Yayasan MIssi Islam Kaafah: Dakwah Islam Untuk Kaum Dhuafa
Gerakan DakwahTanjung Priok sebagai kota pelabuhan ternyata menyimpan berbagai keelokan, bukan hanya berlebel kota pelabuhan, dalam sejarahnya Tanjung Priok juga pernah menjadi kebanggaan masa lalu sebagai salah satu pelabuhan paling ramai di Asia. Tanjung Priok tidak hanya menyimpan potensi kekayaan material sebagai jalur perdagangan dan kota pelabuhan, Priok juga menyimpan kekayaan spiritual di balik kerasnya kehidupan pelabuhan dan hilir mudiknya kendaraan besar seperti kontainer, semerawutnya lalulintas dan pemukiman padat penduduk.
Kekayaan spiritual itu ada di tengah pemukiman padat penduduk di pinggiran Tanjung Priok tepatnya di Jl. Alur Laut, Kampung Walang RT. 05 RW. 03 Rawa Badak Selatan, Koja – Jakarta Utara yaitu Pondok Pesantren Missi Islam. Lokasinya di tengah permukiman padat penduduk. Bangunan pondok tersebut sederhana. Ada sebuah lapangan bulu tangkis di pelatarannya.
Missi Islam muncul sebagai sebuah gerakan dakwah didirikan oleh Ustadz Abdullah Hanafi. Dalam perkembangannya Missi Islam mencoba memulai menyusun kembali puing-puing semangat dakwah dalam tekanan pasca penguasa Orde Baru yang begitu ketat memantau aktivitas umat Islam dalam melaksanakan dakwah. Misi Islam dibentuk tidak hanya mengandalkan gerakan politik akan tetapi juga mengandalkan perjuang melalui pendidikan yang inklusif dan lebih terbuka.
Abdullah Hanafi adalah salah seorang tokoh gerakan Islam yang sempat menolak Asas Tunggal Pancasila sebagai Ideologi seluruh organisasi maupun ormas yang ada di Indonesia. Abdullah Hanafi sempat mengenyam pendidikan pesantren di Madura.
Nama Missi Islam sendiri di terjamahkan oleh Abdullah Hanafi adalah dakwah Islam. Sebagai organisasi gerakan dakwah Islam, Missi Islam berkembang membangun pendidikan untuk memberikan pemahaman Islam yang benar, ujar pimpinan Ponpes Missi Islam Hasyim Abdullah yang juga anak kandung daru Abdullah Hanafi.
Setelah reformasi 1997 dan tumbangnya rezim soeharto berbagai gerakan dakwah yang dahulu sempat di bayang-bayangi tekanan pemerintah Orde Baru, kini tumbuh pesat bak cendawan di musim penghujan. Begitupula dengan Missi Islam. Missi Islam kini Aktif dalam gerakan dakwah ormas di tingkat nasional, bergabung dalam satu bendera Forum Umat Islam (FUI) bersama ormas Islam lainnya seperti FPI, MMI, JAT, DDII, dalam wadah bersama tersebut mereka menggalang sikap terhadap kebijakan penguasa maupun dalam penyikapan dan penanggulangan berbagai masalah keumatan.
Pondok Pesantren
Missi Islam dalam perkembangannya bukan hanya sebagai gerakan dakwah yang bergerak dalam masalah politik melainkan juga, berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan bagi kaum dhuafa dan yatim piatu. Pondok Pesantren (Ponpes) Missi Islam ini menyelenggarakan pendidikan pesantren gratis sejak tahun 1983 masih tetap terselenggara hingga kini.
Pondok Pesantren (Ponpes) Missi Islam didirikan oleh Abdullah Hanafi pada 1983, kini di lanjutkan oleh anaknya yaitu ustadz Hasim Abdullah sebagai pimpinan Ponpes Missi Islam. Ponpes Missi Islam memiliki luas lahan 600 M². Program kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di Ponpes Missi Islam mulai dari jenjang berupa TPA/Bustanul Athfal, Diniyyatul Ula (setingkat SD/MI), Diniyyatul Wustho (setingkat Mu’alim/Mu’alimat atau Tsanawiyah dan Aliyah), Majelis Taklim Remaja, Majelis Taklim ibu-ibu dan kegiatan keterampilan bagian ekonomi dan kejuruan.
Ponpes Missi Islam ini didirikan diatas tanah garapan milik H. Muhammad Sidiq. penyelenggaraan pendidikan gratis di tengah ibukota ternyata memiliki tantangan yang cukup besar, Ponpes membiayai kegiatan oprasionalnya secara mandiri dengan pembiayaan infak yang di kelola dari jamaah, pengajian-pengajian, simpatisan. Guru yang mengajar disini juga dibiayai dari sumber dana yang sama. Kurikulum pendidikan murni 100% kurikulum Islam dengan pembinaan aqidah dan akhlak, ada juga kurikulum tambahan mata pelajaran umum seperti matematika, biologi, kimia, fisika dan bahasa Inggris.
Walaupun pendidikan di Ponpes Missi Islam gratis akan tetapi Kulitasnya cukup baik, lulusan Ponpes Missi Islam diterima di perguruan tingi seperti LIPIA. Mata pelajaran unggulan di Ponpes ini adalah bahasa Arab, hafidz Qur’an, nahu sahraf bhalagoh. Santri berasal dari berbagai daerah dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Tengerang, Lampung Aceh, Padang, Medan, Nias, Ambon. Jumlah santri mukim 115, non mukim 130 untuk tahun ajaran 2010/2011. Ada satu yang unik dari Ponpes ini, yaitu kalender pendidikan menggunakan istilah Syawal dan Sya’ban. Syawal berarti tahun ajaran baru, sedangkan sya’ban adalah akhir tahun ajaran.
Ponpes Missi Islam juga menyetarakan kurikulumnya dengan Ponpes yang ada di luar seperti Ponpes Islam Al Mukmin Ngruki, dan Gontor. “Kurikulumnya kita jadikan referensi untuk di jadikan rujukan juga referensi, dari Departemen agama juga mengambil dan menggunakan akan tetapi materi yang kita perlu saja” ujar Ustadz Hasyim Abdullah.
Dalam mewujudkan program Ponpes yang ideal Missi Islam pada 2001 telah memiliki lahan dikampung Sela RT. 001 RW. 002 Desa Mekar Sari Kecamatan Cikalong Kulon Kab. Cianjur seluas 5 He. Bagi para Agniya dan Dermawan yang ingin berpartisipasi dalam pembangunannya dapat membantui melalui : BANK SYARIAH MANDIRI KCP. Jatinegara, No. Rek : 066 000 9802 a/n : Missi Islam Kaaffah Yayasan.
Ustadz Hasyim Abdullah
“Jihad Adalah Haq”
Awalnya mengurusi kebutuhan ustadz Abu Bakar Ba'asyir yang di tahan pada tahun 2001, setiap hari membantu keperluan Ba'asyir, mulai dari makannya sampai dengan urusan tamu-tamu yang ingin bertemu dengan Ba'asyir. Trio kasus bom Bali, Amrozi, Imam Samudera, dan Mukhlas, juga pernah difasilitasi Hasyim sampai proses hukumnya selesai. Setelah ustadz Ba'asyir bebas dari penjara ternyata kegiatan ini masih tetap berlanjut. Mengurusi ikhwan-ikhwan yang dituduh terlibat kasus terorisme. Jika ada kebutuhan ikhwan-ikhwan yang mendesak, Hasyim akan mengusahakan. Dananya berasal dari infak umat Islam atau perorangan.
Program Densus 88, tentang deradikalisasi. ’’Memang saya dengar ada. Tapi, jangan salah lho, mereka para ikhwan itu berangkat dari pemahaman akidah tentang jihad dan dakwah. Jadi, “Jika ada upaya pembinaan yang dilakukan melunturkan semangat Jihad itu salah” karena Jihad adalah haq” ujar hasyim tegas.
Dia menyatakan, polisi sering melakukan pendekatan personal dengan para ikhwan di penjara. Misalnya, mencukupi kebutuhan finansial mereka, membiayai jika ada keluarga yang sakit, atau membiayai sekolah anaknya. ’’Itu pilihan masing-masing. Mereka sebenarnya orang front, orang militer. Jadi, kalau dipaksa hidup normal, harus diakui, secara permodalan mereka lemah,’’ tuturnya.
Namun, dia menegaskan, masih banyak ikhwan yang tetap mandiri dan menolak bantuan polisi. Sebagian di antara mereka yang sudah keluar, walau dengan susah payah, akhirnya juga bisa hidup normal dan kembali ke masyarakat dengan baik. Selain menjadi pengasuh pondok, pria asal Malang, Jawa Timur itu juga aktif sebagai anggota dewan syura Tim Pengacara Muslim (TPM).
-
|2011-05-09 06:29:39 Fahmi - Pertanyaan
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh..
Saya ingin menanyakan, kalau Ust.EMON B
Sebagai apa ya??
Wassalam.
Terima kasih
Last Updated (Saturday, 23 January 2010 08:09)









