Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Kambing Hitam Dibalik Mbah Priok - Kambing Hitam Dibalik Mbah Priok Tuesday, 15 Ju... | Habib, Yang, Dan,

Kambing Hitam Dibalik Mbah Priok

altInvestigasi kerusuhan Priok 14 April 2010 lalu belum usai. Siapa yang berhak atas lahan seluas 5,4 hektar di Dobo, Priok, Jakarta Utara hingga kini masih diperdebatkan. Sementara polisi justru sibuk mencari kambing hitam di balik kerusuhan itu. Siapa yang bertanggung jawab?.

Berbicara tentang Mbah Priok bagai mengurai benang kusut. Banyak cerita, beragam versi. Jika tidak teliti akan menimbulkan kontroversi.

Sejarah Mbah Priok menurut ketua umum Font Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab, diawali dari keberadaan seorang ulama sekaligus saudagar ulung, Habib Abdullah bin Muhsin bin Abi Bakar Al Aththas yang hidup sekitar tahun 1800 masehi. Menurut Habib Rizieq, Habib Muhsinlah yang berdakwah di kawasan Priok dan merubah daerah itu dari sarang penyamun menjadi sarang santri. “Beliau wafat tahun 1860 dan dimakamkan di Dobo”, ungkapnya dalam pesan singkat (sms) yang diterima Suara Islam.

Selanjutnya, di awal tahun 1900, Habib Hasan Al-Haddad, seorang da'i muda dari Palembang ingin melanjutkan dakwah di Priok. Namun, belum sampai ke tempat tujuan ia mendapatkan musibah di perjalanan dan wafat dalam usia muda. Tak lama kemudian, adik almarhum Habib Hasan yakni Habib Zein Al-Haddad datang ke Priok untuk melanjutkan cita-cita kakaknya.

“Habib Zein adalah seorang ulama handal dan pedagang ulung. Beliau tampil sebagai tokoh di Priok dalam menjaga Islam. Beliau juga dermawan dan disegani Belanda”, jelas Habib Rizieq.

Jadi yang dinamakan Mbah Priok dan dimakamkan di TPU Dobo itu menurut Habib Rizieq ada tiga ulama. Pertama, Habib Abdullah bin Muhsin bin Abi Bakar Al Aththas yang wafat pada tahun 1860, kedua Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad yang wafat pada tahun 1904 dan ketiga, Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad (adik Habib Hasan) yang wafat tahun 1947.

Menurut Habib Rizieq, Habib Hasan wafat di usia muda dan tidak mempunyai keturunan maupun harta. Sedangkan yang mempunyai tanah seluas 5,4 hektar di Dobo berdasarkan verponding egendom adalah Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad. Ahli warisnya masih ada di Jakarta, termasuk Habib Ali Alaydrus yang saat ini mengurusi makam.

“FPI punya catatan sejarah lengkap dan akurat, nanti akan kita sampaikan ke gubernur untuk pelurusan sejarah”, tandasnya.

Lantas, bagaimana dengan cerita sejarah Mbah Priok yang berjudul Risalah Manaqib Maqom Kramat Situs Sejarah Tanjung Priuk?. “Bohong, cerita itu salah”, jawab Habib Salim bin Umar Al Aththas alias Habib Selon, salah satu keturunan Habib Abdullah bin Muhsin bin Abi Bakar Al Aththas.

“Apa yang dibuat oleh ahli waris mengenai tahun kelahiran, tahun berlayar, nggak akurat. Yang akurat yang kita dapati kapan meninggalnya, sebab ada nisannya. Kalau mau nanya keakuratannya ke rabithah (Rabitah Alawiyah, red)”, lanjut Panglima Laskar Aswaja ini.

Kejanggalan Risalah Manaqib itu juga diungkapkan oleh Tim Investigasi Palang Merah Indonesia (PMI). PMI menemukan perbedaan jangka waktu antara Habib Hasan Al Hadad yang dikatakan wafat pada tahun 1756 dan Habib Zein Al Hadad yang wafat tahun 1947 yang di dalam risalah maqam dikatakan bersaudara. Hal ini tentu tidak logis dan penuh tanda tanya. "Apabila mengikuti riwayat tersebut, maka Habib Zein berusia hampir 200 tahun" ujar Ketua Tim Investigasi PMI, Ulla Nachrawaty.

Perpindahan Makam dan Sengketa Lahan

Sebelum dipindahkan ke TPU Dobo tahun 1930, Habib Hasan dimakamkan di Pulau Pondok Dayung. TPU Dobo ini merupakan lahan seluas 5,4 hektar yang dijadikan makam wakaf keluarga Al Aththas.
”Awalnya Habib Abdullah bin Muhsin itulah yang memiliki tanah seluas 5,4 hektar di Dobo. Beliau berdakwah di situ dan mendapatkan tanah itu dari Belanda. Tapi beliau kan nggak mau ngurusin, jadi siapa aja yang datang mau tinggal di situ dari Jawa, dari mana-mana dikasih”, jelas Habib Selon.

Pada tahun 1997 (versi lain tahun 1994), dilakukan pemindahan makam dari Dobo ke Semper, Cilincing. Menurut wakil Walikota Jakarta Utara Atma Senjaya, seluruh kerangka di TPU Dobo dipindahkan ke TPU Budhidarma, Semper Timur, Jakarta Utara bersamaan dengan 32 rangka lainnya, termasuk tiga keluarga Al Aththas.

Namun, pada saat pemindahan makam Habib Hasan tidak dapat dipindahkan. "Saat makam lain dipindah, makam Mbah Priok (Habib Hasan, red) dipertahankan," kata Arkeolog Candrian Attahiyat yang saat ini menjabat Kepala Unit Pelaksana Teknis Kota Tua.

Pemindahan makam itu dilakukan karena lahan di Dobo itu telah ditukar dengan lahan milik PT. Pelindo di Semper pada tahun 1993. ”Tanah itu kalau versi saya sudah ditukar dengan lahan 12 hektar di Semper oleh pihak pemerintah. Sudah aman. Saya udah nggak ada urusan dengan tanah yang 5,4 hektar”, ungkap Habib Selon.

Sementara itu, ahli waris Habib Zein Al Haddad tetap bersikukuh bahwa lahan seluas 5,4 hektar itu adalah milik keluarganya. Klaim itu didasarkan atas bukti kepemilikan tanah Eigendom Verponding No. 4341 dan No. 1780. Di sisi lain, Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada tanggal 5 Juni 2002 telah  memutuskan bahwa tanah tersebut adalah milik sah PT Pelindo II, sesuai hak pengelolaan lahan (HPL) No. 01/Koja Utara dengan luas 1.452.270 meter persegi yang diterbitkan pada tanggal 21 Januari 1987.

Meski kalah di Pengadilan, ahli waris Habib Zein Al Hadad tetap mempertahanan dua bangunan yang ada di lahan seluas 5,4 hektare itu. Satu bangunan berukuran 10x8m digunakan Habib Ali Alaydrus, ahli waris makam, sebagai tempat tinggalnya bersama keluarga dan sekitar 20 orang santrinya. Sementara satu bangunan lagi, berukuran 8x6m adalah tempat makam Habib Hasan.

Sengketa tanah ini makin memuncak setelah PT Pelindo II atau Jakarta Indonesia Container Terminal (JICT) mencoba menggusur makam ini. Pemerintah Jakarta Utara juga ikut mengeluarkan surat perintah bongkar untuk membongkar makam itu. Akhir tahun lalu, misalnya, mereka sudah menyegel pagar makam itu. Sengketa itu kemudian meledak menjadi bentrokan berdarah pada hari Selasa, 14 April 2010. Korban pun berjatuhan.

Investigasi Kerusuhan Priok

Berbagai lembaga telah membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kerusuhan Priok. Diantaranya Komnas HAM, PMI dan DPRD Jakarta. Sampai saat tulisan ini dibuat, hanya Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan DPRD Jakarta saja yang belum menyampaikan hasil investigasinya. Komnas HAM, Pemerintah Provinsi, MUI, FPI, FBR, FUI dan sejumlah elemen lainnya kini juga sedang serius mengkaji projek pembangunan situs makam Mbah Priok.

S. Andyka, anggota TPF DPRD Jakarta  menilai sejauh ini ada aspek yang tidak disentuh oleh Komnas HAM dan PMI dalam hasil investigasinya, terutama peran PT Pelindo II. "Ada yang pesan nasi goreng, tapi pengennya cepet, nggak sabaran, akhirnya gosong nasi gorengnya. Nah Pelindo II kan yang mesen tapi kenapa selama ini perannya tidak pernah disebutkan," kata Andyka.

Sementara itu, Kadivhumas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar mengatakan tidak tertutup kemungkinannya organisasi massa yang mengkoordinir perlawanan terhadap Satpol PP dan Polisi untuk dijadikan tersangka. 

"Jika dalam pemeriksaan saksi-saksi mengatakan ada yang mengkoordinir massa maka akan kita teruskan, bisa jadi juga tersangkanya dari kalangan ormas," kata Boy Rafli, Rabu (19/5).

Ketua DPD FPI Jakarta Habib Selon membantah pernyataan itu. Habib Selon mengatakan tidak ada ormas yang menggerakkan atau memprovokasi massa dalam kerusuhan 14 April lalu itu. Menurutnya jumlah massa yang sangat banyak itu adalah spontanitas warga, termasuk ormas-ormas. ”Saat kerusuhan meletus di lapangan banyak sekali ormas, bahkan juga partai politik. Kalau mau diusut, diusut yang mana”, bantahnya.

Kedatangan FPI ke lokasi kerusuhan adalah  untuk menenangkan massa. ”Habib Rizieq bela-belain datang ke lokasi padahal dalam kondisi sakit”, ungkapnya.

Karena itu Habib Selon meminta agar polisi tidak mencari kambing hitam. Baginya, yang terpenting saat ini adalah pembangunan situs makam, akses jalan dan majelis taklim tetap berjalan.

Habib Selon balik mempertanyakan, jika alasan pemerintah membongkar makam Mbah Priok adalah untuk dibangun situs, kenapa yang didatangkan ribuan Satpol PP. ”Mengapa pemerintah tidak mendatangkan semen, pasir, batu dan tukangnya?”, tanyanya heran. Meledaknya kerusuhan Priok, malah disinyalir sebagai upaya pengalihan kasus Century dan Susno Duadji. Jadi siapa kambing hitamnya?. Wallahu a’lam. (
shodiq ramadhan)



 

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
 
Who's Online
We have 101 guests online
TV Suara Islam
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Komentar TV Islam
TERKAIT