Prof Dr Thomas Djamaluddin: Tinggi Bulan Masih Dibawah 2 Drajad
Jakarta (SI ONLINE) - Hari Raya Idul Fitri tahun ini dipastikan berbeda, yakni 30 Agustus dan 31 Agustus, berhubung pada saat ini posisi bulan cukup rendah untuk dilihat dengan mata telanjang.
"Tinggi bulan saat maghrib pada akhir Ramadhan di wilayah Indonesia sekitar dua derajat atau kurang." kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Dr Thomas Djamaluddin, di Jakarta.
Dikatakannya, Ormas Islam seperti Muhammadiyah dengan kriteria wujudul hilal memang sudah menghitung (hisab) dan menetapkan sejak jauh hari bahwa Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus. Namun ormas lainnya, seperti Nahdlatul Ulama termasuk pemerintah mengharuskan selain hisab perlu adanya kriteria imkan rukyat (visibilitas bulan sabit) dan Sidang Itsbat.
"Tetapi karena hilal sangat rendah, maka kemungkinan besar rukyat pada 29 Agustus akan gagal melihat hilal, sehingga Ramadhan digenapkan 30 hari dan diprakirakan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus," katanya.
Ditegaskannya, kalender nasional memang mencantumkan 30 dan 31 sebagai libur Idul Fitri, namun kepastiannya tetap menunggu sidang itsbat yang dihadiri seluruh pimpinan ormas Islam. Ia mengakui, perbedaan penentuan hari raya di Indonesia berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat, karena itu perlu ada solusi untuk menyatukan kriteria penentuan 1 Syawal.
Menurut dia, penyelesaian perbedaan penentuan hari raya bukan dengan memperdebatkan perbedaan dalil tentang rukyat (pengamatan) dan hisab (perhitungan), karena terbukti hal itu tidak pernah membuat tercapainya kesepakatan. "Astronomi bisa digunakan untuk menemukan titik temu tersebut dengan tetap berpijak pada dalil-dalil syar`i. Yakni titik temu antara faham rukyat dan hisab dengan konsep kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat)," katanya.
Berdasarkan tawaran titik temu tersebut, semua pihak diajak untuk membangun sistem kalender Hijriyah yang mapan yang setara dengan sistem kalender Masehi dan penyatuan di tingkat nasional akan menjadi contoh untuk memperluas di tingkat regional dan global.
Reporter: Abdul Halim
Sumber: Kemenag
"Tinggi bulan saat maghrib pada akhir Ramadhan di wilayah Indonesia sekitar dua derajat atau kurang." kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Dr Thomas Djamaluddin, di Jakarta.
Dikatakannya, Ormas Islam seperti Muhammadiyah dengan kriteria wujudul hilal memang sudah menghitung (hisab) dan menetapkan sejak jauh hari bahwa Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus. Namun ormas lainnya, seperti Nahdlatul Ulama termasuk pemerintah mengharuskan selain hisab perlu adanya kriteria imkan rukyat (visibilitas bulan sabit) dan Sidang Itsbat.
"Tetapi karena hilal sangat rendah, maka kemungkinan besar rukyat pada 29 Agustus akan gagal melihat hilal, sehingga Ramadhan digenapkan 30 hari dan diprakirakan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus," katanya.
Ditegaskannya, kalender nasional memang mencantumkan 30 dan 31 sebagai libur Idul Fitri, namun kepastiannya tetap menunggu sidang itsbat yang dihadiri seluruh pimpinan ormas Islam. Ia mengakui, perbedaan penentuan hari raya di Indonesia berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat, karena itu perlu ada solusi untuk menyatukan kriteria penentuan 1 Syawal.
Menurut dia, penyelesaian perbedaan penentuan hari raya bukan dengan memperdebatkan perbedaan dalil tentang rukyat (pengamatan) dan hisab (perhitungan), karena terbukti hal itu tidak pernah membuat tercapainya kesepakatan. "Astronomi bisa digunakan untuk menemukan titik temu tersebut dengan tetap berpijak pada dalil-dalil syar`i. Yakni titik temu antara faham rukyat dan hisab dengan konsep kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat)," katanya.
Berdasarkan tawaran titik temu tersebut, semua pihak diajak untuk membangun sistem kalender Hijriyah yang mapan yang setara dengan sistem kalender Masehi dan penyatuan di tingkat nasional akan menjadi contoh untuk memperluas di tingkat regional dan global.
Reporter: Abdul Halim
Sumber: Kemenag
Comments (11)
-
|2011-08-29 05:30:46 Babah Liem - Usul bagus!
Usul bagus utk memakai astronomi. Bulan cuma satu kok lebaran bisa beda? Itu khan aneh! Semoga semua pihak bisa menerimanya dengan lapang dada tanpa menonjolkan egoisme kelompok. Sudah waktunya umat Islam bersatu, tidak mudah diadu domba oleh pihak luar utk hal2 kecil. Singkirkan egoisme, wujudkan persatuan umat! Umat Islam itu bagaikan satu tubuh, khan?
-
|2011-08-30 16:54:07 widya agung - membangun kebersamaan
Menentukan 1 ramadhan dan 1 syawal sebenarnya tidak patut jadi bahan perdebatan, atau penyebab perbedaan karena obyek pengamatan adalah satu yaitu hilal. kegiatan mengamati hilal adalah berkaitan dengan aktifitas keduniaan yang tidak bisa di pisahkan dengan iptek. bantuan kemajuan iptek semestinya bisa jadi sarana untuk menyatukan pendapat. bagaimanapun kebersamaan menentukan 1 syawal merupakan pondasi untuk membangun penanggalan hijri minimal skala nasional.
-
|2011-08-31 17:00:50 ahlio kalindro - Lebaran pemerintah Ind tahun ini aneh
Lebaran pemerintah tahun ini. Biasanaya 1 syawal sesuai 1 syawal di tanggalan. Tapi tahun ini pemerintah menyalahi tanggalan yg dibuat. Memangnya tanggalan dibuat dengan ngitung kancing? Ada motif politik apa? Hny masy mencatat pres SBY memang ga suka dg Dien ketuam Muhammadiyah atas sikap kritisnya selama ini. Mdh2an ulama MUI tdk diperalat SBY. Wallahua'lam!wass
-
|2011-08-31 22:17:21 donie - penjelasan
http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-392-detail-penjelasan-majelis-ta rjih-dan-tajdid-pp-muhammadiyah-soal-penetapan-idul-fitri-besok.html
-
|2011-09-04 11:14:43 Dewi
Padahal, keliatan jg kan pake teropong? Kalo tetep hrs pake mata telanjang, mah ga usah-lah melibatkan Pak Thomas.
-
|2011-09-07 14:45:57 Babah Liem - SBY memang gak suka Muhammadiyah
SBY memang gak suka Muhammadiyah. Muhammadiyah kritis thd pemerintahan SBY. Sementara NU (Nunut Urip) pro SBY! Ada bocoran bhw NU mengirimkan fax ke Depag2 menuntut mrk utk menetapkan Iedul Fitri 31 Agustus 2011. Bukankah skrg NU dominan di Depag? Makanya dlm sidang penentuan Iedul Fitri mereka ngotot Iedul Fitri 31 Ag. 2011. Mrk sampai bilang ini masalah serius dan kami tdk main2, ada sejumlah Doktor dan Prof. yang mendukung keputusan mrk. Artinya ini sdh mencari pembenaran alias bohong! Dari dulu NU selalu berkhianat thd Islam, mulai dari pemerintahan Soekarno. Ditambah pemerintah bohong bhw sdh ada kesepakatan dg Malaysia, Brunei Darussalam, Singapore dll bhw Iedul Fitri 31 Agustus 2011. Buktinya ketiga negara yg dicatut ber Iedul Fitri 30 Ag. 2011. Makanya Menteri Agama sebaiknya mundur krn kebohongan mrk tdk cuma diketahui masyarakat Indonesia, tapi seluruh dunia yg mengikuti sidang tsb via TV! Sungguh memalukan!
-
|2011-09-08 11:00:38 wirfan
1 pertanyaan yang harus dijelaskan oleh para ahli astronomi secara jujur dan dibuktikan di forum terbuka :"Berapa derajat hilal bisa dilihat?"
-
|2011-09-09 10:33:59 elfarisi79 - Jangan Arogan, Please!
Assalamualaikum...
Apa yg disampaikan pak thomas itu kan pendapat/teori ilmiah yang beliau pahami, bagi yang gak cocok coba deh counter beliau dengan argumentasi yang ilmiah jg donk... jgn cuman ngiblat negara-negara lain yang kebetulan banyak yang lebaran selasa...
kl tiap orang ikutan komentar tanpa didasari ilmu ya ga akan ada titik temu, malah jurang pemisah n perpecahan kian berada di ambang mata.
afwan
-
|2011-09-09 22:16:42 Babah Liem - elfaris79
Kita gak cari perpecahan. Anda lihat hari Kamis tanggal 1 Sep. 2011 jam 18.30, bulan sudah gede? Apa mungkin kemarin lebaran terus hari ini bulannya sudah gede? Kita mesti kritis. Kita bukan ahli di bidang agama. Tapi kyai2 ahli falak jangan MENIPU rakyat, dong! Negara kita itu banyak awan. Jadi ada kemungkinan bulan tertutup awan. Harus ada diskusi ahli2 agama utk mencapai kesepakatan obyektif bersama demi kemaslahatan umat. Kenapa gak pakai ilmu pengetahuan saja? Lebih praktis dan obyektif! Di internet saja kita bisa lihat keadaan bulan, kok. Praktis, pragmatis, gak ribet!
-
|2011-10-22 10:28:24 fahmi - Menghargai dan menghormati perbedaan
Ada hal mendasar yang harus dipahami bersama bahwa kaum muhammadiyyin (warga muhammadiyah) meyakini tanggal satu dalam bulan hijriyah dimulai ketika hilal sudah di atas ufuk dan sebelumnya telah terjadi ijtimak dan ijtimak terjadi sebelum magrib. [b]Dengan demikian, tanggal satu dimulai bukan karena terlihat atau tidak terlihatnya hilal, bukan karena dua derajat ke atas atau kurang dari dua derajat.
Sementara warga nahdiyyin dan yang mendukung rukyat, meyakini bahwa tanggal satu dimulai dengan kriteria imkanurrukyat dua derajat.
Tentunya mereka semua memiliki landasan syar'i.
Semua hasil perhitungan posisi bulan kemarin (29-8-2011) menunjukkan bahwa posisi bulan kurang dari dua derajat, artinya semua mengakui bahwa hilal sebenarnya sudah wujud (ada) di atas ufuk, hanya memang tidak dapat dilihat. Yang memakai wujudul hilal tentunya sudah yakin tanggal satu yah 30 Agustus, sedangkan yang memakai imkanurrakyat dua derajat, yah 31 Agustus.
Untuk itu, tugas Prof. T. Djamaluddin seb...
-
|2011-11-02 14:00:53 Faiq Sulaifi - Perlunya Intervensi Pemerintah untuk Menyatukan Um
Penentuan puasa, lebaran dan kurban adalah ijtihad pemerintah bukan ijtihad individu ataupun ormas. Ini karena moment tersebut merupan syiar persatuan kaum muslimin. Beda dengan ijtihad qunut, bismillah pelan atu keras yang merupakan hak ijtihad individu. Silakan simak arikel saya di: http://sulaifi.wordpress.com/2011/09/22/berlebaran-bersama-pemerintah- syiar-persatuan-kaum-muslimin/
Semoga memberikan pencerahan untuk persatuan kaum muslimin.
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta2











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...