadi rakyat yang menderita jangan putus asa, jangan bunuh diri, berusahalah semampunya untuk memperbaiki diri dan rumah tangga kita, baru bersama-sama memperluasnya ke lingkungan kesepahaman untuk memperbaiki negara. Itu merupakan bagian penting dari ajaran pemasyarakatan Islam yakni taghoyyur (perubahan). Jadi status-quo tidak bisa diterima, mestinya ada perubahan. Dimulai dengan merubah melalui tangan, artinya perubahan harus diperjuangkan. Disinilah peran para pemimpin Islam, pemimpin ormas Islam dan media massa Islam seperti Suara Islam ini untuk memimpin perubahan terhadap bangsa dan negara.   

Suara Islam: Apakah para pemimpin  Islam masih kurang berupaya untuk merubah keadaan seperti ini ?

KH. Ali Yafie:
Yang baru kelihatan sekarang ini pemimpin muslim, artinya orang muslim yang belum tentu memperjuangkan Islam. Apakah tidak paradok, para tokoh partai Islam justru menolak diberlakukannya Syariat Islam. Saya kira keadaan sekarang ini sudah parah, tetapi umat Islam dan para ulamanya tidak boleh putus asa, harus memasyarakatkan Syariat Islam. Itulah pentingnya kita memiliki media Suara Islam.

Suara Islam: Bagaimana nasehat pak Kyai kepada para pemimpin negara dan pemimpin umat Islam untuk mengatasi keadaan sekarang agar menjadi lebih baik lagi ?

KH. Ali Yafie:
Saya merasa terlalu kecil untuk menasehati orang-orang besar. Saya cuma ingin mengatakan bahwa setiap orang apalagi pemimpin, salah satu yang perlu adalah jujur terhadap dirinya sendiri. Itu kuncinya dan itulah yang wajib diberitakan dalam Suara Islam agar pemimpin sama jujur terhadap dirinya sendiri. Disinilah peran penting iman dan ibadah. Orang banyak beriman tetapi imannya tidak berfungsi, tidak diberdayakan imannya dalam perilaku sehari-hari. Iman hanya sebatas diucapkan dan ditulis saja.

Kalau kita berbicara mengenai Islam, Islam itu kata benda sedangkan kata kerjanya aslama dan akar katanya salima. Jadi kalau kita berbicara Islam, harus dari titik awal itu. Salam dimulai dari keselamatan, kemudian menjadi kedamaian dan kesejahteraan. Keselamatan itu titik beratnya pada keselamatan diri, kemudian orang-orang yang selamat itu hidup dalam kedamaian. Jadi kalau tidak ada keselamatan dan kedamaian, maka kesejahteraan yang sudah ada akan hancur.


(Abdul Halim) 

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
 
PENCARIAN
Advert