Pemerintah, Muhammadiyah dan Arab Saudi Sama Idul Adha
Jakarta (SI ONLINE) Kalender Ummul Quro’ Pemerintah Arab Saudi menetapkan bahwa Wuquf di Arafah terjadi pada Sabtu (5/11/2011) dan Hari Raya Idul Adha 1432 H pada Ahad (6/11/2011). Demikian pula dengan Muhammadiyah yang telah menetapkan Idul Adha tahun ini jatuh pada Ahad (6/11/2011).
Sedangkan pemerintah melalaui Sekjen Kemenag Bahrul Hayat setelah melalui Sidang Itsbat Jum’at (28/10/2011) kemarin menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah 1432 H jatuh pada Jum’at (28/10) sehingga Hari Raya Idul Adha 1432 H jatuh pada Ahad (6/11).
“Memang tahun ini untuk penetapan Hari Raya Idul Adha 1432 H semua sama yakni jatuh pada Ahad 6 Nopember 2011,” ungkap Sekjen Kemenag Bahrul Hayat seusai Sidang Itsbat di Kemenag, Jum’at (28/10) kemarin. Sidang Itsbat dihadiri berbagai organisasi massa Islam seperti Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Persis, Jamiyatul Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan beberapa ormas Islam lainnya.
"Atas nama pribadi dan Kementerian Agama kami menyampaikan selamat Hari Raya Idul Adha 1432 Hijriyah," kata Bahrul Hayat. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI nomor 192 tahun 2011 tentang penetapan 1 Dzulhijjah 1432 H.
Sebelumnya Ketua Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kemenag Ahmad Jauhari melaporkan, ijtima` menjelang awal Dzulhijjah 1432H jatuh pada Kamis 27 Oktober bertepatan dengan 29 Dzulqlaidah sekitar pukul 02.56 dan saat matahari terbenam posisi hilal di seluruh Indonesia sudah di atas ufuk dengan ketinggian antara 4 derajat 25 menit sampai 6 derajat 34 menit.
Disebutkan, dari 46 lokasi pengamatan hilal atau rukyatul hilal, ada tiga lokasi yang menyatakan melihat hilal atau bulan baru. Tiga titik tersebut yaitu di Condongdipo, Gresik Jawa Timur, BasMall Kembangan, Jakarta Barat dan Mahad Al Husniyah Cakung, Jakarta Timur. "Mereka yang menyatakan telah melihat hilal telah disumpah oleh Hakim pada Pengadilan Agama setempat," kata Jauhari.
Sementara itu, Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin mengatakan, secara astronomi ketinggian hilal di seluruh Indonesia cukup tinggi sekitar enam derajat. "Hilal cukup tinggi, rukyat tidak perlu menggunakan alat. Namun demikian penentuan tidak bisa hanya berdasarkan observasi ilmiah, tetap harus berdasarkan kesepakatan," tegasnya.
Red: Abdul Halim
Sumber: Depag
“Memang tahun ini untuk penetapan Hari Raya Idul Adha 1432 H semua sama yakni jatuh pada Ahad 6 Nopember 2011,” ungkap Sekjen Kemenag Bahrul Hayat seusai Sidang Itsbat di Kemenag, Jum’at (28/10) kemarin. Sidang Itsbat dihadiri berbagai organisasi massa Islam seperti Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Persis, Jamiyatul Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan beberapa ormas Islam lainnya.
"Atas nama pribadi dan Kementerian Agama kami menyampaikan selamat Hari Raya Idul Adha 1432 Hijriyah," kata Bahrul Hayat. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI nomor 192 tahun 2011 tentang penetapan 1 Dzulhijjah 1432 H.
Sebelumnya Ketua Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kemenag Ahmad Jauhari melaporkan, ijtima` menjelang awal Dzulhijjah 1432H jatuh pada Kamis 27 Oktober bertepatan dengan 29 Dzulqlaidah sekitar pukul 02.56 dan saat matahari terbenam posisi hilal di seluruh Indonesia sudah di atas ufuk dengan ketinggian antara 4 derajat 25 menit sampai 6 derajat 34 menit.
Disebutkan, dari 46 lokasi pengamatan hilal atau rukyatul hilal, ada tiga lokasi yang menyatakan melihat hilal atau bulan baru. Tiga titik tersebut yaitu di Condongdipo, Gresik Jawa Timur, BasMall Kembangan, Jakarta Barat dan Mahad Al Husniyah Cakung, Jakarta Timur. "Mereka yang menyatakan telah melihat hilal telah disumpah oleh Hakim pada Pengadilan Agama setempat," kata Jauhari.
Sementara itu, Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin mengatakan, secara astronomi ketinggian hilal di seluruh Indonesia cukup tinggi sekitar enam derajat. "Hilal cukup tinggi, rukyat tidak perlu menggunakan alat. Namun demikian penentuan tidak bisa hanya berdasarkan observasi ilmiah, tetap harus berdasarkan kesepakatan," tegasnya.
Red: Abdul Halim
Sumber: Depag
Comments (1)
-
|2011-10-30 16:35:46 Babah Liem - Alhamdulillah!
Alhamdulillah! Akhirnya Iedul Adha jatuh pada hari yang sama untuk semua pihak. Kalangan sepilis, iblis yahudi dan salibis gigit jari, gak bisa ngomporin dan mengadu domba umat. Haha..
Nakh, begitu dong pemerintah (Dept. Agama) seharusnya: arif dan bijak serta mengayomi umat.
Selamat Iedul Adha dech bagi yang merayakan.
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta2











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...