Hari Raya Idul Adha Berpotensi Berbeda
Jakarta (SI-ONLINE) Kalau sebelumnya terjadi perbedaan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H, dimana Muhammadiyah menetapkan Selasa (30/8/2011) dan Pemerintah Rabu (31/8/2011), maka pada Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1432 nanti diperkirakan juga akan berbeda.
Muhammadiyah diperkirakan akan menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh Ahad (6/11/2011) dan Pemerintah Senin (7/11/2011).
Kepada Suara Islam Online di Kementerian Agama baru-baru ini, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin mengakui akan terjadi perbedaan pelaksanaan Idul Adha 1432 H nanti.
“Dalam tiga tahun mendatang, akan selalu berpotensi terjadinya perbedaan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, termasuk Hari Raya Idul Adha nanti,” ungkap Thomas Djamaluddin.
Menurutnya, dalam penetapan ketiga tanggal tersebut, Ilmu Falak atau Ilmu Astronomi wajib digunakan terutama ilmu asronomi yang berdasarkan dalil-dalil syar’i. Sehingga harus lebih mengedepankan imkanu rukyat daripada wujudul hilal.
“Karena itu saya mengusulkan adanya penyatuan kalender Islam di Indonesia, sehingga mengurangi potensi terjadinya perbedaan yang akan menimbulkan kebingungan di masyarakat. Penyatuan kalender Islam bukan hanya untuk ibadah saja, melainkan untuk persatuan diantara umat Islam,” ujar Ahli Astronomi lulusan AS tersebut.
Red: Jaka
Rep: Abdul Halim
Muhammadiyah diperkirakan akan menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh Ahad (6/11/2011) dan Pemerintah Senin (7/11/2011).
Kepada Suara Islam Online di Kementerian Agama baru-baru ini, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin mengakui akan terjadi perbedaan pelaksanaan Idul Adha 1432 H nanti.
“Dalam tiga tahun mendatang, akan selalu berpotensi terjadinya perbedaan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, termasuk Hari Raya Idul Adha nanti,” ungkap Thomas Djamaluddin.
Menurutnya, dalam penetapan ketiga tanggal tersebut, Ilmu Falak atau Ilmu Astronomi wajib digunakan terutama ilmu asronomi yang berdasarkan dalil-dalil syar’i. Sehingga harus lebih mengedepankan imkanu rukyat daripada wujudul hilal.
“Karena itu saya mengusulkan adanya penyatuan kalender Islam di Indonesia, sehingga mengurangi potensi terjadinya perbedaan yang akan menimbulkan kebingungan di masyarakat. Penyatuan kalender Islam bukan hanya untuk ibadah saja, melainkan untuk persatuan diantara umat Islam,” ujar Ahli Astronomi lulusan AS tersebut.
Red: Jaka
Rep: Abdul Halim
Comments (4)
-
|2011-09-16 23:48:30 Babah Liem - Beda lagi? Kebangeten, dekh!
Beda lagi, beda lagi. Lagi2 beda. Bosan, ah! Perhitungan rukyat atau pun hilal, hasilnya pasti sama. Wong bulannya satu! Kalau ternyata beda, berarti itu ulah manusianya yg tdk beres. Kecuali bulannya dua, baru hasilnya bisa beda. Kapan sih pemerintah bertindak bijak dan cerdas? Utamakan kemaslahatan umat, dong! Kalo gini terus, gak bakalan deh gua ikut pemerintah. Habis pemerintah memble terus, sih! Hihihihi.....
-
|2011-09-30 15:56:10 Danial Holimin
Hasil hisabnya pasti sama; menyikapinya yg berbeda. Rasanya, kalau masih mengaku ada pemerintah (ulil amri)yg sah, mengapa harus berbeda? Dan mengapa pemerintah tidak berani "memerintah" secara tegas kepada warga negaranya? Wassalam wr wb.
-
didalam seo yang kupelajari sih emang banyak jalan menuju ranking tinggi dalam SERP, tapi kalo buat nentukan tanggal hariraya dalam 1 pemerintahan, 1 wilayah,satu hukum, harusnya jangan banyak yang beda dong... harusnya ada 1 keputusan yang dibuat oleh 1 badan yang dibuat oleh pemerintah yang harus diikuti oleh semua masyarakat islam.
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta2











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...