Safari Dakwah ke Bumi Sikkerei
Umat Islam di sana terancam bencana alam dan bencana aqidah.
"Siapa bilang Mentawai identik dengan Nasrani,’’ ujar Buya Mas’ud Abidin. Tokoh Sepuh Sumatera Barat ini mengungkapkan, berdasarkan sejumlah literatur Barat sendiri, Mentawai sudah didiami oleh orang-orang Islam (Melayu) duaratus tahun lebih dulu.
Tepatnya di Tunggul, Sikakap, Pagai, tahun 1792 (John Crisp). Orang Mentawai juga telah berasimilasi dengan para pendatang Muslim dari Melayu, Aceh, Bugis terutama di Pasapuat (Sikakap) sejak 1879. Juga di Labuhan Bajau (Siberut Utara) yang sudah sejak dulu didiami orang Bugis dan Aceh.
Sedang Misionaris Nasrani baru mencapai Mentawai pada 1901 di bawah Pendeta August Lett dan rekannya A Kramer dari Jerman. Misi Katolik pertama yang dikomandoi Pastor Aurelio Cannizzaro berlabuh ke Mentawai pada 1954.
Pada tahun yang sama, Wapres Mohamad Hatta meresmikan sebuah desa di Kecamatan Sikakap, Pagai Selatan, yang 100% penduduknya muslim. Desa itu dinamakan Desa Berkat.
Tragisnya, lantaran dakwah di Bumi Sikkerei (Mentawai) minim, kristenisasi merajalela. Sepuluh tahun kemudian, seluruh warga Desa Berkat murtad kaffah. Masjid yang ada jadi kandang babi.
Itulah yang turut memprihatinkan Siswono Yudhohusodo. “Kita sangat berdosa jika membiarkan masyarakat Mentawai hidup tertinggal sangat jauh dari saudara-saudaranya yang ada di Sumatera Barat sendiri maupun di daerah lain di Indonesia,” tutur Siswono, saat menjabat Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, dalam pengarahan pada Seminar Nasional ‘‘Pulau-Pulau Kecil, Terpencil, dan Strategis di Bukit Tinggi’’, Maret 1997.
Menurut tokoh agama Islam di Kecamatan Sikakap, Buya Hasan Basri Pasaribu, kini warga Muslim Mentawai tinggal sekitar 15 persen dari keseluruhan warga Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Bencana alam yang meneruk Mentawai pada 2005, 2007, dan 2010, mengundang kaum muslimin untuk lebih peduli pada umat muslim di sana. Begitu gempa-tsunami menghajar Mentawai, ormas-ormas Islam mengirim relawan dan bantuan ke Mentawai. Bantuan ini berupa logistik dan medis masa tanggap darurat hingga pembangunan tahap rekonstruksi.
Pada 29 Oktober, diberangkatkan 30-an relawan yang dikoordinir Posko Bersama Lembaga Islam Peduli Mentawai. Posko ini terdiri dari unsur Dewan Da’wah Islamiyah, LAZ Al Azhar Peduli Ummat, PPPA Daarul Qur’an, Hidayatullah, Majelis Mujahidin Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia, Komite Penegakan Syariat Islam, Gerakan Muslim Minangkabau, Front Pembela Masyarakat Islam, Front Anti Kristenisasi dan Pemurtadan, Kerapatan Adat Alam Minangkabau, dan Paga Nagari serta Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi).
Turut serta dalam aksi tersebut, relawan dan bantuan dari Global Peace Mission, Malaysia, yang dikomandoi Majer Azlan M Shariff.
KODAM
Sebagai wujud keseriusan dakwah di Mentawai, dibentuklah Komite Dakwah Mentawai (Kodam) di Masjid Al Wahidin, Muara Siberut, Kecamatan Siberut Selatan, pada 21 Pebruari 2011. Pembentukan berbarengan dengan tabligh akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Turut hadir dalam deklarasi dan pelantikan pengurus Kodam, Camat Siberut Selatan H Asril dan Ketua DKM Al Wahidin Sulaiman, serta sepuluh da’i asal Padang dan Sumatera Barat yang tergabung dalam kafilah Kodam. Ratusan masyarakat antusias mengikuti acara ini. Kodam diketuai Ustadz Shobir, dengan Ustadz M Siddik sebagai sekretarisnya.
Selaku Pembina Kodam, Irfianda Abidin menjelaskan lembaga ini dibentuk untuk lebih menata dakwah di Kepulauan Mentawai. Salah satu program Kodam adalah membangun pesantren pelajar di Desa Toleleudan Tuapejat.
Safari da’wah Kodam berlangsung 18-23 Pebruari. Selain di Desa Muara Siberut yang merupakan ibukota Kecamatan, para da’i juga mengarungi sungai dan laut untuk berdakwah di Desa Sarausau, Peipei, Toleleu, Rogdog, Salappa, Madobag, dan Matotonan. ‘’Kita prihatin dengan kondisi umat di Mentawai. Oleh Pemda dan turis mereka dilestarikan keprimitifannya dalam adat budaya lokal, dan oleh misionaris mereka dikristenkan,’’ tutur Irfianda.
Banyak pelajar muslim Mentawai yang ketika kembali ke rumah orangtuanya, kembali pula menjalani kehidupan adat seperti makan babi dan bergaul dengan anjing. Sedang muslimah Mentawai, bila menikah dengan pemuda setempat otomatis mengikuti agama suaminya. Contohnya seorang mantan aktivis majelis taklim Masjid Ikhwah Madobag, yang kini memeluk Nasrani lantaran mengikuti suaminya.
Khitan dan Sunat
"I’m ready but please help me to work,’’ kata Syahrul Gunawan (32) ketika akhirnya terpilih sebagai Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Ikhwah Desa Madobag, Mentawai, Ahad pagi 10 April lalu. Bapak dua anak yang tidak lancar berbahasa Indonesia namun fasih berbahasa Inggris, itu terpilih setelah melalui dua putaran pemungutan suara secara terbuka dan tertutup.
Pemandu wisatawan asing di Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, itu mengaku merasa pe-de menjadi Ketua DKM setelah menjalani khitan dan melangsungkan aqad nikah dengan istrinya dalam Progran Sunat & Nikah Massal Mualaf Siberut Selatan.
Program tersebut digelar oleh konsorsium ormas Islam yang terdiri LAZ Al Azhar Peduli Ummat, PPPA Daarul Qur’an, LAZIS Dewan Da’wah, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Majelis Mujahidin Indonesia Sumatera Barat, dan Kodam serta GPM Malaysia. Jamaah Masjid Besar Al Wahidin Muara Siberut dan masyarakat muslim setempat pun mendukung kegiatan ini.
Syahrul Gunawan salah satu dari 10 mualaf pengantin sunat yang berlangsung pada Selasa (5/4) di Desa Muara Siberut, Mentawai. Delapan orang diantaranya yang berasal dari Desa Madobag, sudah beristri dan beranak. Dua peserta lagi adalah siswa SMAN 1 Muara Siberut.
Sunatan berlangsung di ruang kelas Madrasah Al Washliyah Muara Siberut. Yang menangani Mantri Pak Wan dari Payakumbuh, Sumatera Barat.
Pada Sabtu (9/4) para pengantin sunat yang terdiri Syahrul Gunawan, Hasan, Andi, Pilipus, Taitai, Gejeng, Tuyak, dan Josep, kembali ke Madobag. Perjalanan dari Muara Siberut ke desa hulu itu ditempuh melalui sungai Sararekat selama 4 jam naik pompong (biduk kayu).
Sabtu sore, para pengantin sunat dan 4 pria lainnya, melangsungkan aqad nikah dengan istri adatnya masing-masing secara Islam di Masjid Al Ikhwah. Pernikahan dipimpin Ketua KUA Siberut Selatan, Rino Afrizuli, yang bertindak sebagai wali hakim. Sedang Ustadz Awal Dzul Islah dari Madobag dan Ustadz Zainal Muttaqin dari Rogdog berlaku sebagai saksi.
Laiknya pengantin, sebelum aqad nikah para mempelai wanita dirias oleh para relawati yaitu Amak Dahniar, Liza Zahara, Ny Upi, Ny Mansur, dan Ny Eka.
‘’Saya sampai pangling pada istri saya sendiri, kok dia jadi kelihatan cantik,’’ celetuk M Amin Carlo yang beristrikan Anjelikawati.
Aqad nikah massal sebelumnya juga dilangsungkan di Desa Saliguma, Siberut Tengah. Acara pada Rabu (6/4) ini diikuti 14 pasangan mualaf. Seorang diantaranya tanpa didampingi suami adatnya yang sedang membesuk orangtuanya yang sakit di desa lain. Ustadz Andreas, da’i setempat, pun menjadi wakil sang suami untuk melafalkan aqad nikah.
Selain busana lengkap pengantin khitan dan pengantin nikah, para peserta juga mendapat hadiah telekung (mukena). Sedang mahar nikah yang bernilai antara Rp 10 ribu sampai Rp 100 ribu, disediakan suami masing-masing.
Anjelikawati, mengaku hatinya sangat plong mengikuti acara ini. ‘’Alhamdulillah kini pernikahan kami sah secara agama,’’ kata pengurus majelis taklim Masjid Al Ikhwah Madobag itu.
‘’Melalui program ini, warga mualaf sah dan tercatat pernikahannya. Ini memudahkan mereka dalam urusan administrasi kependudukan,’’ terang Ketua KUA Siberut Selatan.
Awal Dzul Islah, pembina Masjid Al Ikhwah Madobag, berharap agar acara seperti ini dilanjutkan terus. ‘’Di Siberut ini masih banyak mualaf yang belum khitan dan menikah secara Islam,’’ katanya. ? (nurbowo)









