Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Mereka Jadi Lesbong di Hong Kong - Mereka Jadi Lesbong di Hong Kong Tuesday, 21 Ju... | Tkw, Yang, Dan, D

Mereka Jadi Lesbong di Hong Kong

altLaporan Suara Islam dari Hong Kong:

Lesbianisme marak di kalangan pekerja migran Indonesia di Hong Kong. Pemerintah kedua negara diam saja.

Benar-benar majnun! Di tengah keramaian Victoria Park, Hong Kong, dua perempuan Indonesia bermesraan bagai suami-istri; Berpelukan, berangkulan, bahkan berciuman. Dan tak hanya sepasang, melainkan banyak pasangan sejenis bertingkah macam mereka.

‘’Yo ngono kuwi kelakuane
TKW tomboi (Ya begitulah perilaku tenaga kerja wanita tomboi),’’ ucap Umi, Relawan Dompet Dhuafa (DD) Hong Kong yang menemani Suara Islam (SI) menyusuri Taman Victoria, Minggu petang, 29 Mei lalu.

Bahkan di sebuah blok dari taman kota berukuran lebih dua kali luas lapangan sepakbola tersebut, bergerombol pasangan sejenis (lesbong) yang sudah terikat ‘’tali perkawinan’’. Polah mereka benar-benar bagai laki-bini sedang berbulan madu.

‘’Untung di taman ini masih ada yang pengajian dan sholat. Kalau nggak, mungkin sudah dihancurkan Gusti Allah,’’ Umi, TKW asal Banyuwangi itu, geram.

TKW (tenaga kerja wanita) Indonesia memang favorit bagi majikan Hong Kong. Data per Februari 2010 dari Konsulat Jendral RI dan Caritas HK, jumlah TKW Indonesia mencapai 124.753 orang. Angka ini terpaut sedikit dari jumlah pekerja migran asal Filipina.

Padahal, pada 2001 baru ada 68.880 TKW Indonesia di HK. Per November 2008, jumlah itu menjadi 122.900 orang. Lalu menurut SCMP (South China Morning Post) per April 2009 besarnya 125.567 orang atau bertambah 2.667 dalam kurun lima bulan.

Membengkaknya jumlah TKW asal Indonesia, utamanya disebabkan ‘’harga’’ mereka rendah. Menurut Employment Ordinane Chapter 57, upah domestic helper dalam kontrak kerja HK$ 3580 atau hampir Rp 4 juta/bulan.  Namun, banyak TKW yang underpaid alias dibayar di bawah standar, baik lantaran terpaksa, lugu, maupun sukarela.

Hal itu terbukti dari hasil penyigian ATKI (Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia) di HK. Survei ATKI pada tahun 2002-2006 menunjukkan, dari 2777 responden TKW, 53% mendapat gaji di bawah standar, di antaranya hanya menerima HK$ 1800-HK$ 2000.

Faktor lainnya, TKW Indonesia pekerja keras dan bersedia belajar Bahasa Kanton. Apalagi banyak TKW yang sudah berpengalaman kerja di Taiwan, Singapura, Malaysia seperti Siti Nurwahidah. Ia saat ini menghuni Shelter DD karena di-terminted alias dipecat sepihak oleh majikannya.

Selain soal upah, para TWK juga dilanda berbagai problem kerja. Menurut Agung Mahdi, Koordinator Shelter  DD, habit orang China cenderung kasar dan menganggap rendah pekerjanya. ‘’Misalnya, pembantu juga diwajibkan memandikan anjing majikan walaupun tidak ada dalam klausul perjanjian kerja,’’ ujar Mahdi.

Pembantu wanita jelas rawan pelecehan seksual. Baik dipicu ulah si pekerja sendiri, maupun majikannya. Apalagi kondisi rumah keluarga Hong Kong sangat memungkinkan untuk terjadinya kasus ini.

Bencana aqidah pun mengancam para TKW. Mereka yang banyak di antaranya semula santri di Jawa Timur, tiba-tiba kesulitan untuk sekadar sholat di tempat majikan.

‘’Kalau mau sholat ya di kamar mandi, atau di sebelah kandang anjing,’’ ungkap Nur Hidayatun, yang kabur dari majikannya setelah disiksa. Kamar mandi keluarga Hong Kong umumnya sistem kering. ‘’Tapi ya tetap saja kamar mandi, yang ada kakusnya itu,’’ tandas Nur. Di kamar mandi pun, ia melanjutkan, dibatasi maksimal 10 menit.

‘’Banyak TKW yang awalnya terpaksa tidak sholat. Lama-lama, mereka hanya sholat setahun du akali, yaitu pada Idul Adha dan Idul Fithri,’’ kata Umi.

Pemurtadan pun menerkam mereka. Yang cukup gencar dilakukan Christian Action. LSM ini menampung dan mencari TKW bermasalah. Mereka mengurai problem pembantu, namun dengan syarat bersedia menjadi pengikut Yesus.

Pada Ahad, 29 Mei lalu, Suara Islam sempat menyaksikan acara kebaktian yang diikuti puluhan TKW di lantai 2 Gedung KJRI, Causeway Bay. Ibadah Minggu ini dipimpin pendeta asal Indonesia Timur.

Selain yang murtad, banyak juga TKW yang jadi korban HK lifestyle. Mereka menghamburkan uang untuk berdandan a la artis Mandarin. Dengan busana seksinya, para wanita berstatus istri, janda, atau bujang, itu banyak yang dimangsa lelaki pekerja atau pelaut Paki(stan).

Dan akibat tertular buruh asal Filipina serta dipicu kondisi kerja, membuat banyak TKW jadi lesbong di Hong Kong. Untuk melampiaskan syahwat miringnya, pasangan lesbong menyewa penginapan short time seharga 100 atau 200 dolar perjam.

Seperti diberitakan koran-koran lokal berbahasa Kanton maupun Indonesia, banyak kasus kriminal seperti pembunuhan atau bunuh diri di kalangan TKW yang dipicu lesbianisme.  Misalnya, pembantu yang terjun bebas dari flat majikannya, karena patah hati diputus sang ‘’pacar’’.

Tak sampai di situ derita para TKW. Hasil keringat mereka pun turut dijarah para calo, agensi pengirim, majikan, maupun mafia bandara di Tanah Air.

Contoh semua kisah itu terekam dalam buku ‘’Saatnya Bicara’’ yang ditulis Lea Jaladara dan kawan-kawan.

Lea, mojang Priangan yang sudah lebih 6 tahun bermukim di Hong Kong dan menghasilkan sejumlah buku serta laporan jurnalistik, berkesimpulan bahwa problematika TKW Hong Kong bermula dari karut marut pengurusan tenaga kerja di Indonesia. ‘’Ini problem struktural,’’ tandasnya.

Hal itu pernah dikemukakan mantan Ketua PBNU, KH Hasyim Muzadi. Pak Kyai mengatakan, sebenarnya problem TKW 60% berasal dari Indonesia. Dan sisanya adalah ekses dari mismanagement di Tanah Air itu.

Misalnya, percaloan. Menurut Penelitian Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi (Balitfo) Kemenakertrans, sepanjang 2009, TKI (termasuk TKW) yang mendaftar melalui jasa calo mencapai 64%  dari total penempatan yang berkisar 5 juta orang. Melalui jalur ini, manipulasi umur dan ketrampilan calon TKW, sudah biasa. Yang penting calo dapat fulus.

Masih menurut penyigian Balitfo Kemenakertrans, 77,9%  dari 815 responden TKI dilatih kurang dari 1 bulan. Data lain menyebutkan 45,8% responden TKI mengakui tidak memegang fotolopi Perjanjian Kerja. Sedang 79,8% TKI tidak memiliki Asuransi.

Karena itu, Hasyim mengatakan, solusi tuntas masalah TKW adalah penghentian ekspor TKW, sebagaimana fatwa MUI tahun 2000 dan dipertegas tahun 2005.

"Sekarang ini, sudah tidak ada lagi negara semiskin apapun yang mengirimkan TKW pembantu rumah tangga, kecuali Indonesia," kata Sekjen International Conference of Islamic Scholars itu, usai forum ramah tamah Menteri Agama Suryadharma Ali dengan wartawan Media Center Haji  di Restoran Al Khalidiah, Makkah, November tahun lalu.  (nurbowo)

BOX

Perkawinan Bubar dan Anak Telantar


Salah satu pertimbangan fatwa MUI tadi adalah kemudharatan ekspor TKW. Misalnya, meningkatkan kasus perceraian di kantong-kantong asal TKW seperti Kabupaten Lombok Timur dan Malang.

Menurut catatan Ketua Advokasi Buruh Migran Indonesia Lombok Timur di Selong, Roma Hidayat, yang melakukan pendampingan terhadap TKI/TKW di daerahnya sejak 2000, angka perselingkuhan dan perceraian di antara TKI mencapai 78% dari sekitar 700 kasus perceraian selama setahun. ‘’Sangat tinggi perselingkuhan dan perceraian di antara mereka,’’ ujarnya.

Ironisnya, justru perceraian karena perkara gugat cerai yang diajukan oleh istri. Padahal, sebenarnya selama ini di Lombok menjadi seorang janda itu adalah aib. ’’Tapi sekarang mereka berlomba-lomba jadi janda, karena tanpa izin suami lagi mudah menjadi TKW,’’ kata Roma.

Berdasarkan catatan Pengadilan Agama Kabupaten Malang, ada 2.274 kasus gugatan cerai sejak Januari-Juli 2004. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebanyak 1.444 atau 63,50% kasus itu diajukan oleh istri. Kebanyakan penggugat adalah TKW yang umumnya berdomisili di Kecamatan Dampit, Gondanglegi, Pagelaran, Donomulyo, Pagelaran, Tumpang, dan Kepanjen.

TKW juga menyumbang angka perceraian di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Badawi Ashari, Wakil Panitera Pengadilan Agama Trenggalek, mengatakan, faktor perceraian yang dilatari masalah TKI/TKW mencapai 60%.

TKW pun mengorbankan anak-anak. Sebuah penelitian yang dilakukan Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, menyebutkan, sekitar 40% anak yang ditinggal ibunya jadi TKW mempunyai perkembangan kecerdasan dan sosial rendah. Sekitar 14% balita yang ditinggal para TKW tersebut mengalami kekurangan gizi, dan dua persen lainnya mengalami gizi buruk.

Peneliti IPB, Dr Ikeu Tanzuaha, mengatakan, riset dilakukan di Sukabumi, Jawa Barat, pada 2009 dengan sampel 300 TKW yang memiliki balita dan minimal telah jadi TKW enam bulan. "Anak-anak yang ditinggal ibunya menjadi TKW biasanya perangainya lebih kasar dan tingkat kecerdasannya rendah,’’ kata Ikeu.
(nb)

Comments (3)
  • gemeblung  - Dimana Migrant Care
    avatar
    Kalau masalah yg begini (lesbianisme, jadi pelacur, tidak boleh shalat, dll) migrant care nggak pernah terdengar ya suaranya di TV. Fokusnya cuma 'perkosaan' & qishosh di Arab doang yang santer terdengar dari migrant care.
  • Liem Ban Phiet  - Yg bayar Migrant Care siapa?
    avatar
    gemeblung, yg bayar migrant care siapa? Tergantung majikan dia, dong. Namanya juga budak! Lagian, apa media kita mau muat kasus di negara2 spt hkg, s'pore, taiwan? Pingin mrk gak pasang iklan di media mrk? Bisa bangkrut dong media mrk.
  • disipratama
    avatar
    pemerintah seharusnya memperhatikan dengan serius apa apa yang di keluhkan TKW..jangan cuman omdo aja..jangan hanya diambil hasilnya tapi harus juga kesulitanya harus diperhatika..jelas mreka berjuang yg pasti penuh dngn kesulitan
    nah untuk TKW sabar kuatkan iman dan aqidah cepat pulang dan jangan pernah bermimpi yg lebih..karena engkau berjuang demi anak dan keluarga..semoga kalian dlindungi oleh allah swt..amin ya robal alamin
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   

Last Updated (Tuesday, 21 June 2011 16:34)

 
PENCARIAN
Advert